Home News Pertamina Telah Pasang “Propylene Splitter” di Proyek RDMP Balikpapan

Pertamina Telah Pasang “Propylene Splitter” di Proyek RDMP Balikpapan

oleh Dwipraya

FAKTUAL-INDONESIA: PT Pertamina (Persero) telah memasang alat propylene splitter atau column propane pada proyek strategis nasional refinery development master plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Direktur Utama Kilang Pertamina Balikpapan Feri Yani mengatakan capaian progres dari kedatangan propylene splitter hingga erection equipment berkontribusi sebesar 0,15 persen terhadap progres proyek keseluruhan RDMP Balikpapan. “Pemasangan propylene splitter ini merupakan momentum penting mengingat peralatan ini termasuk dalam long lead item (LLI) yang sudah dipesan sejak Juli 2019 lalu dan tiba di Balikpapan pada Juli 2021,” ujarnya di Jakarta, Rabu (27/10/2021).

Feri menjelaskan bahwa pemasangan propylene splitter berfungsi untuk memisahkan propylene product dari propane product. Propylene splitter dengan tag number C-063-06 pada unit propylene recovery tersebut resmi dipasang pada 25 Oktober 2021.

Capaian tersebut akan berkontribusi terhadap progres positif RDMP Balikpapan yang telah mencapai 42,57 persen pada pertengahan Oktober tahun ini. Prosedur pemasangan propylene splitter dilakukan dengan perencanaan matang oleh tenaga ahli karena alat itu termasuk column tertinggi di proyek RDMP Balikpapan dengan dimensi tinggi 111,04 meter dengan berat 752,6 ton.

“Kami juga menggunakan crane khusus Giant Crane Sarens SGC-90 dengan kapasitas 2.800 ton. Crane ini merupakan electric ring crane raksasa di dunia yang menjadi salah satu pendukung aktivitas pengangkatan alat berat utama di proyek RDMP Balikpapan,” terang Feri dilansir antaranews.com. RDMP Balikpapan merupakan salah satu proyek terbesar Pertamina dengan nilai investasi mencapai 6,5 miliar dolar AS.

Pembangunan proyek tersebut terdiri dari dua fase. Pertama, ditargetkan rampung tahun 2024 bertujuan untuk meningkatkan kapasitas menjadi 360.000 barel per hari dan menghasilkan produk-produk berkualitas yang memenuhi standar Euro V.

Sedangkan fase kedua yang ditarget rampung pada 2026 bertujuan meningkatkan fleksibilitas pasokan minyak mentah serta memproduksi minyak mentah ekonomis yang lebih banyak tersedia di pasaran dengan kandungan sulfur 2,0 persen. ***

Tinggalkan Komentar