Olahraga
SEABF: Sebuah Diplomasi Olahraga dari Indonesia untuk Masa Depan Bridge Asia Tenggara

Kini, lebih dari satu dekade kemudian, tantangan yang dihadapi masih sama seperti ketika SEABF didirikan. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
Tidak banyak yang mengetahui bahwa berdirinya South East Asia Bridge Federation (SEABF) bukanlah sekadar hasil kesepakatan beberapa negara Asia Tenggara untuk membentuk sebuah organisasi regional.
Di balik lahirnya SEABF terdapat sebuah gagasan strategis yang berasal dari Indonesia. Gagasan tersebut lahir dari kepedulian para pemimpin Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) terhadap masa depan olahraga bridge di kawasan Asia Tenggara.
Tokoh yang pertama kali menggagas pembentukan SEABF adalah Eka Wahyu Kasih, yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PB GABSI.
Beliau menyadari bahwa mempertahankan bridge sebagai cabang olahraga SEA Games tidak cukup hanya dengan meraih prestasi di arena pertandingan. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem bridge yang kuat di seluruh kawasan Asia Tenggara melalui pembentukan organisasi nasional yang aktif di setiap negara ASEAN.
Berawal dari SEA Games 2011
Pemikiran tersebut berakar pada pengalaman Indonesia ketika berhasil memperjuangkan kembali dipertandingkannya bridge pada SEA Games 2011 di Palembang dan Jakarta.
Keberhasilan tersebut merupakan sebuah pencapaian penting bagi dunia bridge Indonesia. Namun di balik keberhasilan itu muncul sebuah kesadaran baru.
Sebuah cabang olahraga tidak akan terus dipertandingkan dalam SEA Games apabila hanya berkembang di beberapa negara saja.
Bridge harus menjadi olahraga kawasan.
Artinya, semakin banyak negara ASEAN yang memiliki organisasi bridge nasional yang aktif, semakin kuat pula alasan bagi SEA Games Federation untuk terus mempertahankan bridge sebagai cabang olahraga resmi.
Kesadaran inilah yang melahirkan sebuah gagasan besar.
Gagasan PB GABSI
Melihat tantangan tersebut, PB GABSI menggagas pembentukan sebuah federasi bridge Asia Tenggara yang memiliki fokus utama pada pengembangan organisasi dan pembinaan bridge di seluruh kawasan ASEAN.
Federasi ini tidak dimaksudkan sebagai penyelenggara turnamen semata.
Kejuaraan antarnegara ASEAN telah lebih dahulu berlangsung melalui ASEAN Bridge Club Championships (ABCC).
Yang dibutuhkan adalah sebuah organisasi regional yang mampu mengoordinasikan pembinaan, membantu negara-negara yang belum memiliki organisasi bridge nasional, serta menjadi mitra resmi bagi World Bridge Federation (WBF), Asia Pacific Bridge Federation (APBF), dan SEA Games Federation.
Dengan demikian, pembentukan SEABF sejak awal merupakan sebuah bentuk diplomasi olahraga (sports diplomacy) yang bertujuan memperkuat posisi bridge dalam ekosistem olahraga Asia Tenggara.
Mendapat Dukungan Kawasan
Gagasan yang disampaikan oleh Eka Wahyu Kasih memperoleh sambutan yang sangat positif.
Almarhum M. Bambang Hartono (MBH) memberikan dukungan penuh terhadap pembentukan federasi regional tersebut.
Dukungan serupa juga datang dari negara-negara yang telah memiliki organisasi bridge yang mapan, yaitu Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura.
Kesamaan visi inilah yang akhirnya melahirkan kesepakatan untuk membentuk South East Asia Bridge Federation (SEABF).
Bangkok 2015: Tonggak Sejarah
Momentum bersejarah itu terjadi pada tahun 2015 dalam penyelenggaraan ASEAN Bridge Club Championships (ABCC) di Bangkok, Thailand.
Di kota inilah para pemimpin bridge Asia Tenggara secara resmi menyepakati pembentukan South East Asia Bridge Federation (SEABF).
Sebagai bentuk penghormatan terhadap kepemimpinan, pengalaman, dan kontribusinya dalam pengembangan bridge di kawasan, almarhum M. Bambang Hartono dipercaya menjadi Presiden pertama SEABF.
Sementara itu Dr. Handojo Susanto dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal untuk membangun administrasi organisasi sekaligus mengoordinasikan berbagai program pengembangan bridge di Asia Tenggara.
Kepengurusan ini mencerminkan pembagian peran yang saling melengkapi. PB GABSI menjadi penggagas lahirnya organisasi, sementara para pemimpin bridge kawasan bersama-sama membangun fondasi bagi organisasi regional yang baru terbentuk.
Dukungan internasional terhadap SEABF juga diperkuat dengan keterlibatan Kunying Esther Soponpanich, Presiden Asia Pacific Bridge Federation (APBF), yang bersedia mendukung pengembangan organisasi ini sebagai Wakil Presiden. Kehadirannya menjadi simbol kuat bahwa pembentukan SEABF memperoleh pengakuan dan dukungan dari komunitas bridge Asia Pasifik.
Misi Awal SEABF
Sejak hari pertama berdiri, SEABF telah memiliki arah yang sangat jelas.
Tujuan utamanya bukanlah menyelenggarakan kejuaraan.
