Connect with us

Politik

Presiden Jokowi: Perlu Sinkronisasi Kebijakan Tangani Perubahan Iklim

Avatar

Diterbitkan

pada

Presiden Jokowi saat berada di Glasgow, Skotlandia. (Biro Pers Setpres).

Presiden Jokowi saat berada di Glasgow, Skotlandia. (Biro Pers Setpres).

FAKTUAL-INDONESIA: Perubahan iklim menjadi salah satu pokok masalah yang saat ini selalu dibicarakan Presiden Joko Widodo dalam pertemuan dengan berbagai Negara, baik selama mengikuti Konferinsi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Roma Italia maupun saat berada di Glasgow, Skotlandia.

Presiden Jokowi memandang masalah perubahan iklim tidak dapat ditangani oleh satu Negara saja, melainkan harus ditangani secara bersama-sama. Dimana sinkronisasi kebijakan antara negara maju dan berkembang sangat penting untuk dilakukan.

Presiden menyampaikan hal ini ketika mengadakan pertemuan CEOs Forum dengan beberapa investor besar asal Inggris, di Glasgow, Skotlandia, Senin (1/11/2021).

“Kita semua, termasuk negara-negara maju, harus menunjukkan langkah lebih konkret dalam hal pengendalian iklim, terutama dalam hal dukungan pendanaan untuk negara-negara berkembang dalam melakukan transisi energi dari fossil fuel ke renewable energy,” kata Presiden.

Presiden mengharapkan pendanaan adaptasi sebesar 100 miliar dolar AS dari negara maju segera dipenuhi guna mempercepat upaya penanganan perubahan iklim.

Advertisement

“Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan langkah konkret dalam hal pengendalian iklim. Laju deforestasi kita saat ini yang paling rendah selama 20 tahun, tingkat kebakaran hutan berkurang 82 persen. Indonesia juga akan melakukan restorasi sebesar 64 ribu hektare lahan mangrove. Ini sangat penting karena mangrove menyimpan karbon 3-4x lebih besar dibandingkan lahan gambut,” tutur Presiden.

Presiden percaya bahwa Indonesia akan dapat memenuhi komitmen pada tahun 2030 di dalam Paris Agreement, yaitu pengurangan emisi sebesar 29 persen secara unconditional.

“Indonesia telah mengadopsi Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim 2050, serta road map yang detail untuk mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih awal,” ujar Presiden.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyampaikan bahwa isu yang dihadapi dunia adalah bagaimana dunia bisa segera mengatasi pandemi Covid-19 sehingga pemulihan ekonomi dunia bisa berjalan lebih cepat. Kepala Negara menjelaskan bahwa saat ini, kondisi Covid-19 di Indonesia sudah sangat membaik.

“Jumlah kasus harian sudah turun sangat jauh dari puncaknya 56 ribuan kasus di 15 Juli 2021 menjadi hanya sekitar 400-700 kasus dalam minggu-minggu terakhir ini. Indonesia juga sudah menyuntikkan lebih 187 juta dosis vaksin. Dan sampai dengan akhir tahun lebih dari 50 persen penduduk Indonesia sudah akan menerima dosis 2,” kata Presiden. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca