Connect with us

Olahraga

Target Medali Emas Bridge dari Mixed Team AG Hangzhou Butuh Keajaiban

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Oleh : Bert Toar Polii

FAKTUAL-INDONESIA: Melihat komposisi dari tim yang terdaftar mengikuti cabor bridge di Asian Games Hangzhou, sepertinya Indonesia berharap dari nomor Mixed Team.

Kenapa? Karena PB Gabsi lebih memilih membongkar salah satu pasangan andalan di beregu putri, Conny F Sumampouw/Rury Andhani untuk bermain di Mixed Team.

Mereka berdua akan berpasangan dengan Noldy George dan Robert Parasian di Mixed Team.

Strategi ini menurut tukang bridge kurang tepat. Seharusnya Noldy George tetap dipasangkan dengan Kristina Wahyu sehingga tinggal mencari satu pasangan lagi.

Advertisement

Jauh lebih tepat meminta pasangan Joice Tueje untuk kembali turun gunung berpasangan dengan Robert Parasian. Atau memainkan Franky Karwur berpasangan dengan Suci Amita Dewi yang juga sudah pernah mencetak prestasi di Yeh Bros Cup di Taiwan.

Tapi seharusnya masih cukup waktu untuk mengadakan seleksi untuk mencari pasangan pendamping.

Buat tukang bridge seharusnya diusahakan dengan berbagai upaya agar khusus untuk Asian Games Hangzhou, pasangan Suci Amita Dewi/Kristina Wahyu bisa bermain.

Dengan kombinasi 3 pasangan bergabung bersama Conny F Sumampouw/Rury Andhani serta Fera Damayanti/Riantini peluang meraih medali di beregu putri cukup terbuka.

Sementara itu jika Joice Tueje bisa diajak bergabung maka kombinasinya dengan Robert Parasian masih bisa diharapkan untuk memperkuat tim.

Advertisement

Satu pasangan lagi bisa dipilih melalui seleksi terbatas.

Tapi ini semua hanya angan-angan tukang bridge karena tim Asian Games yang bertanding di Hangzhou Qi-yuan (Zhili) Chess Hall tanggal 27 September – 6 Oktober 2013 sudah terbentuk dan sudah didaftarkan.

Tim Putri terdiri  Fera Damayanti/Riantini ditambah  Ernis Sevita/Yunita Fitry serta pasangan yang sama sekali baru Rahma Shaumi/Elsya Ningtyas.

Melihat komposisi ini, untuk bisa berlaga di semi final sehingga menjamin dapat medali sudah cukup berat.

Ketika tim masih lengkap saja di Asia Pacific Bridge Federation Championship di Hongkong bulan Juni yang lalu kita berada di peringkat 4. Di Hangzhou kita harus bersaing dengan India dan Singapura untuk meraih satu tempat di semi final.

Advertisement

Karena China, China Hongkong dan Chinesse Taipei jelas satu level diatas kita.

Dengan demikian tumpuan kita untuk meraih medali emas tinggal bertumpu pada Mixed Team.

Sayangnya melihat prestasi para pesaing kita di The 46th  World Bridge Team Championship yang sedang berlangsung di Maroko maka butuh keajaiban untuk meraih medali emas.

Saingan kita untuk meraih medali emas dari nomor mixed team datang dari dua kekuatan besar, yaitu China dan Chinesse Taipei.

Kedua tim ini mempertahankan dan melatih tim yang sama sejak setahun yang lalu.

Advertisement

Prestasi mereka juga terus menanjak dimana kedua tim ini pada The 53rd Asia Pacific Bridge Federation Championship di Hongkong pada tanggal 9-17 Juni 2023.

China waktu itu keluar sebagai juara sedangkan Chinesse Taipei menjadi juara ketiga kalah dari Singapura di peringkat kedua. Indonesia sendiri berada di peringkat keempat.

Namun ketika di babak play off melawan Chinesse Taipei, Indonesia dikalahkan cukup telak 124-55 imp.

Hal ini juga harus dimatangkan jika ingin merebut medali emas di Asian Games nanti. Karen ajika lolos ke babak semi final, pertarungan selanjutnya adalah babak knock-out dimana pemain Indonesia sangat kurang pengalaman dalam pertandingan berbentuk knock-out.

Kenapa tukang bridge mengatakan untuk meraih target meraih medali emas di Asian Games Hangzhou butuh keajaiban?

Advertisement

Pertama kita harus berjuang untuk tetap mempertahankan peringkat keempat seperti di Hongkong.

Ini cukup berat karena 3 tim peringkat atas di Hongkong sepertinya sulit digagalkan untuk tidak masuk empat besar.

Selain itu saingan kita bertambah karena India akan turun full team di Hangzhou berbeda di Hongkong dimana mereka menyelipkan satu pasangan muda usia.

Jepang juga kali ini walaupun hanya diijinkan bermain 4 orang oleh KOInya Jepang tetap harus diperhitungkan karena merupakan kombinasi 4 pemain berpengalaman berbeda dengan yang turun di Hongkong.

Kedua Chinesse Taipei dan China karena sudah bermain dan berlatih bersama cukup lama kini kekuatannya meningkat tajam sehingga bisa bersaing di tingkat dunia.

Advertisement

Setelah menyelesaikan 6 session babak penyisihan Venice Cup, Chinesse Taipei memimpin dengan 93.54 VP disusul China 77.93 VP. ***

Lanjutkan Membaca