Home NasionalNusantara PKM D-3 Farmasi UNS Kembangkan Formula Handsanitizer dan Handwash Minyak Serai

PKM D-3 Farmasi UNS Kembangkan Formula Handsanitizer dan Handwash Minyak Serai

oleh Uti Farinzi
 

PKM D-3 Farmasi UNS mengembangkan Handsanitizer dan Handwash Minyak Serai produk UMKM. (Foto : istimewa)

 
 
FAKTUALid – Prodi D-3 Farmasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, mengembangkan produk handsanitizer dan handwash dengan bahan aktif minyak serai wangi produksi UMKM Surya Wulan, Kelurahan Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.
 
Menurut Ketua Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) UNS 2021 Dian Eka Ermawati, potensi penjualan handsanitizer dan handwash saat ini meningkat pesat.
 
“Hal ini seiring dengan adanya himbauan penyediaan produk tersebut di setiap sarana umum guna mencegah penularan Covid-19,” katanya, Sabtu (17/7/2021).
 
Dian mengatakan minyak serai wangi atau dikenal dengan lemongrass,  kaya akan kandungan minyak atsiri yaitu citronelal 30-45 persen dan geraniol  60-80 persen yang memiliki aktivitas antibakteri spektrum luas dan antijamur.
 
Di Kecamatan Samigaluh selama ini terkenal sebagai sentra pembuatan minyak atsiri yang disebut masyarakat setempat dengan sebutan minyak kleyang. Ada sekitar 20 pengepul yang tergabung dalam paguyuban Koperasi Sari Jaya.
 
Melalui pengembangan tersebut diharapkan bisa menambah nilai jual dari produk tersebut. Jika selama ini produksi minyak atsiri hanya untuk  memenuhi permintaan dari berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Solo, Purwokerto, dan lokal Daerah Istimewa Yogyakarta, maka dengan pengembangan produk dijadikan handsanitizer dan handwash akan memiliki tambahan secara ekonomis.
 
“Tapi tentunya perlu dilakukan serangkaian pengujian sifat fisik, kimia, stabilitas sediaan, uji aktivitas antibakteri, dan antijamur. Hal ini guna memastikan klaim khasiat dan mutu produk,” jelasnya.
 
Tetapi ada kendala yang dihadapi  saat pandemi Covid-19 saat ini yakni menurunnya produksi minyak atsiri. Ini dikarenakan permintaan pasar yang menurun. Hal tersebut mengakibatkan harga minyak atsiri pun anjlok.
 
Apalagi selama ini pemasaran hanya mengandalkan cara konvensional. Tim PKM yang juga beranggotakan Wisnu Kundarto, M.Biomed dan M. Fiqri Zulpadly itu menawarkan alternatif pemasaran melallui online.
 
“Metode ini berfokus pada pemasaran digital melalui situs jual beli dan media sosial. Perubahan trend perilaku konsumen dalam berbelanja produk diyakini akan terjadi seiring berlangsungnya social distancing,” paparnya.
 
Menurut pemilik UMKM Surya Wulan, Bambang Suryanto, selama ini kendala yang dihadapi adalah pemasaran.
 
“Pemasaran produk pun hanya dilakukan secara konvensional, yaitu sebatas area lokal dengan daya beli masyarakat yang masih rendah,”  ucapnya.
 
PKM yang terselenggara di UMKM Surya Wulan ini diharapkan dapat mendorong kegiatan UMKM lainnya dalam rangka meningkatkan kemakmuran bersama di era pandemi Covid-19. Hal ini juga akan menginisasi terbentuknya jejaring Academic-Business-Government yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. (Uti Farinzi) ***

Tinggalkan Komentar