Olahraga

Setelah Investigasi, TGIPF Kumpulkan Sejumlah Temuan di Tragedi Kanjuruhan

Published

on

TGIPF Kumpulkan Sejumlah Temuan di Tragedi Kanjuruhan

Setelah Investasgi, TGIPF Kumpulkan Sejumlah Temuan di Tragedi Kanjuruhan

FAKTUAL-INDONESIA: Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) menemukan temuan baru pada tragedi Kanjuruhan. Informasi tersebut didapatkan dari unsur panitia penyelenggara (Panpel) di lapangan, unsur steward, hingga security officer.

“Kami atau TGIPF sudah mendapat kemajuan ketemu semua unsur keamanan yaitu kepolisian plus Brimob dan unsur TNI dari jajaran pengendali lapangan yaitu Zipur 5, Kodim 0818 dan didukung unsur POM yang terkait serta beberapa kelengkapan lain yang berkaitan dengan keamanan,” kata Anggota TIGPF Insiden Kanjuruhan yag juga Wakil Ketum 1 KONI Mayjen TNI (Purn) Suwarno, melalui Kanal Youtube Kemenko Polhukam, Minggu (9/10/2022).

Menurutnya, pihaknya bersama anggota tim lainnya juga telah melihat stadion Kanjuruhan dan mendapatkan sejumlah informasi sebagai penguatan dan ini akan dijadikan sebagai masukan setelah nanti diolah di Jakarta.

Baca juga: Donasi Korban Kanjuruhan, Airlangga dan Ahmad Dhani Dewa 19 Manggung hanya beberapa jam Raih Rp 300 Juta

Tim juga telah sudah bertemu beberapa perwakilan Aremania yang merasakan langsung Insiden di Kanjuruhan sehingga harapannya tim akan mendapatkan masukan-masukan yang konferenship dari di semua unsur baik masyarakat di Malang khususnya para penonton.

“Kami berharap semakin konferensip informasi yang kita peroleh dan akan kita olah nanti di Jakarta sebagai bahan untuk penyusunan laporan,” ujarnya.

Advertisement

Sementara itu, anggota TGIPF Nugroho Setiawan mengungkapkan temuan terbaru dari investigasi. Petama, Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, tidak layak untuk menggelar pertandingan dengan risiko tinggi atau high risk.

“Kesimpulannya sementara bahwa Stadion ini tidak layak untuk menggelar pertandingan high risk match. Mungkin kalau itu medium atau low risk masih bisa,” kata anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan, Nugroho Setiawan, seperti dikutip dari akun YouTube Kemenko Polhukam, yang dikutip  Senin (10/10/2022).

Baca juga: Menelan 131 Korban Tewas, Polri Revisi Regulasi Pengamanan Penyelenggaraan Olahraga Imbas Tragedi Kanjuruhan

Kedua, TGIPF menemukan akses anak tangga di Stadion Kanjuruhan tidak ideal untuk kondisi ramai serta kondisi railing tangga yang tidak terawat. Ia menuturkan bahwa merujuk safety discipline, ada ukuran tertentu yang menjadi standar pembuatan anak tangga di stadion.

“Kemudian juga mempertimbangkan aspek akses seperti anak tangga. Anak tangga ini kalau secara normatif di dalam safety discipline, ketinggian 18 cm lebar tapak 30 cm ini tadi antara lebar tapak dan ketinggian sama rata-rata mendekati 30 cm. Jadi intinya gini kalau dengan ketinggian normal tadi tinggi 18 dan lebar tapak 30 ini kita berlari turun, berlari naik itu tidak ada kemungkinan jatuh,” ujar Nugroho.

Ketiga, Nugroho membeberkan hasil pemantauan dari rekaman CCTV di pintu 13 Stadion Kanjuruhan. Dia mengatakan detik-detik korban tertumpuk dan tewas di pintu tersebut terekam kamera CCTV.

Advertisement

“Sempat melihat rekaman CCTV kejadian khususnya di pintu 13. Mengerikan sekali. Jadi situasinya adalah pintu terbuka tapi sangat kecil yang itu seharusnya pintu untuk masuk, tapi terpaksa menjadi pintu keluar,” terang Nugroho.

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan, Jokowi: Indonesia Tidak Disanksi FIFA

“Situasinya adalah orang itu berebut keluar, sementara sebagian sudah jatuh pingsan, terhimpit, terinjak karena efek dari gas air mata. Jadi ya miris sekali. Saya melihat detik-detik beberapa penonton yang tertumpuk dan meregang nyawa terekam sekali di CCTV,” sambungnya.

Terakhir, Nugroho mengatakan bahwa efek dari zat yang terkandung dalam gas air mata yang ditembakkan polisi, luka para korban memerlukan waktu paling cepat satu bulan untuk sembuh.

“Tim juga menghubungi korban, melihat korban, bahkan sempat menyaksikan perubahan fenomena trauma lukanya dari menghitam, kemudian memerah dan menurut dokter itu recovery-nya paling cepat adalah satu bulan. Jadi efek dari zat yang terkandung di gas air mata itu sangat luar biasa. Ini juga patut dipertimbangkan untuk crowd control di masa depan,” pungkasnya.***

Advertisement
Exit mobile version