Olahraga
Bridge Piala Ketum KKK Sukses Digelar, Santje Panelewen–Vicky Sandjaya Tampil sebagai Juara
Turnamen Bridge dalam Rangka HUT RI ke-81 Berpeluang Menjadi Agenda Tahunan KKK
Pernyataan Angelica Tengker untuk menjadikan Kejuaraan Bridge Pasangan Piala Ketum KKK sebagai agenda tahunan merupakan salah satu hasil paling penting dari penyelenggaraan tahun pertama ini. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
Turnamen ini tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga berhasil mempertemukan berbagai generasi dan kalangan pemain bridge. Sebanyak 58 pasangan ambil bagian dalam kejuaraan yang menggunakan Sistem Swiss, 6 session @ 8 papan.
Yang membuat penyelenggaraan tahun pertama ini semakin istimewa, turnamen dibuka dan ditutup langsung oleh Ketua Umum DPP KKK, Angelica Tengker.
Angelica Tengker Apresiasi Panitia
Dalam sambutan pembukaan sekaligus penutupan, Angelica Tengker menyampaikan terima kasih kepada Panitia Pelaksana Turnamen Bridge Piala Ketum KKK yang telah mempersiapkan dan menyelenggarakan pertandingan dengan baik.
Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta yang menurutnya menunjukkan bahwa olahraga bridge memiliki tempat yang penting dalam kegiatan keluarga besar Kawanua.
Melihat sambutan yang sangat positif tersebut, Angelica Tengker bahkan menyampaikan komitmen yang sangat menggembirakan bagi komunitas bridge.
Turnamen Bridge Pasangan Piala Ketum KKK akan diupayakan menjadi kalender tetap setiap tahun dalam rangkaian peringatan HUT RI yang diselenggarakan KKK.
Komitmen tersebut diharapkan tetap berlanjut siapa pun yang nantinya menjadi Ketua Umum KKK.
Dengan demikian, Piala Ketum KKK tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan pada tahun 2026, tetapi diharapkan dapat berkembang menjadi tradisi tahunan KKK yang mempertemukan keluarga besar Kawanua dan komunitas bridge Indonesia.
Tokoh Bridge Indonesia Ikut Bertanding
Kejuaraan ini juga diramaikan sejumlah tokoh yang mempunyai perjalanan panjang dalam olahraga bridge Indonesia.
Ada Eka Wahyu Kasih, mantan Ketua Umum PB GABSI, serta Beni J. Ibradi, mantan Ketua Harian PB GABSI masa bakti 2022–2026.
Turut bertanding pula Verdianto Bitticaca, calon Ketua Umum PB GABSI masa bakti 2026–2030.
Sejumlah pemain nasional juga ikut meramaikan turnamen, antara lain Santje Panelewen, Leslie Gontha, Syahrial Ali, Mahkota Ananda dan Bert Toar Polii.
Kehadiran para tokoh dan pemain berpengalaman tersebut memberikan warna tersendiri. Mereka tidak datang hanya sebagai tamu, tetapi benar-benar turun ke meja pertandingan dan bersaing dengan peserta lainnya.
Arnold Laseduw, Tokoh di Balik World Bridge Team Championship Bali 2013
Nama lain yang menarik perhatian adalah Arnold J. Laseduw, yang tampil bersama Rigga Prajutha.
Arnold merupakan salah satu tokoh penting di balik suksesnya penyelenggaraan World Bridge Team Championship di Bali tahun 2013.
Atas kontribusinya dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan kejuaraan dunia tersebut, ia menerima Silver Medal dari World Bridge Federation (WBF) pada tahun 2013.
Penghargaan tersebut bukan karena prestasinya sebagai pemain, melainkan merupakan bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kesuksesan penyelenggaraan kejuaraan dunia bridge di Bali.
Dan menariknya, dalam Piala Ketum KKK kali ini, Arnold justru berhasil menunjukkan kualitasnya sebagai pemain dengan membawa pulang peringkat ketiga.
Santje Panelewen–Vicky Sandjaya Juara
Persaingan enam session akhirnya menghasilkan Santje Panelewen–Vicky Sandjaya sebagai juara pertama dan berhak membawa pulang Piala Ketum KKK.
Berikut hasil lengkap enam besar:
🏆 Enam Besar
Juara 1
🥇 Santje Panelewen – Vicky Sandjaya
Juara 2
🥈 Parlin Sinaga – Rizky Watuseke
Juara 3
🥉 Arnold J. Laseduw – Rigga Prajutha
Juara 4
Adrial – Jonas Karwur
Juara 5
Viasmudji Bitticaca – Leslie Gontha
Juara 6
Alfa Irinanda – Donal Sitorus
Hasil ini memperlihatkan persaingan yang sangat ketat karena para pemain dengan pengalaman panjang di tingkat nasional harus berhadapan dengan pasangan-pasangan lain yang juga memiliki kemampuan kuat.
