Olahraga
🟦 Dua Visi, Satu Masa Depan Bridge Indonesia
- Membaca Arah PB GABSI 2026–2030: Sistem, Prestasi, Pembinaan dan Persatuan
Yang menarik, meskipun mempunyai pendekatan yang berbeda, kedua calon sama-sama berbicara tentang modernisasi organisasi, pembinaan atlet, penguatan kompetisi, peningkatan prestasi dan masa depan bridge Indonesia. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
Ke mana bridge Indonesia akan dibawa pada periode 2026–2030?
Tim Penjaringan dan Penyaringan telah menetapkan dua calon Ketua Umum PB GABSI periode 2026–2030, yaitu Dr. Ir. Isradi Zainal dan Verdianto Iskandar Bitticaca. Pemilihan Ketua Umum akan berlangsung dalam Kongres XXVII PB GABSI di Mamuju, Sulawesi Barat.
Hadirnya dua calon memberikan kesempatan kepada peserta Kongres untuk membandingkan gagasan, visi, program kerja dan pendekatan kepemimpinan yang ditawarkan.
Yang menarik, meskipun mempunyai pendekatan yang berbeda, kedua calon sama-sama berbicara tentang modernisasi organisasi, pembinaan atlet, penguatan kompetisi, peningkatan prestasi dan masa depan bridge Indonesia.
Dengan kata lain:
Dua visi, tetapi satu masa depan yang ingin dicapai: bridge Indonesia yang lebih kuat.
🟦 ISRADI ZAINAL:
MODERN, PROFESIONAL, DIGITAL DAN BERKELANJUTAN
Dr. Ir. Isradi Zainal menawarkan visi:
“Mewujudkan PB GABSI sebagai organisasi yang profesional, modern, berbasis digital, serta mampu melahirkan prestasi nasional dan dunia melalui pembinaan yang merata dan berkelanjutan.”
Pendekatan ini menempatkan penguatan organisasi sebagai fondasi prestasi.
Menurut materi pencalonannya, organisasi yang kuat, tata kelola yang baik, pembinaan berjenjang, teknologi dan inovasi harus berjalan bersama agar prestasi tidak hanya bergantung pada kemampuan individu pemain.
Lima misi yang ditawarkan
Isradi merumuskan lima misi utama:
memperkuat organisasi yang transparan, akuntabel dan kolaboratif;
membangun ekosistem pembinaan yang merata dan berjenjang;
mengembangkan kompetisi yang berkualitas dan berkesinambungan;
meningkatkan prestasi nasional, regional dan internasional;
mengoptimalkan teknologi dan inovasi dalam organisasi maupun pembinaan atlet.
Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan dalam Sapta Karya Kerja “Isradi Zainal for Bridge 2026–2030.”
🎯 Tujuh arah program Isradi
Salah satu perhatian penting adalah mempertahankan eksistensi bridge di PON 2028.
Kemudian ada gagasan penguatan pembiayaan melalui Sponsorship Corporate for Bridge dan Bapak Angkat Bridge Indonesia, dengan target sedikitnya lima perusahaan nasional setiap tahun menjadi mitra pendukung pembinaan bridge.
Untuk regenerasi, ditawarkan pula:
🏫 Liga Bridge Perguruan Tinggi
dan
🎒 Liga Bridge Pelajar
yang direncanakan berjalan secara berkelanjutan mulai 2027 hingga 2030.
Program tersebut dimaksudkan sebagai sarana kompetisi sekaligus regenerasi atlet muda.
Isradi juga menargetkan pemerataan program bridge junior di 38 provinsi, dengan kelompok usia mulai U-12 hingga U-30.
Di bidang prestasi, teknologi dan sport science ditempatkan sebagai bagian penting dalam latihan, evaluasi dan pengembangan atlet.
Sedangkan untuk jangka panjang terdapat gagasan:
🏛️ Akademi Bridge Indonesia 2030
yang dirancang sebagai pusat pendidikan, pembinaan, riset dan pengembangan atlet bridge nasional.
Semangat pendekatan ini dirangkum dalam semboyan:
“Bersama Kita Kuat, Bersatu Kita Hebat, Bridge Indonesia Mendunia.”
