Politik

Dampak Abu Anak Krakatau Ditangani Terpadu, Pemerintah Siapkan OMC dan Pantau Potensi Tsunami

Published

on

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau telah menurun dalam rapat terbatas dengan Presiden secara daring pada 7 September 2026. (Foto : Tim Media Istana)

FAKTUAL-INDONESIA : Pemerintah terus memantau aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus menangani dampak sebaran abu vulkanik terhadap masyarakat dan aktivitas penerbangan. Meski aktivitas erupsi dilaporkan mulai menurun, pemerintah menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu mempercepat peluruhan abu serta memperkuat pemantauan potensi tsunami di sekitar Selat Sunda.

Hal tersebut disampaikan dalam rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dari Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video, Senin (7/9/2026).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan aktivitas erupsi Anak Krakatau saat ini telah menurun. Berdasarkan pemantauan BNPB, tingkat erupsi pada 2026 juga lebih rendah dibandingkan erupsi 2018.

“Untuk kondisi erupsinya ini sudah menurun. Kami membandingkan kondisi 2026 ini dengan erupsi 2018, di mana tingkat erupsinya lebih tinggi daripada 2026,” ujar Suharyanto.

Meski demikian, sebaran abu vulkanik sempat berdampak di DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatra Selatan. BNPB mencatat delapan bandara terdampak penutupan akibat abu vulkanik. Hingga laporan disampaikan, tidak terdapat korban jiwa, kerusakan, maupun daerah yang menetapkan status kedaruratan.

Untuk mengurangi dampak abu, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan OMC dengan memanfaatkan potensi hujan. Operasi tersebut disiapkan dari sejumlah titik, antara lain Pondok Cabe dan Kertajati, serta Semarang sebagai lokasi alternatif jika kondisi penerbangan di sekitar Selat Sunda belum memungkinkan.

Advertisement

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pola angin saat ini menunjukkan perkembangan positif karena telah bergeser ke arah barat, barat laut, dan barat daya. BMKG juga memperkirakan potensi awan dan hujan ringan hingga sedang pada 9–12 September 2026 di wilayah terdampak, yang akan diperkuat melalui OMC.

Sementara itu, hasil paper test di Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, dan Budiarto Curug menunjukkan hasil negatif terhadap debu vulkanik. BMKG juga terus berkoordinasi dengan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin untuk memperbarui informasi meteorologi penerbangan.

Selain penerbangan, pemerintah memperkuat pemantauan potensi tsunami. Sebanyak 20 perangkat pemantauan tsunami telah dipasang di sekitar Selat Sunda dan hingga kini tidak menunjukkan anomali kenaikan muka air laut yang berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau. Pemantauan juga didukung sensor seismograf dan high frequency radar.

Di sektor pelayaran, aktivitas kapal dalam radius tiga kilometer dari kawah Anak Krakatau dibatasi selama status gunung berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah memastikan pemantauan dilakukan secara intensif selama 24 jam melalui koordinasi lintas lembaga untuk menjaga keselamatan masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas penerbangan dan pelayaran.***

 

Advertisement
Exit mobile version