Olahraga
Kita Tidak Sedang Mengajarkan Orang Bermain Bridge, Kita Sedang Membangun Manusia

Ketika masyarakat melihat bridge sebagai sarana membangun kemampuan berpikir, karakter, dan kepemimpinan, maka bridge akan menemukan tempatnya di sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, organisasi, bahkan instansi pemerintah. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Selama lebih dari empat puluh tahun saya berkecimpung di dunia bridge, ada satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya.
Mengapa begitu sulit mengajak orang belajar bridge?
Padahal, siapa pun yang sudah mengenal permainan ini hampir selalu mengatakan bahwa bridge adalah permainan yang luar biasa. Ia melatih logika, strategi, komunikasi, kerja sama, disiplin, bahkan karakter.
Namun setiap kali saya mengajak orang belajar bridge, jawaban yang saya terima sering kali hampir sama.
“Saya tidak punya waktu.”
“Saya tidak suka permainan kartu.”
“Bridge terlalu sulit.”
“Apa manfaatnya buat saya?”
Dulu saya mengira masalahnya adalah masyarakat belum mengenal bridge.
Sekarang saya justru berpikir sebaliknya.
Mungkin yang keliru bukan masyarakatnya.
Mungkin yang keliru adalah cara kita memperkenalkan bridge.
Selama Ini Kita Menjual Permainannya
Bayangkan seseorang menawarkan kepada Anda,
“Ayo belajar bridge.”
Kalau Anda belum pernah mengenal bridge, kemungkinan besar pertanyaan pertama yang muncul adalah,
“Untuk apa?”
Pertanyaan itu sangat wajar.
Karena orang tidak mencari permainan baru.
Orang mencari sesuatu yang membuat hidup dan pekerjaannya menjadi lebih baik.
Di sinilah saya mulai menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk menjelaskan apa itu bridge, tetapi kurang menjelaskan mengapa bridge penting.
Orang Tidak Mencari Permainan
Coba kita lihat dari sudut pandang yang berbeda.
Seorang kepala sekolah tidak sedang mencari permainan kartu.
Ia sedang mencari cara agar siswanya mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan memiliki karakter yang baik.
Seorang direktur perusahaan juga tidak sedang mencari permainan.
Ia sedang mencari cara meningkatkan kualitas kepemimpinan, komunikasi, dan pengambilan keputusan di organisasinya.
Begitu pula seorang rektor, pimpinan instansi pemerintah, atau pemilik usaha.
Mereka semua sedang mencari cara membangun manusia yang lebih baik.
Pertanyaannya, apakah bridge dapat membantu?
Saya percaya jawabannya adalah ya.
Bridge Bukan Tujuan
Bridge Adalah Medianya
Di sinilah cara pandang saya berubah.
Tujuan kita bukan memperbanyak pemain bridge.
Tujuan kita adalah membangun manusia.
Bridge hanyalah media.
Sama seperti laboratorium digunakan untuk belajar sains.
Lapangan digunakan untuk membangun sportivitas.
Musik digunakan untuk mengembangkan kreativitas.
Bridge digunakan untuk melatih berpikir strategis, mengambil keputusan, bekerja sama, berkomunikasi, memimpin, dan menjaga integritas.
Ketika cara pandang ini berubah, bridge tidak lagi terlihat hanya sebagai permainan kartu.
Bridge menjadi media pembelajaran.
Mengubah Cara Kita Berbicara
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengatakan,
“Mari belajar bridge.”
Sebaliknya, kita mulai mengatakan,
“Mari belajar mengambil keputusan yang lebih baik.”
“Mari membangun tim yang lebih solid.”
“Mari melatih kepemimpinan.”
“Mari meningkatkan kemampuan berpikir strategis.”
Lalu kita tambahkan,
“Bridge adalah salah satu media yang dapat membantu kita mempelajari semua itu.”
Perbedaannya hanya beberapa kalimat.
Tetapi dampaknya bisa sangat besar.
Sebuah Cara Pandang Baru
Saya percaya masa depan bridge tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita berbicara tentang kartu, bidding, atau sistem permainan.
Masa depan bridge ditentukan oleh kemampuan kita menjelaskan manfaatnya bagi kehidupan.
Ketika masyarakat melihat bridge sebagai sarana membangun kemampuan berpikir, karakter, dan kepemimpinan, maka bridge akan menemukan tempatnya di sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, organisasi, bahkan instansi pemerintah.
Bukan karena mereka ingin mencetak pemain bridge.
Tetapi karena mereka ingin membentuk manusia yang lebih baik. ***