Politik
Prabowo Dorong Penghematan BBM, WFH Jadi Opsi Hadapi Dampak Krisis Global

Prabowo terapkan kemungkinan WFH untuk hemat BBM. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Presiden Prabowo Subianto mendorong langkah penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) serta membuka kemungkinan penerapan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai upaya mengantisipasi dampak ketidakpastian global.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3). Dalam rapat tersebut pemerintah membahas perkembangan konflik di kawasan Eropa dan Timur Tengah serta kesiapan menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Presiden menilai situasi global yang tidak menentu berpotensi memengaruhi harga energi dunia, termasuk harga BBM. Jika harga energi meningkat, kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga pangan di dalam negeri. Karena itu pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif sejak dini.
Menurut Presiden, Indonesia memang telah mengamankan sejumlah kebutuhan pangan pokok. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai kebijakan di sektor energi yang akan dipercepat implementasinya. Meski demikian, penghematan konsumsi BBM dinilai tetap penting untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dari krisis global.
Sebagai perbandingan, Presiden menyinggung sejumlah langkah penghematan yang dilakukan oleh Pakistan dalam menghadapi tekanan ekonomi dan energi. Negara tersebut antara lain menerapkan kebijakan WFH hingga 50 persen bagi pegawai pemerintah dan swasta serta mengurangi hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan.
Selain itu, pemerintah Pakistan juga memangkas gaji pejabat kabinet dan anggota parlemen, mengurangi penggunaan BBM untuk kendaraan pemerintah, membatasi pemakaian kendaraan dinas, hingga menghentikan sejumlah pengadaan barang seperti kendaraan, pendingin ruangan, dan perabot kantor. Kebijakan lain yang diterapkan adalah pembatasan perjalanan luar negeri yang menggunakan anggaran negara serta pengurangan kegiatan seremonial pemerintah.
Presiden menegaskan berbagai langkah tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah Indonesia untuk mengkaji kebijakan penghematan yang paling tepat.
Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19, menurut Presiden, menunjukkan bahwa sistem kerja dari rumah dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi konsumsi BBM secara signifikan. Oleh karena itu, ia meminta para menteri koordinator untuk membahas kemungkinan penerapan kembali skema tersebut.
Selain penghematan energi, Presiden juga menekankan pentingnya meningkatkan efisiensi pengelolaan anggaran negara. Pemerintah menargetkan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih seimbang guna menjaga stabilitas fiskal.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyoroti potensi kebocoran anggaran yang masih terjadi dalam pengelolaan pemerintahan. Ia menyebut pengembangan sistem pemerintahan berbasis teknologi atau GovTech yang dikoordinasikan oleh Dewan Ekonomi Nasional diperkirakan mampu mengurangi kebocoran anggaran hingga sekitar 40 persen dari total pengeluaran negara.
Di akhir arahannya, Presiden mengingatkan seluruh jajaran pemerintah untuk tetap waspada terhadap dinamika global, khususnya potensi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, pemerintah harus tetap bersiap menghadapi berbagai kemungkinan meskipun kondisi nasional saat ini masih relatif aman.***