🟩 VERDIANTO ISKANDAR BITTICACA:
MEMBANGUN SISTEM, MEMPERKUAT PRESTASI, MENYATUKAN BRIDGE INDONESIA
Sementara itu, Verdianto Iskandar Bitticaca membawa tema:
“Membangun Sistem, Memperkuat Prestasi, Menyatukan Bridge Indonesia.”
Visi yang ditawarkan adalah:
“Mewujudkan Bridge Indonesia yang Modern, Berprestasi, Bersatu, dan Berdaya Saing Internasional.”
Pendekatan Verdianto menempatkan sistem organisasi, prestasi dan persatuan sebagai tiga pilar utama.
Lima misi yang ditawarkan mencakup:
modernisasi organisasi dan tata kelola PB GABSI;
penguatan pembinaan dan regenerasi atlet;
penguatan kompetisi nasional yang sehat dan berkelanjutan;
peningkatan prestasi internasional berbasis kekuatan tim;
penguatan persatuan dan pemerataan pembinaan bridge di seluruh Indonesia.
💻 DIGITALISASI SEKRETARIAT DAN DATABASE NASIONAL
Salah satu program prioritas Verdianto adalah modernisasi sekretariat PB GABSI.
Digitalisasi diarahkan pada:
administrasi organisasi;
basis data nasional atlet;
basis data anggota;
sistem informasi organisasi.
Ini merupakan gagasan yang sangat relevan dengan kebutuhan olahraga modern.
Tanpa database yang baik, organisasi akan sulit mengetahui secara akurat:
berapa jumlah pemain, di mana mereka berada, bagaimana prestasinya, berapa banyak atlet junior, siapa pelatihnya dan bagaimana perkembangan mereka.
🏆 MENGHIDUPKAN KEMBALI LIGA BRIDGE NASIONAL
Program berikutnya adalah penguatan kompetisi nasional, termasuk gagasan untuk mengaktifkan kembali Liga Bridge Nasional.
Ini menarik karena kompetisi berkelanjutan merupakan salah satu kebutuhan penting dalam pembinaan prestasi.
Seorang atlet tidak cukup hanya berlatih.
Ia harus:
berlatih → bertanding → dievaluasi → memperbaiki kelemahan → bertanding lagi.
Siklus seperti inilah yang pada akhirnya membentuk pemain berprestasi.
Verdianto juga menawarkan penyusunan kalender turnamen yang lebih teratur serta sinergi dengan KONI.
🏅 REFORMASI MASTER POINT NASIONAL
Program lain yang cukup spesifik adalah reformasi Sistem Master Point Nasional.
Gagasannya antara lain mengarah pada:
pemeringkatan berbasis prestasi;
integrasi hasil turnamen resmi;
pengembangan database prestasi pemain.
Jika dapat diwujudkan dengan baik, sistem ini bukan hanya menjadi catatan administratif, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem kompetisi nasional.
🌏 MENUJU PRESTASI INTERNASIONAL
Verdianto juga memberikan perhatian besar pada prestasi internasional.
Programnya diarahkan untuk persiapan menuju:
SEA Games
Asian Games
Kejuaraan Dunia
dengan seleksi nasional berbasis tim dan peningkatan daya saing atlet Indonesia.
🏫 BRIDGE MASUK SEKOLAH DAN KAMPUS
Satu lagi program yang menarik adalah pemasyarakatan bridge.
Bridge tidak cukup hanya berkembang di lingkungan pemain yang sudah ada.
Kalau ingin memiliki masa depan, bridge harus menemukan:
pemain generasi berikutnya.
Karena itu ditawarkan pengembangan bridge melalui:
sekolah;
kampus;
komunitas daerah;
peningkatan pelatih daerah;
materi pembelajaran nasional.
Dengan demikian, bridge diharapkan tidak hanya menjadi olahraga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi juga mampu merekrut generasi baru secara sistematis.
⚖️ DUA PENDEKATAN, BANYAK TITIK TEMU
Kalau kita bandingkan kedua visi tersebut, ternyata perbedaannya tidak sebesar yang mungkin terlihat pada awalnya.
