Nusantara

Doctor Javanese Minicamp, Solusi Dokter Muda Belajar Bahasa Jawa di UNS

Published

on

 

Doctor Javanese Minicamp, sarana bagi calon dokter berbahasa Jawa di UNS. (Foto; Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA:  Banyak dokter muda yang bertugas di Pulau Jawa kesulitan dalam menghadapi pasien yang berbahasa Jawa. Untuk membantu calon dokter berbahasa Jawa,  Mahasiswa Program Studi Profesi Dokter (PSPD) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Ariva Syiva’a,  membuat Doctor Javanese Minicamp.

Doctor Javanese Minicamp merupakan sebuah gerakan sosial yang berfokus pada dokter muda UNS untuk belajar bahasa Jawa.

“Tak sedikit rekan mahasiswa yang merasa bingung ketika berhadapan dengan pasien yang berbahasa Jawa. Saat berpraktik di RSUD dr. Moewardi mereka mengeluh kebingungan ketika dihadapkan dengan pasien berbahasa Jawa,” jelas Ariva, Sabtu (28/5/2022).

Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara mahasiswa Prodi Kedokteran FK UNS dengan mahasiswa, serta alumni Prodi Pendidikan Bahasa Jawa UNS yang bernama Komunitas Si Ojan.

Advertisement

“Doctor Javanese Minicamp ini juga terinspirasi dari pepatah Jawa wong Jawa aja nganti ilang Jawane  atau orang Jawa jangan sampai kehilangan Jawanya,” jelasnya lagi.

Menurut Ariva, dirinya berharap melalui Doctor Javanese Minicamp kembali memunculkan figur dokter yang halus dan sopan, tercermin salah satunya dengan bahasa yang halus dan penuh tata krama pada saat melayani pasien.

Program ini menyasar mahasiswa Prodi Kedokteran UNS, baik mahasiswa preklinik maupun dokter muda. Selain menghasilkan figur dokter yang bisa berbahasa Jawa serta menjunjung tata krama, Doctor Javanese Minicamp juga turut andil dalam menangani kesehatan masyarakat.

Belajar bahasa Jawa yang terdapat dalam program Doctor Javanese Minicamp adalah bimbingan kelas bahasa Jawa secara intensif sebanyak tiga sesi. Fokus kelas bahasa dibagi menjadi keterampilan anamnesis, penyuluhan, dan menjadi pewara.

“Usai mengikuti rangkaian kelas bahasa, para peserta akan mengikuti bakti sosial di Galpentjil Heritage di Desa Pereng sebagai sarana implementasi ilmu yang telah didapatkan,” katanya. ***

Advertisement

Exit mobile version