Connect with us

Politik

Pilpres 2024: Ganjar Serukan Lawan Intimidasi dengan Gerakan Rakyat Konstitusional

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo bersama istri dan anak memberi salam kepada warga dalam kampanye akbar di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/2/2024).

Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo bersama istri dan anak memberi salam kepada warga dalam kampanye akbar di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/2/2024).

FAKTUAL INDONESIA: Ada tiga pesan yang disampaikan calon presiden (Capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo dalam kampanye terbuka bertajuk “Hajatan Rakyat Bogor” di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Salah satu pesan Ganjar menyangkut tentang tindakan intimidasi yang jelas menyimpang dari moral demokrasi di Tanah Air.

Ganjar menyerukan agar rakyat melawan intimidasi yang terjadi dengan cara konstitusi, yakni mencoblos nomor urut 3 pada hari pemungutan suara 14 Februari 2024.

“Kita akan melawan dengan cara yang benar. Cara konstitusional lewat gerakan rakyat. Bagaimana cara melawan yang baik? Tanggal 14 (Februari) datang ke TPS (tempat pemungutan suara), gunakan kekuatan rakyat, coblos nomor? (hadirin: tiga). Itulah suara rakyat sejati,” kata Ganjar.

Perlawanan terhadap intimidasi itu merupakan pesan kedua dari 3 pesan yang disampaikan kepada puluhan ribu warga yang hadir dalam kampanye itu.

Advertisement

Untuk pesan pertamanya, Ganjar menyampaikan, biarkan masyarakat menilai pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud Md, termasuk melalui program-program yang diusung. Misalnya, program 1 Desa 1 Faskes 1 Nakes dan KTP Sakti.

“Kenapa Ganjar-Mahfud bicara agar KTP bapak, ibu, menjadi bermanfaat? Maka seluruh kartu yang banyak kita satukan di KTP Sakti agar mereka yang harus dapat bantuan BLT (Bantuan Langsung Tunai), PKH (Program Keluarga Harapan), pupuk, semuanya tepat sasaran,” ujar Ganjar.

Ganjar membiarkan rakyat menilai karena seluruh program dirinya bersama calon wakil presiden Mahfud Md sudah disampaikan ke publik. Kemudian, seluruh debat juga telah dilakukan sehingga sekarang saatnya rakyat menilai.

Terakhir, Ganjar menitipkan pesan kepada warga Kabupaten Bogor menemui rakyat dan mengajak ke TPS untuk mencoblos pasangan Ganjar-Mahfud.

“Temui rakyat dalam beberapa hari ini, ajak mereka ke TPS. Dengarkan suara mereka dan ajaklah latihan nyoblos nomor, nyoblos nomor berapa? Nomor 3? Yakin? Yakin? (hadirin: Yakin),” kata Ganjar.

Advertisement

Soal Hidup

Ganjar Pranowo mengatakan rakyat tidak berteriak soal oligarki, dinasti politik, korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), dan lain sebagainya, namun yang diteriakkan oleh rakyat adalah soal kehidupan sehari-hari.

Ganjar mengatakan hal itu dia dengan langsung saat menginap di rumah warga saat berkampanye ke berbagai daerah di Indonesia.

“Mungkin saya adalah salah satu atau satu-satunya capres yang kalau kampanye tidur di rumahnya rakyat. Kami bisa ngomong di dapur bersama ibu-ibu bersama mbok-mbok. Mereka tidak teriak, mereka tidak teriak oligarki, mereka tidak teriak anti KKN, mereka tidak teriak politik dinasti, mereka tidak teriak intimidasi,” kata Ganjar dalam acara Surat Cinta Alumni Kampus Jawa Barat untuk Ganjar-Mahfud di Jakarta, Jumat.

Menurutnya perjalanan kampanye ke lebih dari 450 titik di berbagai wilayah di Indonesia bisa membuatnya melihat langsung keadaan masyarakat di akar rumput.

Advertisement

Ganjar mengungkapkan yang diteriakkan rakyat adalah soal hidup mereka sehari, mulai dari harga bahan pangan, hingga soal putra-putri mereka yang belum juga mendapatkan pekerjaan.

“Yang diteriakkan adalah ‘Pak Ganjar kopinya di minum.’ Kalau kami ngobrol, ibu sudah masak belum? ‘Ini saya masakkan untuk Pak Ganjar’. ‘Saya boleh tanya Pak Ganjar kenapa berasnya Rp14.000 enggak turun-turun kenapa gula Rp18.000?’” ujar mantan gubernur Jawa Tengah itu.

Capres berambut putih itu mengatakan dirinya pernah mengalami berada di posisi tersebut dan menegaskan akan menyusun kebijakan inklusif sehingga tidak ada rakyat yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Tolong kalau soal debat, kampanye, jangan ajari saya untuk merasakan, karena saya mengalami. Untuk tahu bagaimana membantu mahasiswa, membantu orang miskin punya akses kesehatan, pendidikan, tidak perlu mengajari saya, bukan saya sombong, karena saya mengalami,” tuturnya. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca