Olahraga

Bridge Akhirnya Dipertandingkan di PON XXII 2028 NTB–NTT

Published

on

Dengan efisiensi biaya, tradisi prestasi internasional, dan pembinaan atlet muda yang terus berjalan, bridge diharapkan tidak hanya eksis di PON, tetapi juga mampu melahirkan generasi baru atlet Indonesia yang berprestasi di tingkat dunia.

Dengan efisiensi biaya, tradisi prestasi internasional, dan pembinaan atlet muda yang terus berjalan, bridge diharapkan tidak hanya eksis di PON, tetapi juga mampu melahirkan generasi baru atlet Indonesia yang berprestasi di tingkat dunia. (Ist)

Oleh: Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Peluang cabang olahraga bridge untuk dipertandingkan pada PON XXII tahun 2028 di NTB–NTT sempat dinilai kecil. Wacana rasionalisasi jumlah cabang olahraga oleh tuan rumah bersama KONI membuat banyak pihak pesimistis terhadap nasib olahraga asah otak tersebut. Namun, berkat perjuangan panjang PB GABSI serta dukungan berbagai pihak, akhirnya peluang bridge kembali terbuka lebar dan kini dipastikan akan dipertandingkan pada PON XXII 2028.

Dalam berbagai tulisannya di Kompasiana, Bert Toar Polii menyoroti bahwa perjuangan mempertahankan bridge di PON bukan sekadar soal mempertandingkan sebuah cabang olahraga, melainkan menjaga kesinambungan pembinaan, regenerasi atlet, serta mempertahankan tradisi prestasi Indonesia di tingkat internasional.

Rasionalisasi Cabor Jadi Tantangan

Wacana pengurangan jumlah cabang olahraga muncul karena tuan rumah PON 2028 ingin menekan biaya penyelenggaraan dan menghindari pembangunan venue baru secara besar-besaran. Dalam situasi tersebut, beberapa cabang olahraga yang dianggap kurang populer mulai terancam tidak dipertandingkan, termasuk bridge.

Meski demikian, PB GABSI tidak tinggal diam. Organisasi bridge nasional itu aktif melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan olahraga. Salah satu langkah penting adalah audiensi Sekjen PB GABSI, Hery Maulana, dengan Gubernur NTT, Melki Laka Lena. Pertemuan tersebut mendapat respons positif karena bridge dinilai sangat sesuai dengan konsep efisiensi anggaran yang sedang digaungkan.

Advertisement

Penambahan DKI Jakarta Membuka Jalan

Momentum penting yang membuat peluang bridge semakin besar adalah masuknya Jakarta sebagai salah satu penyelenggara PON XXII 2028. Penambahan satu wilayah penyelenggara membuat sejumlah cabang olahraga dipindahkan ke Jakarta sehingga membuka ruang bagi NTB dan NTT untuk menambah cabang olahraga lain yang dipertandingkan.

Menurut Bert Toar Polii, kondisi tersebut sudah sempat diprediksi sebelumnya. Dalam salah satu tulisannya di grup komunitas bridge, ia menyampaikan bahwa penunjukan DKI Jakarta sebagai penyelenggara akan membuat peluang bridge dipertandingkan kembali menjadi jauh lebih besar.

Melihat peluang itu, PB GABSI bergerak cepat dengan melakukan lobi kepada Pemerintah Provinsi NTT agar tetap mengusulkan bridge sebagai cabang olahraga PON. Langkah tersebut akhirnya membuahkan hasil dan menjadi kabar menggembirakan bagi komunitas bridge Indonesia.

Bridge Sangat Efisien dan Ramah Anggaran

Advertisement

Salah satu keunggulan utama bridge adalah efisiensi penyelenggaraannya. Pertandingan dapat dilaksanakan di aula, hotel, gedung pertemuan, bahkan ruang sekolah yang memadai. Hal ini membuat bridge menjadi cabang olahraga yang sangat hemat biaya namun tetap memiliki daya saing tinggi.

Selain itu, bridge juga sangat relevan dengan konsep sport tourism yang ingin dikembangkan NTB dan NTT. Kejuaraan bridge mampu mendatangkan peserta dari berbagai daerah, sehingga memberikan dampak ekonomi bagi sektor pariwisata dan perhotelan.

Indonesia Punya Tradisi Prestasi Dunia

Bridge bukan olahraga sembarangan bagi Indonesia. Dalam sejarahnya, Indonesia termasuk salah satu kekuatan bridge Asia bahkan dunia. Prestasi di ajang internasional, termasuk medali pada Asian Games, menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki tradisi kuat dalam olahraga strategi ini.

Bridge juga merupakan cabang olahraga resmi yang berada di bawah naungan World Bridge Federation. Permainan ini mengandalkan kemampuan berpikir, logika, konsentrasi, komunikasi, dan kerja sama tim tingkat tinggi.

Advertisement

Karena itulah, banyak kalangan menilai bridge bukan sekadar permainan kartu biasa, melainkan olahraga intelektual yang mampu melatih karakter dan daya pikir atlet.

Regenerasi Atlet Terus Didorong

PB GABSI dan pengurus daerah terus melakukan regenerasi untuk menarik minat generasi muda. Pengprov GABSI di daerah tuan rumah, terutama NTB dan NTT, mulai melakukan pembinaan atlet muda secara serius demi menargetkan medali emas di rumah sendiri pada PON 2028.

Berbagai turnamen daerah dan nasional juga terus digelar sebagai bagian dari proses pembinaan. Turnamen Bridge 3rd BTC Open, GBOT VI dan Balikpapan Open  yang menjadi sarana meningkatkan pengalaman bertanding dan mental kompetisi atlet daerah.

Momentum Kebangkitan Bridge Indonesia

Advertisement

Keberhasilan bridge kembali dipertandingkan di PON XXII 2028 menjadi momentum penting bagi perkembangan olahraga bridge nasional. Dukungan pemerintah daerah, komunitas olahraga, dan kerja keras PB GABSI menunjukkan bahwa bridge masih memiliki tempat penting dalam olahraga Indonesia.

Dengan efisiensi biaya, tradisi prestasi internasional, dan pembinaan atlet muda yang terus berjalan, bridge diharapkan tidak hanya eksis di PON, tetapi juga mampu melahirkan generasi baru atlet Indonesia yang berprestasi di tingkat dunia.

Bagi Bert Toar Polii dan komunitas bridge nasional, keberhasilan ini patut disyukuri karena menjadi bukti bahwa perjuangan panjang dan kerja bersama akhirnya membuahkan hasil. ***

Advertisement
Exit mobile version