Home NasionalNusantara Gibran Berharap Pariwisata di Kampung Batik Laweyan dan Kauman Bisa Bangkit

Gibran Berharap Pariwisata di Kampung Batik Laweyan dan Kauman Bisa Bangkit

oleh Uti Farinzi

 

Wali Kota Solo membeli baju batik di Kampung Batik Laweyan Solo. (Foto : Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA :Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka berharap pariwisata di Kampung Batik Laweyan dan Kauman Kota Solo, bisa bangkit kembali pasca Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).  Menurut Gibran, percepatan ekonom bisa segera dilakukan karena vaksinasi Covid-19 di Kota Solo sudah mencapai 104 persen.

“Jadi sudah waktunya kita gas lagi agar pariwisata di Kota Solo bisa bangkit lagi tidak hanya Batik Laweyan saja tetapi warung- warung makan, hotel semua harus bangkit lagi dan saya positif saya optimis Oktober nanti kita bisa mulai percepatan pemulihan ekonomi,” jelas Gibran di sela-sela Akselerasi Digitalisasi Pembayaran Terkini (ADIPATI) QRIS yang merupakan bagian kegiatan Road to Solo Great Sale (SGS) 2021 untuk kalangan UMKM, di Kampung Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/9/2021).

Untuk menunjang percepatan ekonomi, Gibran juga mengatakan saat ini digitalisasi pemasaran sangat dibutuhkan. Salah satunya melalui transaksi digital atau cashless.

“Ke depan semua nanti akan serba digital transaksinya, promosi semua nanti serba digital ya kalau kita tidak segera melakukan sosialisasi dengan pedagang ini nanti kita akan ketinggalan. Biar bagaimana pun pembayaran secara cashless ini sangat memudahkan dan langsung cair dihari yang sama,” jelasnya lagi.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Solo juga sempat membeli sejumlah baju batik untuk anaknya, Jan Ethes da La Lembah.

“Beli batik untuk Ethes dan adiknya. Dua baju yang cewek, ini buat anak saja yang gak pernah keluar rumah selama PPKM.  Kalau ibunya sudah punya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo, Nugroho Joko Prastowo pada kesempatan yang sama mengatakan ADIPATI QRIS di sektor UMKM merupakan kegiatan lanjutan dari ADIPATI QRIS pada Pasar Tradisional dan Pasar Modern yang telah dilaksanakan sebelumnya.

“Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, dengan lokasi utama di Kampung Batik Laweyan,” kata Nugroho.

Nugroho juga mengatakan Bank Indonesia Solo memfasilitasi dan mendorong digitalisasi khususnya tenant batik karena batik ini kan juga salah satu ikonik di Kota Solo .

“Dan juga tempatnya sangat klasik karena tidak seperti di mall sehingga ada pendekatan sendiri supaya tenant- tenant atau pengusaha batik yang nanti juga menggunakan pembayara non tunai apapun itu,” ujarnya.

Terkait pelaksanaan SGS 2021, transaksi yang terjadi selama satu bulan pelaksanaan ditargetkan mencapai Rp800 miliar. Tenant yang bergabung dalam SGS juga ditargetkan mencapai 20.000 tenant.

“Maka dari itu saya mohon dorongannya khususnya dari Batik Laweyan dan juga Batik Kauman, UMKM dan semua nya bisa ikut meramaikan dan mensukseskan Aolo Great Sale 2021 dan juga dipandu event event yang sangat luar biasa,” katanya lagi. ***

Tinggalkan Komentar