Home Opini Inisiasi Relawan, Politik ‘Kaki Lima’ di Alam Demokrasi

Inisiasi Relawan, Politik ‘Kaki Lima’ di Alam Demokrasi

oleh Marpi
Markon Piliang

Markon Piliang

Oleh Markon Piliang

FAKTUAL-INDONESIA: Ada fenomena baru yang muncul di dunia politik Indonesia. Sejumlah elemen masyarakat mendeklarasikan diri sebagai relawan pendukung salah satu tokoh yang digadang-gadang menjadi calon presiden pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Hebatnya, nama-nama yang diusung relawan adalah mereka yang masih berstatus sebagai pejabat aktif. Baik sebagai menteri maupun guberbur. Presiden Joko Widodo pun agaknya bergeming melihat dinamika yang muncul. Tanpa suara, tanpa kata, ia diam kecuali melihat ini sebagai fenomena baru yang berkembang di Tanah Air.

Nama-nama yang sudah diapungkan relawan di antaranya Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menparekraf Sandiaga Uno, Menhan Prabowo Subianto, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Mungkin nanti akan muncul nama-nama lain yang dianggap layak untuk diadu pada Pilpres 2024. Bisa saja nanti Ketua DPR RI Puan Maharani, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan banyak lagi yang lainnya. Mana tahu dari kalangan pensiunan Jenderal akan ada nama yang muncul sebagai petarung.

Bagi tokoh-tokoh yang dideklarasikan, tentu saja ini promosi yang dapat menaikkan ektabilitas pribadi. Meski yang diusung belum tentu mengetahui atau seizin sang calon, paling tidak fenomena ini merupakan promosi gratis bagi seorang calon.

Di alam demokrasi munculnya relawan-relawan seperti ini tentu sah-sah saja. Fenomena ini adalah bentuk penyaluran aspirasi yang selama ini dirasa tersumbat, atau banyak calon namun tidak ada yang sesuai dengan kehendak hati sang pemilih.

Maka dengan mengusung calon presiden lewat deklarasi seperti ini mereka dapat memuaskan diri menyalurkan aspirasi politiknya sesuai keinginan. Bahkan semakin banyak relawan yang muncul tentu akan semakin baik bagi seorang calon menaikkan popularitas. Mereka tidak perlu lagi melakukan pencitraan dimana-mana.

Efek lain dari kondisi seperti ini adalah terjadinya pertarungan di tingkat akar rumput. Saling memengaruhi untuk menggaet dukungan akan terjadi, seperti halnya pedagang kaki lima merayu para pembeli di pinggir jalan. Jadi, fenomena yang muncul seperti ini bisa juga disebut Demokrasi ‘Kaki Lima’, dimana sang calon secara tidak langsung sudah mendapat promosi dengan biaya murah.

Tokoh-tokoh yang diusung para relawan pun kelihatannya belum mau merespons pendukungnya secara terang-terangan. Karena ini baru semacam pertarungan awal menjelang Pilpres 2024. Rata-rata mereka ‘cek ombak’ lebih dulu. Berhitung untung rugi, karena Pilpres masih jauh.

Kehadiran relawan ini adalah salah satu bentuk inisiasi masyarakat secara sukarela. Maka tak ada kewajiban bagi calon yang didukung untuk  mengeluarkan biaya atau ongkos politik. Pada intinya mereka hanya menyuarakan hak untuk berpartisipasi dengan berkolaborasi mengusung tokoh politik yang dijagokan.

Tapi jangan anggap enteng kehadiran mereka. Posisi relawan menjadi sangat penting ketika melihat bahwa demokrasi di negeri ini sangat mahal. Posisi relawan menjadi menarik karena dibangun atas partisipasi kolektif yang mengandalkan kesukarelaan.

Perlu diingat, dengan munculnya relawan dapat menjadi alternatif bagi isu cost demokrasi yang terlalu tinggi. Berlandaskan dengan sukarela yang memiliki ‘interest group’, baik relawan maupun tokoh politik bisa membangun kolaborasi sekaligus jaringan yang lebih luwes. Tentu saja, hal ini bisa menjadi potensi yang mungkin tidak dimiliki orang-orang  yang menempuh jalur politik formal.

Eloknya, bila satu calon bisa merawat dan mengawal relawan yang sudah mendeklarasikan dukungan, ini akan menjadi tabungan suara di kemudian hari. Efek domino terhadap berkumpulnya para relawan ini akan bergulir bagai bola salju, dimana semakin menggelinding kian jauh maka akan semakin besar dukungan itu.

Boleh dibilang ini kontruksi awal, pondasi dari sebuah bangunan politik yang akan tetap digelorakan menuju Pilpres 2024. Tinggal nanti bagaimana masing-masing calon memanfaatkan kondisi ini, bertarung di kancah politik dengan biaya ‘kaki lima’ alias murah.

Adanya inisiasi relawan yang sudah terbentuk sejak dini, dapat membangun dukungan suara organik yang lebih baik. Biasanya mereka yang menjadi relawan dengan mendukung seorang calon adalah para militansi yang sulit digoyahkan untuk pindah ke lain hati.

Pasalnya, mereka membentu kelompok relawan berdasarkan kecintaan terhadap seorang calon, atau ingin sosok yang diusungnya sampai ke jabatan presiden karena menganggap calon mereka pantas untuk memimpin negeri ini. Melanjutkan tongkat estafet yang akan ditinggalkan Presiden Joko Widodo yang sudah tidak dapat lagi mencalonkan diri karena sudah dua periode menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Sementara bagi relawan yang mayoritas terdiri dari kaum muda, ini adalah kesempatan mereka untuk memulai masuk pintu gerbang politik. Lewat relawan mereka akan belajar dan memetik pengalaman berharga. Bukan tidak mungkin 5 atau 10 tahun ke depan ada di antara mereka yang ikut bertarung di kancah politik, dengan memulainya masuk Kompleks Senayan sebagai anggota Dewan.

Untuk menjadi sesuatu di tengah masyarakat itu pasti perlu proses. Proses inilah yang sekarang mulai dimainkan para relawan untuk mencari pengalaman dan membangun jaringan sebanyak mungkin dengan para tokoh yang telah sukses di panggung politik.

Pepatah Minang mengatakan: Alam takambang jadi guru! Jadi kita harus belajar dari pengalaman, karena orang-orang sukses itu selalu belajar dari masa lalu. ***

 

  • Penulis adalah wartawan dan Novelis