Home NasionalNusantara KPwBI Solo Beri Pelatihan Untuk Pengembangan Usaha Klaster Batik Girilayu

KPwBI Solo Beri Pelatihan Untuk Pengembangan Usaha Klaster Batik Girilayu

oleh Uti Farinzi
 

Salah satu pelatihan yang dilakukan BI Solo bersama Rumah Zakat Solo untuk pelaku usaha Batik Girilayu. (Foto: Istimewa)

 
 
FAKTUALid – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo bersama Rumah Zakat Solo memfasilitasi pengembangan Klaster Batik Paguyuban Giriarum Girilayu, Karanganyar melalui pelatihan secara daring, Jumat (30/7/2021).
 
Pelatihan yang diberikan kepada paguyuban Batik Giriarum tersebut dilakukan secara bertahap. Pada pelatihan tahap kedua ini  dengan topik “Menjadi Wirausaha di Industri Kreatif yang Mandiri & Sukses”.
 
Berbeda dengan pelatihan pertama yang dilaksanakan Juni lalu dengan tema pengelolaan keuangan pribadi dan usaha serta pengenalan produk dan layanan lembaga keuangan yang dilakukan secara offline,  pelatihan kewirausahaan kali ini dilaksanakan secara daring karena kondisi pandemi Covid-19 dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Solo Raya
 
“Pelaksanaan secara daring ini juga dimaksudkan untuk mendorong literasi digital anggota Paguyuban dan melatih agility mereka di dunia digital yang semakin berkembang pesat di era pandemi,” jelas Kepala KPwBI Solo, Nugroho Joko Prastowo, saat membuka pelatihan.
 
Lebih lanjut Nugroho mengatakan tema pelatihan kali ini sesuai dengan identifikasi permasalahan yakni sebagian besar anggota paguyuban masih memiliki mindset sebagai pekerja atau buruh. Sehingga keuntungan yang didapat hanya pada sebatas upah yang diterima.
 
“Diperlukan perubahan mindset (pola berpikir) pekerja menjadi entrepreneur (wirausaha), sehingga termotivasi untuk selalu produktif dan melakukan inovasi-inovasi baru,” jelasnya lagi.
 
Sehingga mampu menciptakan peluang usaha yang menguntungkan. Dengan berwirausaha, anggota paguyuban diharapkan dapat meningkatkan
kesejahteraannya, sekaligus menyediakan lapangan pekerjaan sehingga dapat mengurangi angka penggangguran.
 
Menurut Nugroho, salah satu kunci keberhasilan menjalankan usaha adalah kemampuan berinovasi dan berkreasi, terlebih pada masa pandemi seperti sekarang ini. Selain beradaptasi dengan kondisi terkini, pelaku usaha juga harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perilaku konsumen yang berubah dari sebelumnya.
 
“Mereka dituntut untuk kreatif dan inovatif baik dalam pengembangan produk maupun pemasaran agar produk tetap bertahan dan bahkan meningkat di tengah pandemi,” katanya.
 
Caranya dengan memanfaatkan teknologi digital. Pelaku usaha tinggal mengadopsi cara-cara baru supaya lebih efisien.
 
“Jualan bisa dilakukan di rumah dengan memasarkan melalui marketplace. Pembayaran juga bisa melalui nontunai atau QRIS,” katanya lagi.
 
Pada pelatihan tersebut, menghadirkan pendiri Pelanusa (Pelangi Nusantara), Endahing Noor Suryanti, pelaku UMKM berbasis sosial entrepreneur.
 
Pelanusa merupakan salah satu komunitas yang bergerak di sektor kriya serta pemberdayaan manusia yang sudah berdiri sejak tahun 2012. Dengan memanfaatkan limbah kain perca, usahanya mampu bertahan hingga saat ini.
 
“Saat pandemi, anggota kami tidak ada yang nganggur. Keterampilan yang mereka miliki digunakan untuk membuat masker dan produk lain yang dibutuhkan masyarakat selama pandemi,” ujarnya.
 
Produk binaan Pelanusa mampu menembus pasar ekspor hingga ke Jepang. Dalam satu bulan saat pandemi, omzet mencapai Rp100 juta. (Uti Farinzi) ***

Tinggalkan Komentar