Lima Penghargaan Khusus
Selain enam besar, panitia juga menyediakan lima penghargaan khusus untuk memberikan apresiasi kepada kelompok peserta yang berbeda.
Best Junior U26
🏆 Amalia – Ardiansyah
Kategori ini menjadi sangat penting karena menunjukkan bahwa generasi muda terus mendapatkan ruang dalam kompetisi bridge.
Best Senior
🏆 Mahkota Ananda – Decky Tana
Dua pemain berpengalaman ini berhasil menjadi pasangan terbaik dalam kategori senior.
Best Ladies
🏆 Fanni – Aulia
Kategori ladies juga berlangsung menarik dengan persaingan sejumlah pasangan wanita yang tampil dalam turnamen.
Best Kawanua
🏆 Jerry Posumah – El Haris Lumakeky
Penghargaan ini menjadi salah satu yang sangat relevan dengan semangat penyelenggaraan karena secara khusus memberikan apresiasi kepada pasangan terbaik kategori Kawanua.
Best Mixed
🏆 Samsi – Karina
Pasangan ini berhasil menjadi yang terbaik dalam kategori mixed pairs.
Bridge, Kuliner dan Kebersamaan
Salah satu keunikan penyelenggaraan Piala Ketum KKK adalah suasana Wale Ne Tou Kawanua yang tidak hanya menjadi tempat pertandingan.
Saat istirahat makan siang, peserta dapat menikmati belasan bazar kuliner yang menyediakan beragam makanan, terutama kuliner khas Minahasa.
Suasana tersebut membuat kegiatan semakin terasa sebagai sebuah pesta kebersamaan. Peserta dapat bertanding di meja bridge, kemudian menikmati kuliner Kawanua sambil bercengkerama dengan sesama pemain.
Bridge dan kuliner akhirnya menjadi dua unsur yang mempertemukan orang dalam suasana yang santai dan penuh persahabatan.
Bridge sebagai Jembatan Persaudaraan
Kejuaraan ini membuktikan bahwa olahraga bridge memiliki kemampuan luar biasa untuk mempertemukan orang dari berbagai latar belakang.
Ada mantan Ketua Umum PB GABSI, mantan Ketua Harian PB GABSI, calon Ketua Umum PB GABSI, pemain nasional, tokoh yang pernah terlibat dalam penyelenggaraan kejuaraan dunia, pemain senior, pemain wanita, pemain muda dan komunitas Kawanua.
Mereka datang dari berbagai daerah dan berbagai generasi.
Di meja pertandingan semuanya sama.
Yang berbicara adalah kartu, kemampuan, kerja sama pasangan dan keputusan yang dibuat selama permainan.
Setelah pertandingan selesai, yang tersisa adalah persahabatan.
Dari Piala Ketum Menuju Kalender Tahunan
Pernyataan Angelica Tengker untuk menjadikan Kejuaraan Bridge Pasangan Piala Ketum KKK sebagai agenda tahunan merupakan salah satu hasil paling penting dari penyelenggaraan tahun pertama ini.
Jika konsisten dilaksanakan setiap tahun, Piala Ketum KKK berpotensi menjadi salah satu turnamen yang selalu dinantikan setiap bulan Agustus.
Bukan hanya untuk memperebutkan piala, medali dan hadiah, tetapi juga untuk mempertemukan kembali sahabat-sahabat lama sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari identitas olahraga dalam rangkaian peringatan HUT RI oleh keluarga besar Kawanua.
Harapannya, komitmen tersebut dapat terus dijaga dan dilanjutkan oleh kepengurusan KKK berikutnya.
Karena sebuah tradisi yang baik seharusnya tidak bergantung pada siapa yang sedang memimpin, tetapi menjadi warisan bersama organisasi dan masyarakat yang dicintainya.
Karena Torang Samua Basudara
Pada akhirnya, Piala Ketum KKK bukan sekadar tentang siapa yang menjadi juara.
Santje Panelewen–Vicky Sandjaya memang tercatat sebagai juara pertama. Nama mereka akan terukir sebagai pemenang pertama Piala Ketum KKK.
Namun sesungguhnya seluruh peserta adalah bagian dari kesuksesan turnamen ini.
Mereka telah datang, bertanding, bersilaturahmi dan ikut menghidupkan Wale Ne Tou Kawanua dengan semangat olahraga dan persaudaraan.
Itulah nilai yang paling penting.
Bertanding boleh serius. Bersaing boleh ketat. Tetapi persaudaraan harus tetap dijaga.
Sebab pada akhirnya kita semua datang dari semangat yang sama:
Karena Torang Samua Basudara.
Dari Kawanua untuk Indonesia.
Dari meja bridge untuk persahabatan dan prestasi.
I Yayat U Santi!
Pakatuan wo Pakalawiren! 🇮🇩♠️♥️♦️♣️ ***
