Olahraga
Mari Kita Jujur, GABSI di Persimpangan: Berani Berubah atau Pelan-Pelan Hilang?

Sudah saatnya berubah, Kongres Gabsi seharusnya adalah “parlemen”-nya organisasi bridge, tempat arah kebijakan ditentukan, tempat pengurus dipertanggungjawabkan
Oleh: Bert Toar Polii
Masalah terbesar organisasi bridge di Indonesia hari ini bukan siapa Ketua Umumnya. Bukan siapa pengurusnya.
Masalah utamanya adalah aturan mainnya sudah usang.
AD/ART yang seharusnya menjadi “konstitusi” organisasi justru menjadi penghambat perubahan. Ia tidak lagi mencerminkan dunia bridge hari ini—yang sudah digital, terbuka, dan berbasis komunitas.
Baca Juga : Visi Gabsi 2030 Mimpi Tukang Bridge? Roadmap Masa Depan: Dari Organisasi Menjadi Ekosistem
Pertanyaannya sederhana:
Apakah kita mau terus mempertahankan sistem lama, atau berani membangun organisasi modern?
🧨 Demokrasi yang Terlihat, Tapi Tidak Terasa
Secara formal, organisasi ini demokratis. Ada kongres, ada pemilihan, ada struktur lengkap.
Tapi mari kita lihat realitanya:
- Apakah anggota benar-benar punya suara?
- Apakah klub menjadi pusat kekuatan?
- Apakah pemain merasa memiliki organisasi ini?
Jawabannya pahit: belum.
Baca Juga : Mengakhiri Auto Pilot, Memulai Akselerasi: Catatan Konstruktif Menjelang Kongres PB Gabsi XXVII – September 2026, Mamuju
Yang terjadi adalah demokrasi prosedural—bukan demokrasi substansial.
Keputusan sering terasa datang dari atas, bukan dari bawah.
🧨 Kongres: Forum Tertinggi atau Sekadar Formalitas?
Kongres seharusnya adalah “parlemen”-nya organisasi. Tempat arah kebijakan ditentukan, tempat pengurus dipertanggungjawabkan.
Namun yang sering terjadi:
- Agenda sudah “dikondisikan”
- Kritik tidak punya ruang nyata
- Keputusan lebih bersifat pengesahan daripada perdebatan
Jika kongres hanya menjadi formalitas, maka kita kehilangan jantung demokrasi organisasi.
🧨 Pemilihan Ketua Umum: Demokrasi atau Transaksi?
Ini bagian paling sensitif—dan paling menentukan.
Sistem pemilihan yang tidak transparan membuka ruang untuk:
- kompromi tertutup
- politik kepentingan
- bahkan barter dukungan
Dalam kondisi seperti ini, yang terpilih belum tentu yang terbaik.
Yang menang adalah yang paling kuat dalam negosiasi, bukan visi.
Baca Juga : Malang dalam Sejarah Bridge Indonesia: Dari HUT Gabsi ke-50 hingga BTC Bridge Open
Dan ini berbahaya.
🧨 Tanpa Pengawasan Independen, Kekuasaan Jadi Absolut
Organisasi modern selalu punya satu prinsip:
power must be checked.
Namun ketika pengawasan tidak benar-benar independen, maka:
- konflik kepentingan sulit dihindari
- keputusan tidak objektif
- akuntabilitas melemah
Tanpa kontrol, organisasi bukan hanya stagnan—tapi rentan disalahgunakan.
🧨 Kita Masih Analog di Dunia yang Sudah Digital
Ironisnya, bridge justru berkembang pesat di dunia online. Turnamen internasional bisa dimainkan dari rumah. Sistem ranking global semakin transparan.
Tapi organisasi kita?
- Belum punya sistem keanggotaan digital yang solid
- Belum menerapkan e-voting
- Belum memanfaatkan teknologi untuk transparansi
Kita seperti bermain di abad 21 dengan aturan abad 20.
⚡ Saatnya Berani Mengganti “Sistem”, Bukan Sekadar Orang
Baca Juga : Pembenahan Menyeluruh, Masukan Buat Kongres Gabsi XXVII, Mamuju, Sulawesi Barat – September 2026
Mengganti pengurus tanpa mengganti sistem hanya akan menghasilkan masalah yang sama dengan wajah yang berbeda.
Yang harus diubah adalah fondasinya:
🔹 Kedaulatan anggota
Klub dan pemain harus menjadi pusat kekuatan, bukan sekadar pelengkap.
🔹 Kongres yang hidup
Bukan formalitas, tapi arena debat dan kontrol nyata.
🔹 Pemilihan yang transparan
Menuju sistem voting modern—bahkan digital—yang bisa diaudit.
🔹 Pengawasan independen
Komisi etik, audit, dan pemilihan harus berdiri di luar kekuasaan pengurus.
🔹 Digitalisasi total
Baca Juga : Malang dalam Sejarah Bridge Indonesia: Dari HUT Gabsi ke-50 hingga BTC Bridge Open
Database pemain nasional, sistem ranking, hingga e-kongres.
💥 Ini Bukan Sekadar Perubahan, Ini Pertaruhan Masa Depan
Jika kita terus bertahan dengan sistem lama:
- generasi muda akan menjauh
- komunitas akan berjalan sendiri tanpa organisasi
- peran nasional akan semakin melemah
Namun jika kita berani berubah:
- bridge Indonesia bisa menjadi kekuatan modern
- organisasi menjadi relevan kembali
- dan yang paling penting: anggota merasa memiliki
Baca Juga : Semoga Bisa Ditiru PB Gabsi, Cara European Bridge League Mengatasi Kecurangan di Meja Bridge
🔚 Penutup: Pilihan Ada di Kita
Perubahan selalu tidak nyaman.
Selalu ada resistensi.
Selalu ada yang merasa kehilangan.
Tapi satu hal pasti:
Organisasi yang tidak mau berubah, akan ditinggalkan.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak”.
Tapi:
Berani atau tidak? ***