Connect with us

Politik

Hilang ! Patroli Prajurit TNI Tidak Temukan 144 Patok Batas RI-Malaysia di Wilayah Timur Kalbar

Avatar

Diterbitkan

pada

Foto dokumentasi prajurit TNI berfoto di patok perbatasan negara. (Istimewa)

SUARAKARYA.ID: Patok batas dua negara mempunyai arti sangat penting bagi kedua negara karena menyangkut wilayah kedaulatan negara. Jika patok itu hilang,  bergeser dari posisi semula, atau rusak maka hal itu bukan masalah sepele.

Prajurit TNI yang bertugas seperti di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia atau perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini, secara berkala melakukan patroli untuk mengecek keberadaan patok perbatasan.

Perjuangan berat sering dihadapi prajurit TNI untuk mengecek patok perbatasan, karena mereka harus melalui rintangan alam seperti rawa, sungai, hutan lebat dan lainnya.

Mereka gembira bila menemukan patok batas yang dituju masih baik kondisinya di posisi seharusnya. Namun bisa jadi patok yang dituju tidak ditemukan alias hilang. Hal ini tentu harus mereka laporkan kepada pimpinan mereka.

Terkait patok yang hilang, kini terjadi di perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Kalimantan Barat. Komandan Satuan tugas pengamanan perbatasan (Dansatgas Pamtas) RI-Malaysia Yonif 144/JY Letkol Inf Andi Suratman menyatakan 144 patok batas hilang selama  bertugas mengamankan perbatasan sejak 1 Juni 2021 hingga 28 Februari 2022, di wilayah Timur, Kalimantan Barat.

Advertisement

“Berkali-kali kami melakukan patroli memastikan keberadaan patok batas, namun tidak ditemukan dan kami nyatakan 144 patok batas RI-Malaysia hilang, itu sudah kami sampaikan berjenjang kepada pimpinan,” kata Letkol Inf Andri Suratman, saat menyampaikan paparannya pada Rapat koordinasi dengan Tim Kemenko Polhukam, di Gedung DPRD Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Selasa (8/3/2022).

Disampaikan Andri, jumlah patok batas di wilayah penugasan operasi Yonif 144/JY di tiga kabupaten wilayah Timur Kalimantan Barat sebanyak 2.416 patok batas, 77 patok diantaranya kondisi rusak dan sebanyak 144 patok batas dinyatakan hilang.

Menurut dia, patok batas yang hilang tersebut disebabkan banyak faktor diantaranya kondisi alam. “Banyak hilang karena faktor alam longsor dan sebagainya,” ucap Andri.

Dalam kesempatan tersebut, Andri juga menyebutkan di daerah perbatasan RI-Malaysia di wilayah operasinya terdapat 31 jalur tidak resmi atau yang biasa dikenal dengan istilah “jalan tikus”.

Ia menjelaskan jalan tikus yang dimaksud merupakan jalan yang biasa digunakan masyarakat, bahkan bisa dilalui menggunakan kendaraan roda empat.

Advertisement

“Kami lakukan patroli secara rutin, kami juga menggagalkan penyeludupan satu unit mobil mewah asal Malaysia, yang saat ini sudah di lelang dengan harga kurang lebih Rp1 miliar,” ucapnya.

Andri mengatakan ada beberapa hal menonjol yang terjadi di daerah perbatasan diantaranya masih ditemukan penyeludupan minuman keras, narkoba jenis sabu, rokok ilegal serta kepemilikan senjata api masyarakat secara ilegal.

Meski pun, demikian Andri mengakui rasa nasionalisme dan patriotisme warga perbatasan cukup tinggi.

Andri menuturkan warga perbatasan turut serta menjaga kedaulatan NKRI, rasa memiliki dan kebanggaan terhadap NKRI cukup tinggi.

“Saat ada patok batas rusak atau bergeser oleh aktivitas perkebunan sawit, warga melaporkan kepada kami, meski pun mereka (warga) sebagai karyawan kebun sawit Malaysia, namun warga perbatasan memiliki rasa menjaga dan memiliki atas kedaulatan NKRI,” tutur Andri.

Advertisement

Untuk memupuk rasa patriotisme dan kecintaan terhadap NKRI, Andri juga mengaku telah melakukan berbagai kegiatan sosial dalam membantu meringankan kesulitan masyarakat.

“Kami membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial, rutin kami lakukan pengobatan gratis dari pintu ke pintu, membantu warga di ladang dan melakukan bakti sosial pembangunan infrastruktur dasar kebutuhan masyarakat,” jelasnya dilansir antaranews.com.

Lebih lanjut, Andri mengatakan di tengah pandemi COVID-19, personil Satgas Pamtas Yonif 144/JY juga membantu tenaga medis dalam percepatan vaksinasi.

Sementara itu, Asisten Deputi Koordinasi wilayah Perbatasan dan Tata Ruang Pertahanan Kemenko Polhukam Brigjen TNI Suteikno Suleman mengatakan persoalan di daerah perbatasan tersebut akan menjadi bahan analis dalam pengambilan kebijakan kedepannya dalam rangka mewujudkan ketahanan dan keamanan negara di daerah perbatasan.

Dikatakan Suteikno, dari beberapa paparan baik dari pemerintah daerah, Kodim 1206 Putussibau dan Satuan tugas pengamanan perbatasan (Satgas Pamtas) terdapat beberapa persoalan seperti pembangunan infrastruktur dasar, bidang ekonomi dan serta persoalan jalan ilegal (jalan tikus), kepemilikan senjata api ilegal dan juga berkaitan dengan listrik serta telekomunikasi di daerah perbatasan Kapuas Hulu.

Advertisement

Menurut dia, berbagai usulan dan persoalan yang dipaparkan dalam rapat tersebut akan di tindaklanjuti melalui rapat di Kemenko Polhukam termasuk juga dengan lintas kementerian terkait.

“Kami akan berupaya mengingatkan kembali kepada sejumlah kementerian terkait, yang berkaitan dengan usulan dan harapan pemerintah daerah,” kata Suteikno. ***

Lanjutkan Membaca