Isradi Zainal Verdianto Iskandar Bitticaca
Profesionalisasi organisasi Modernisasi organisasi
Digitalisasi Digitalisasi
Pembinaan berjenjang Regenerasi atlet
Liga pelajar & perguruan tinggi Liga Bridge Nasional
Sport science Seleksi dan pembinaan prestasi
Pemerataan 38 provinsi Pemerataan pembinaan
Sponsorship & Bapak Angkat Penguatan sistem organisasi
Akademi Bridge Indonesia 2030 Bridge di sekolah & kampus
Prestasi nasional & dunia SEA Games, Asian Games & Dunia
PON 2028 Kompetisi nasional berkelanjutan
Dari sini terlihat sesuatu yang menarik.
Keduanya sebenarnya sedang menjawab persoalan yang hampir sama.
Hanya saja, titik tekan dan jalan yang ditawarkan berbeda.
♠️ PERTANYAAN TERBESAR: BAGAIMANA MELAKSANAKANNYA?
Di sinilah tantangan sebenarnya.
Dalam organisasi olahraga, visi yang bagus hanyalah langkah pertama.
Yang jauh lebih sulit adalah implementasi.
Misalnya:
Digitalisasi
Siapa yang akan membangun sistem?
Siapa yang mengelolanya?
Berapa anggarannya?
Bagaimana data dari seluruh provinsi dikumpulkan?
Pembinaan junior
Siapa pelatihnya?
Bagaimana standar pembinaannya?
Bagaimana anak-anak dari daerah mendapatkan kesempatan bertanding?
Liga
Bagaimana pembiayaannya?
Bagaimana klub bisa bertahan?
Bagaimana sistem promosi dan degradasi dibuat?
Prestasi internasional
Bagaimana atlet dipilih?
Berapa lama pemusatan latihan?
Siapa pelatihnya?
Bagaimana program try-out internasional dibiayai?
Sponsor
Apa yang ditawarkan kepada sponsor?
Bagaimana sponsor mendapatkan manfaat?
Bagaimana hubungan sponsor dijaga dalam jangka panjang?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang nantinya menentukan apakah sebuah visi bisa berubah menjadi prestasi nyata.
💡 YANG MENARIK: PROGRAM KEDUANYA BISA SALING MELENGKAPI
Di sinilah saya melihat peluang yang sangat besar.
Misalnya:
Liga Bridge Nasional membutuhkan digitalisasi.
Database Master Point membutuhkan sistem digital.
Pembinaan junior membutuhkan kompetisi.
Kompetisi membutuhkan klub yang hidup.
Klub membutuhkan sponsor.
Sponsor membutuhkan kompetisi yang menarik dan terukur.
Prestasi internasional membutuhkan pemain yang lahir dari sistem pembinaan.
Jadi sebenarnya berbagai program tersebut bukan program yang berdiri sendiri.
Semuanya membentuk satu ekosistem.
🔄 DARI PIRAMIDA PEMBINAAN MENUJU TIM NASIONAL
Bridge Indonesia idealnya memiliki piramida seperti ini:
Sekolah
⬇️
Klub & komunitas
⬇️
Kompetisi daerah
⬇️
Kompetisi nasional
⬇️
Liga
⬇️
Seleksi nasional
⬇️
Tim nasional
⬇️
Prestasi Asia & Dunia
Kalau satu bagian dari piramida tersebut lemah, bagian atasnya juga akan kesulitan.
Karena itu, prestasi internasional sebenarnya dimulai dari bawah.
🇮🇩 MASA DEPAN BRIDGE TIDAK BOLEH HANYA BERGANTUNG PADA PEMAIN HEBAT
Indonesia pernah memiliki banyak pemain luar biasa.
Kita memiliki sejarah panjang di kejuaraan Asia dan dunia.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah kita mempunyai sistem yang mampu melahirkan pemain hebat secara terus-menerus?
Inilah ukuran keberhasilan kepengurusan 2026–2030 nantinya.
Bukan hanya:
berapa medali yang diperoleh?