Tujuan utamanya adalah memperluas pembinaan bridge di seluruh Asia Tenggara sehingga setiap negara ASEAN mampu memiliki National Contract Bridge Organization (NCBO) yang aktif dan diakui oleh World Bridge Federation.
Inilah syarat utama agar bridge tetap memiliki posisi yang kuat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di SEA Games.
Misi tersebut meliputi:
- membantu pembentukan NCBO di negara-negara ASEAN yang belum memilikinya;
- menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi pemain, pelatih, wasit, serta administrator;
- memperkenalkan bridge ke sekolah dan perguruan tinggi;
- memperkuat kerja sama antarnegara ASEAN melalui olahraga bridge; dan
- menjadi jembatan koordinasi antara WBF, APBF, federasi nasional, dan penyelenggara SEA Games.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Hingga saat ini baru lima negara ASEAN yang memiliki NCBO yang aktif, yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Timor Leste sebenarnya pernah berhasil membentuk organisasi bridge nasional, namun kemudian tidak lagi aktif.
Sementara itu Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam masih memerlukan pembinaan organisasi yang lebih kuat.
Namun kondisi tersebut bukan berarti bridge belum ada di negara-negara tersebut.
Sebaliknya, bibit-bibit pemain sudah mulai tumbuh.
Mahasiswa Timor Leste pernah mewakili negaranya pada ASEAN University Games di Surabaya.
Mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di Singapura pernah memperkuat negaranya pada ABCC dan Kejuaraan SEABF di Manila.
Informasi dari Thailand menunjukkan bahwa pemain muda dari Myanmar mulai belajar bridge.
Vietnam juga telah memiliki komunitas bridge, meskipun organisasinya masih bergabung dengan induk olahraga lain.
Semua ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukanlah menemukan pemain, melainkan menyatukan mereka dalam organisasi yang berkelanjutan.
Peluang Baru di Era Digital
Perkembangan teknologi membuka peluang yang tidak pernah dibayangkan oleh para pendiri SEABF pada tahun 2015.
Kini pembelajaran bridge dapat dilakukan sepenuhnya secara daring.
Pelatih terbaik dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, atau Filipina dapat mengajar calon pemain di Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Timor Leste, maupun Vietnam tanpa harus melakukan perjalanan.
SEABF memiliki peluang besar untuk membangun pusat pembelajaran bridge regional berbasis digital yang menyediakan kurikulum, video pembelajaran, pelatihan pelatih, simulasi permainan, hingga kompetisi daring.
Dengan biaya yang jauh lebih rendah, pembinaan dapat menjangkau seluruh Asia Tenggara.
Bridge Masuk Sekolah dan Kampus
Strategi jangka panjang tidak mungkin berhasil tanpa regenerasi.
Karena itu program Bridge Goes to School dan Bridge Goes to Campus perlu menjadi prioritas utama SEABF.
Sekolah dan perguruan tinggi adalah tempat terbaik untuk melahirkan generasi baru pemain bridge.
Lebih dari itu, mahasiswa ASEAN yang menempuh pendidikan di luar negeri dapat menjadi duta bridge ketika kembali ke negara asal mereka.
Mereka bukan hanya membawa kemampuan bermain, tetapi juga pengalaman membangun klub dan organisasi.
ASEAN Bridge League
Apabila jumlah pemain dan organisasi nasional terus bertambah, langkah berikutnya adalah membangun kompetisi regional yang berkesinambungan.
SEABF dapat menggagas ASEAN Bridge League dengan format hybrid.
Babak penyisihan dimainkan secara daring sehingga biaya partisipasi menjadi lebih ringan.
Tim-tim terbaik kemudian bertemu pada babak final secara luring yang diselenggarakan secara bergiliran di negara-negara anggota, mengikuti tradisi ABCC dan Kejuaraan SEABF.
Model ini akan memperbanyak kesempatan bertanding sekaligus memperkuat persahabatan di antara negara-negara ASEAN.
Warisan yang Ingin Ditinggalkan
Dalam sejarah olahraga, tidak semua warisan berbentuk medali emas.
Ada warisan yang jauh lebih besar, yaitu membangun sistem yang mampu melahirkan generasi penerus.
Itulah semangat yang melatarbelakangi lahirnya SEABF.
Organisasi ini dibangun atas gagasan PB GABSI, diprakarsai oleh Eka Wahyu Kasih, didukung oleh almarhum M. Bambang Hartono serta para pemimpin bridge Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura, lalu diwujudkan melalui pembentukan South East Asia Bridge Federation di Bangkok pada tahun 2015.
Kini, lebih dari satu dekade kemudian, tantangan yang dihadapi masih sama seperti ketika SEABF didirikan.
Bagaimana memastikan seluruh negara ASEAN memiliki organisasi bridge nasional yang kuat.
Bagaimana menghadirkan bridge di sekolah dan perguruan tinggi.
Bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pembinaan.
Dan yang paling penting, bagaimana memastikan bahwa olahraga bridge tetap menjadi bagian dari SEA Games sebagai olahraga yang mencerminkan kecerdasan, kerja sama, sportivitas, dan persahabatan antarbangsa.
Apabila cita-cita tersebut berhasil diwujudkan, maka sejarah akan mencatat bahwa SEABF bukan sekadar sebuah federasi regional, melainkan sebuah gerakan bersama yang lahir dari Indonesia untuk membangun masa depan bridge Asia Tenggara. ***