Olahraga
Catatan Sepakbola: Empat Raksasa, Dua Pertandingan Impian

Apa pun yang terjadi, saya berharap kita akan menikmati sepakbola dengan kualitas terbaik.
Oleh: Bert Toar Polii, Tukang Bridge
Tentu saja itu hanya guyonan. Tetapi harus diakui, sejak Piala Dunia 2022, Maroko telah menjelma menjadi salah satu tim yang paling menyenangkan untuk ditonton. Semangat juang mereka luar biasa, disiplin bermain, dan tidak pernah gentar menghadapi siapa pun.
Namun kali ini saya tidak ingin terlalu fanatik seperti saat mendukung Belanda. Saya memang menjagokan Maroko, tetapi juga tidak menutup mata terhadap kehebatan Perancis. Terlebih lagi, Kylian Mbappé sedang berada dalam performa terbaiknya. Hingga saat ini ia menjadi salah satu pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 dengan enam gol, sejajar dengan Messi, bahkan unggul karena telah menyumbang dua assist.
Piala Dunia 2026 kini mulai mengerucut. Jika para unggulan mampu melewati rintangan di babak 16 besar dan perempat final, dunia sepakbola bisa disuguhi dua semifinal yang benar-benar layak disebut “final yang datang terlalu cepat.”
Perancis atau Maroko vs Amerika Serikat atau Spanyol
Di satu sisi bagan, Perancis tampil sebagai salah satu favorit juara. Dengan materi pemain yang lengkap dan pengalaman bertanding di level tertinggi, Les Bleus tetap menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan.
Namun Maroko sudah membuktikan sejak Piala Dunia 2022 bahwa mereka bukan lagi sekadar kuda hitam. Mereka kini adalah kekuatan baru yang mampu menyulitkan siapa pun lewat organisasi permainan yang rapi, pertahanan disiplin, dan serangan balik yang mematikan.
Lawan yang menanti pun tidak kalah menarik. Amerika Serikat menikmati keuntungan sebagai tuan rumah dengan dukungan publik yang luar biasa, sedangkan Spanyol tetap menjadi salah satu tim dengan penguasaan bola terbaik di dunia.
Siapa pun yang berhasil keluar dari jalur ini akan benar-benar pantas tampil di partai puncak.
Brasil vs Argentina
Di sisi lain bagan tersaji aroma klasik Amerika Selatan. Jika prediksi ini menjadi kenyataan, dunia akan kembali disuguhi salah satu rivalitas terbesar sepanjang sejarah sepakbola: Brasil melawan Argentina.
Brasil selalu identik dengan permainan menyerang yang atraktif dan kreativitas tanpa batas. Sebaliknya, Argentina datang dengan mental juara, pengalaman, dan tradisi memenangkan pertandingan-pertandingan besar.
Pertemuan kedua negara ini hampir selalu menghadirkan drama, gengsi, emosi, dan kualitas sepakbola kelas dunia. Tidak berlebihan jika banyak orang menyebut laga seperti ini layak menjadi final Piala Dunia.
Tentu saja, semua ini masih sebatas kemungkinan. Masih ada babak 16 besar, perempat final, dan selalu ada ruang bagi kejutan. Bukankah justru itulah yang membuat Piala Dunia selalu menarik untuk diikuti?
Namun melihat bagan yang ada saat ini, peluang menghadirkan dua semifinal impian tersebut memang terbuka lebar.
Dan bila benar-benar terjadi, para pencinta sepakbola di seluruh dunia akan menikmati pesta sepak bola yang luar biasa: empat negara dengan tradisi besar, gaya bermain yang berbeda, karakter yang unik, tetapi memiliki satu tujuan yang sama—mengangkat Trofi Piala Dunia.
Kalau saya boleh bermimpi sedikit, saya ingin melihat Maroko bertemu Brasil di final.
Namun ada satu catatan kecil yang menarik. Sepanjang sejarah Piala Dunia, belum pernah ada negara yang menjadi juara dunia dengan pelatih asing.
Brasil kali ini ditangani oleh Carlo Ancelotti. Bila berhasil mengangkat trofi, ia bukan hanya membawa Brasil menjadi juara dunia, tetapi juga menciptakan sejarah baru dengan mematahkan “kutukan” pelatih impor.
Sebaliknya, bila Argentina yang kembali berjaya, mereka akan berhasil mempertahankan gelar juara dunia—sebuah prestasi yang terakhir kali dilakukan oleh Brasil pada 1958 dan 1962. Argentina juga akan menyamai koleksi empat gelar dunia milik Italia, tinggal selangkah lagi mengejar lima gelar Brasil sebagai negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia.
Apa pun yang terjadi, saya berharap kita akan menikmati sepakbola dengan kualitas terbaik. Dan jangan salahkan Tukang Bridge kalau, setelah Belanda tersingkir, surat cinta berikutnya kembali saya tujukan kepada Maroko. ***