Politik

Muncul Tabloid Anies Bikin Heboh, Dianggap Curi Start?

Published

on

Beredar tabloid dengan cover Anies Baswedan.(ist)

FAKTUAL-INDONESIA : Belum lama ini, beredar tabloid Anies Baswedan yang berisi profil Gubernur DKI Jakarta tersebut dan kesuksesan yang pernah dia raih di Jawa Timur.

Kemunculan tabloid dengan cover foto besar Anies tersebut menjadi sorotan. Tabloid diketahui disebar di sebuah masjid di Kota Malang, Jawa Timur. Banyak yang menduga tabloid menjadi alat untuk mendongkrak Anies di Pilpres 2024. Bahkan ada yang beranggapan promosi Anies lewat tabloid seperti curi start.

Menanggapi hal ini, Founder lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio atau Hensat menilai diseminasi informasi soal Anies melalui tabloid tak termasuk upaya curi start Pilpres 2024.

Menurut Hensat ihwal ini tak ubahnya dengan apa yang dilakukan figur-figur potensial capres lainnya melalui media sosial.

“Menurut saya ini bukan mencuri start-lah. Ini inisiatif pendukung aja dan itu banyak dilakukan. Ini kan kebetulan lewat tabloid. Pendukung-pendukung calon presiden yang lain kan juga banyak melakukan itu tapi lewat medsos kan jadi nggak ada bedanya sebetulnya,” kata Hensat seperti dikutip Detik.com, Rabu (21/9/2022).

Advertisement

Hensat menilai tabloid berisi kesuksesan Anies tak perlu dipersoalkan karena tak ada upaya menyerang sosok seseorang.

“Menurut saya wajar-wajar saja selama kontennya itu tidak menyerang orang lain dan yang saya tahu konten itu tidak menjelek-jelekkan orang lain, tidak melakukan black campaign kepada yang lain,” katanya.

Terkait tabloid itu disebarkan di masjid, menurut Hensat hal itu tak perlu jadi polemik. Dia juga tak sepakat jika penyebaran tabloid itu dikaitkan dengan isu politik identitas.

“Memang apa yang salah dengan menyebarkan informasi di masjid? Kan nggak salah juga. Terus kemudian tuduhan bahwa menyebarkan tabloid Anies di rumah ibadah itu politik identitas, masa iya?” lanjutnya.

Hensat melihat penyebaran tabloid pro-Anies itu pun tak dijalankan secara masif. Menurutnya, penyebarannya relatif terbatas tetapi ramai diperbincangkan di media sosial.

Advertisement

“Dan kemudian, peredarannya kelihatannya masih terbatas, ini kan ramai aja di media sosial. Kita nggak tahu siapa yang bikin,” katanya.

Lebih lanjut, Hensat mengingatkan agar hal ini tak serta-merta dianggap sebagai hal negatif dalam konteks menjelang pesta demokrasi. Hensat pun sangsi dengan pihak yang mengaitkan tabloid ini dengan isu politik identitas.

“Jadi jangan kemudian hal-hal ini dianggap sebagai sebuah hal negatif apalagi saya baca di medsos yang pertama menginformasikan ini menganggap dimulainya kampanye politik identitas. Lho, gimana? Tentang politik identitas aja nggak ngerti,” katanya.

Hensat menganggap pihak penyebar informasi soal tabloid Anies perlu memberikan klarifikasi. Hensat mengingatkan agar pihak tersebut tak serampangan dalam menyebarkan informasi sehingga memancing banyak spekulasi di publik.

“Jadi hal-hal ini sebetulnya justru harus segera diklarifikasi oleh orang yang menyebarkan informasi ini,” ujar dia.***

Advertisement

 

Exit mobile version