Olahraga
Dilantik dan Dikukuhkan KONI Pusat, Ketua Umum PB PTMSI Peter Layardi: Fokus Kita Bina dan Cetak Atlet Meja Handal untuk Dapat Kibarkan Merah Putih
Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman (kanan) jabat tangan komando dengan Ketua Umum PB PTMSI Peter Layardi Lay. (ist)
FAKTUAL-INDONESIA: Momentum kebangkitan tenis meja Indonesia resmi dimulai. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menggelar prosesi pelantikan serta pengukuhan Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) periode 2026–2030 di bawah kepemimpinan Ketua Umum Peter Layardi Lay.
Dalam sambutannya, Peter menegaskan bahwa seremoni pelantikan ini bukanlah akhir dari proses administrasi, melainkan titik awal tanggung jawab besar untuk menjawab kepercayaan para pemilih dan KONI Pusat yang telah menerbitkan Surat Keputusan (SK).
“Tugas kita adalah memajukan prestasi tenis meja Indonesia, mencetak atlet yang tangguh dan berdaya saing agar mampu mengibarkan bendera Merah Putih di panggung internasional demi membanggakan bangsa. Mari kita jaga soliditas antar pengurus dari seluruh wilayah di Tanah Air,” ujar Peter Layardi Lay.
Ketua Umum PB PTMSI Peter Layardi Lay langsung memimpin Rapat Pleno usai acara pelantikan dan pengukuhan. (ist)
Langsung Rapat Pleno
Tak ingin buang waktu, PB PTMSI langsung menggelar Rapat Pleno Offline Perdana—sebuah momen langka dan krusial yang menfokuskan perhatian penuh pada pembinaan atlet.
Peter menekankan prinsip utama kepemimpinannya: “Tugas kita membina, bukan membinasakan atlet. Namun, aturan tetap harus ditegakkan sesuai AD/ART.”
Peter menuturkan pembentukan Komisi Disiplin (Komdis) dengan tugas memberikan sanksi tegas kepada atlet, pengurus, wasit, maupun pelatih yang tidak mengikuti atau melanggar aturan yang telah ditetapkan PB PTMSI dalam AD/ART.
Salah satu penegakkan aturan adalah atlet yang bermasalah atau mengikuti kegiatan di luar naungan PB PTMSI dipastikan tidak dapat berlaga di PON, Kejuaraan Nasional (Kejurnas) atau semua kegiatan di bawah bendera PB PTMSI.
Kejurnas Peserta Membludak
Meski dihadapkan pada situasi daerah yang menantang, Kejurnas 2026 tercatat sebagai gelaran terbesar sejak Peter memimpin PB PTMSI pada 2019. Antusiasme para atlet melonjak seiring kembali kuatnya pengakuan terhadap keabsahan organisasi PB PTMSI sebagai satu-satunya induk organisasi tenis meja yang diakui KONI Pusat di Tanah Air.
“Sepanjang saya memimpin PB PTMSI sejak 2019, Kejurnas kali ini mencatat sejarah dengan peserta yang membludak,” kata Peter. “Antusias daerah mengirim atlet mengikuti Kejurnas kian besar,” ucap Peter. “Pertanda positif kepercayaan daerah terhadap PB PTMSI sebagai satu-satunya induk olahraga tenis meja di Tanah Air. Ini menjadi angin segar tersendiri dan kita optimis akan lahir atlet tenis meja handal,” sambungnya.
Di Kejurnas kali ini setiap Pengurus Provinsi (Pengprov) dapat kesempatan mengutus kuota maksimal 6 atlet putra dan 6 atlet putri melalui proses verifikasi yang ketat. Ada pun Technical Meeting digelar pada 19 September, memanfaatkan area bertanding di Bay Walk Mall (6 meja dan 10 meja di lantai berbeda).
Selain Kejurnas akan diselenggarakan pulang Rakernas 2026. Rakernas dijadwalkan berlangsung pada 23–24 September di Hotel Ciputra.
Juga dilaksanakan pengembangan SDM, yakni penataran wasit dan pelatih. Sedikitnya 70 pelatih telah memastikan akan ambil bagian. Dan sebanyak 40 wasit juga telah memastikan mendaftar untuk memperkuat kualitas kompetisi nasional.
Karenanya PB PTMSI mengimbau seluruh Pengprov untuk terus aktif menggelar kejuaraan di daerah masing-masing dan tidak boleh merasa vakum. Skema kejuaraan seperti Silatama, Silataruna, Open Tournament, hingga gerakan “Tenis Meja Go to School” melalui Liga Pelajar (seperti yang telah berjalan di Maluku dan Jawa Barat) menjadi fondasi pembinaan akar rumput.
Tenis meja Indonesia akan selalu punya harapan melahirkan atlet handal yang menjadi tulang punggung Timnas di kemudian hari.****