Tetapi juga:
berapa pemain muda yang lahir?
berapa klub yang berkembang?
berapa provinsi yang aktif membina junior?
berapa banyak turnamen berkualitas yang berlangsung?
berapa banyak sponsor yang masuk?
seberapa baik database nasional?
Dan akhirnya:
Apakah setelah empat tahun bridge Indonesia berada dalam kondisi yang lebih kuat daripada ketika kepengurusan dimulai?
🟦 KONGRES BUKAN SEKADAR MEMILIH KETUA UMUM
Kongres XXVII PB GABSI seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk memilih siapa yang akan menjadi Ketua Umum.
Kongres juga merupakan kesempatan untuk mendiskusikan masa depan bridge Indonesia.
Karena itu, peserta Kongres sebaiknya tidak hanya bertanya:
“Siapa yang saya pilih?”
Tetapi juga:
“Program apa yang paling dibutuhkan bridge Indonesia?”
Dan pertanyaan yang lebih penting lagi:
“Bagaimana memastikan program tersebut benar-benar terlaksana?”
🤝 SETELAH KONGRES, SEMUA HARUS KEMBALI BERSATU
Kompetisi dalam Kongres adalah sesuatu yang wajar.
Dua calon membawa gagasan.
Para pemilik suara akan memilih.
Salah satu akan menang.
Tetapi setelah pemilihan selesai, persaingan harus selesai pula.
Ketua Umum terpilih bukan hanya Ketua Umum bagi mereka yang memilihnya.
Ia harus menjadi:
Ketua Umum seluruh insan bridge Indonesia.
Begitu pula pihak yang kalah.
Gagasan yang baik dari calon yang tidak terpilih jangan sampai ikut kalah.
Program yang bagus tetap harus dipertimbangkan jika memang bermanfaat bagi bridge Indonesia.
Karena organisasi yang sehat bukan organisasi yang hanya menjalankan gagasan satu orang.
Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengambil gagasan terbaik dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama.
🏆 DUA VISI, SATU TUJUAN
Pada akhirnya, Isradi Zainal dan Verdianto Iskandar Bitticaca menawarkan pendekatan yang memiliki banyak titik temu.
Satu lebih menonjolkan profesionalisme, digitalisasi, pemerataan pembinaan, sport science dan pembangunan jangka panjang.
Yang lain menekankan pembangunan sistem, kompetisi, Master Point, prestasi internasional dan persatuan komunitas.
Perbedaan tersebut justru sehat.
Sebab bridge Indonesia membutuhkan perdebatan gagasan, bukan sekadar perdebatan nama.
Dan siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin PB GABSI 2026–2030, tantangannya sudah jelas.
Membangun organisasi yang lebih profesional.
Melahirkan lebih banyak pemain muda.
Menghidupkan kompetisi nasional.
Memperkuat klub dan daerah.
Membangun sistem digital yang modern.
Mendatangkan sponsor.
Meningkatkan prestasi internasional.
Dan yang paling penting:
MENYATUKAN SELURUH INSAN BRIDGE INDONESIA.
Karena pada akhirnya kita tidak sedang memilih masa depan untuk satu kelompok.
Kita sedang menentukan masa depan bridge Indonesia.
💬 SEKARANG GILIRAN ANDA BERDISKUSI
Menurut Anda, apa yang paling mendesak dilakukan PB GABSI periode 2026–2030?
1️⃣ Pembinaan atlet muda
2️⃣ Menghidupkan kembali Liga Bridge Indonesia
3️⃣ Digitalisasi organisasi dan database nasional
4️⃣ Peningkatan prestasi internasional
5️⃣ Penguatan klub dan daerah
6️⃣ Sponsor dan pendanaan berkelanjutan
7️⃣ Bridge masuk sekolah dan kampus
8️⃣ Reformasi sistem kompetisi dan Master Point
9️⃣ Persatuan seluruh insan bridge Indonesia
🔟 Semuanya harus dilakukan secara bersamaan
Silakan tuliskan pendapat Anda di kolom komentar.
Jangan hanya menjadi pembaca.
Mari ikut menentukan arah masa depan bridge Indonesia. ♠️ ♥️ ♦️ ♣️ ***
