Home Politik Bukan Karbitan, Puan Maharani Pantas dan Layak Maju Jadi Presiden di Pilpres 2024

Bukan Karbitan, Puan Maharani Pantas dan Layak Maju Jadi Presiden di Pilpres 2024

oleh Bambang

Akademisi dari Universitas Islam As-Syafi’iyah, Bambang Haryanto. (ist)

FAKTUAL-INDONESIA:   Dengan berbagai parameter elektabilitas Puan Maharani sangat layak menjadi Presiden Republik Indonesia. Jika diukur dari variabel elektabilitas seperti kapabilitas, integritas dan populeritas, elektabilitas Puan Maharani berpeluang besar, punya modalitas yang cukup bertanding di Pilpres 2024-2029, bukan hanya karena trah Soekarno, tapi karena capaian kepemimpinan dirinya selama ini.

Akademisi dari Universitas Islam As-Syafi’iyah, Bambang Haryanto, menilai Puan Maharani sudah sangat layak diusung sebagai Capre, ketika berbicara dengan wartawan, Kamis (7/10/2021), di Jakarta.

“PDI-P harus bangga punya kader seperti dia, bukan kader kaleng-kaleng, peluang menang juga besar jika ditangani secara benar, ”kata Bambang, Kamis (8//10/2021).  “Jika kita melihat rekam jejak dan fakta,  Puan  bukan kader karbitan atau orbitan, punya sejumlah kriteria yang dibutuhkan. Dari aspek kapabilitas Puan sudah pada level kepemimpinan nasional. Menjadi Menko sudah, berkarir di parlemen mulai dari anggota, ketua fraksi dan sekarang menjadi perempuan pertama Ketua DPR RI. Sudah pada level puncak di eksekutif maupun legeslatif. Ini bukan cuma prestasi tapi prestisius. Tidak mudah untuk mencapai level ini,” sambungnya.

Menurutnya,  sosok Puan seperti Halimah Yacob. Karirnya hampir sama, berasal keturunan Minang pula. Bedanya kalau Halimah Yacob kini Presiden Singapura. Bukan tidak mungkin Puan Presiden 2024-2029.

Ketika ditanya mengapa begitu optimis, sementara sejumlah hasil survey Puan tergolong rendah, Bambang  yang juga seorang Wakil Rektor menjelaskan tidak elok dirinya komentar produk akademis. “Tidak elok saya mengevaluasi survey, itu produk akademis meski bukan tanpa cela, tapi mungkin karena itu yang saya lihat PDI-P masih kurang yakin. Sehingga isu pencapresan memunculkan dua spekulasi yang arahnya menurut saya bisa keliru,” jelas Bambang. “Pertama; Puan akan dipasangkan dengan Prabowo Subianto ; Kedua; PDIP akan mengusung calon kandidat lain, satu diantaranya adalah yang didengungkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, meski tentu ini bukan sesuatu yang haram.”

Ditambahkannya, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan atas dua “isu” tersebut adalah, atas dasar apa Puan dicalonkan hanya sebagai calon Wapres mendampingi Prabowo Subianto, mengapa tidak sebaliknya? Hanya karena ingin memenuhi perjanjian Batu Tulis-kah? “ Prabowo memang Menteri tapi bukan Menko, tidak punya pengalaman di Parlemen meski ketua umum, Gerindra memang partai besar tapi PDI-P yang terbesar,” ucap Bambang. “Kemudian apakah karena pertimbangan beberapa survey yang mengunggulkan Ganjar Pranowo sehingga PDI-P seperti terasa ragu untuk menghadirkan Puan? Mudah-mudahan karena ada kalkulasi lain yang menjadi alasan strategis bagi PDI-P untuk tidak terlalu dini mencapreskan Puan? Sebab memang 2024-2029  adalah momentum bagi trah Soekarno untuk melanjutkan kepemimpinan nasional dan apakah akan tetap menjadi pengendali PDI-P untuk waktu-waktu selanjutnya. Ini tentu pertaruhan besar yang harus dihitung cermat. Suksesi juga jadi faktor pertimbangan,” lanjutnya. ****

Tinggalkan Komentar