Nusantara
Ikan di Danau Maninjau yang Mati Bertambah Menjadi 552 Ton

Petani di Danau Maninjau sedang memanen dini ikan miliknya yang masih hidup, Selasa (14/12/2021). (Foto: antaranews.com)
FAKTUAL-INDONESIA: Kematian ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Maninjau, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat bertambah menjadi 552 ton pada Selasa (14/12/2020).
Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Rosva Deswira di Lubukbasung, Selasa, mengatakan, sebelumnya ikan di danau vulkanik itu mati hanya 362 ton pada Senin (13/12) dan bertambah 190 ton pada Selasa (14/12), sehingga menjadi 552 ton.
“Ikan mati ini bertambah di Nagari Koto Gadang Anam Koto sekitar 190 ton,” katanya.
Dengan penambahan itu, tambahnya total ikan mati di Nagari Koto Gadang Anam Koto menjadi 200 ton, karena sebelumnya hanya 10 ton.
Kematian ikan lainnya tersebar di Nagari Tanjung Sani 50 ton, Nagari Koto Kaciak 300 ton dan Nagari Koto Malintang dua ton.
“Jumlah ikan mati sekitar 552 ton di empat nagari atau desa adat itu semenjak beberapa hari lalu. Kematian ikan akibat oksigen berkurang di dalam danau setelah hujan disertai angin kencang melanda daerah itu,” katanya.
Rosva Deswira menjelaskan, akibat hujan disertai angin kencang yang melanda daerah itu, maka terjadi pembalikan massa air, sehingga berkurangnya oksigen di danau vulkanik tersebut.
Setelah itu ikan mengalami pusing. Beberapa jam setelah itu, ikan menjadi mati dan mengapung ke permukaan.
“Kita mengimbau petani untuk mengumpulkan bangkai ikan yang sudah mati untuk dikubur, agar tidak terjadi pencemaran air dan udara di daerah itu,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya telah mengimbau petani untuk tidak menebar bibit ikan dari Agustus sampai Januari, karena curah hujan cukup tinggi disertai angin kencang.
Imbauan itu setiap tahun diberikan dan bahkan papan imbauan telah dipasang. “Imbauan setiap tahun kita sampaikan dalam meminimalisir kematian ikan,” katanya.
Panen Dini
Ia menambahkan, sebagian petani di Koto Gadang Anam Koto melakukan panen secara dini untuk mengurangi kerugian.
Ikan yang dipanen itu sudah siap panen dan langsung mereka packing untuk dikirim ke pasar tradisional.
Sementara bangkai ikan yang sudah mati tidak ada dibuang ke dalam danau.
“Petani sangat peduli terhadap lingkungan, sehingga bangkai ikan tidak dibuang ke dalam danau. Sementara bangkai ikan di perairan daerah itu merupakan kiriman dari daerah lain,” katanya.
Ikan mati itu bisa diolah menjadi tepung. Namun teknologi pengolahan itu belum bisa akibat lemak ikan di Danau Maninjau cukup tinggi.
Dengan kondisi itu, ikan yang mati tidak bisa diolah menjadi tepung. Sementara alat untuk mengolah tepung sudah ada.
“Ke depan kita berusaha bagaimana ikan bisa diolah menjadi tepung dalam meminimalisir pencemaran air danau,” katanya dilansir antaranews.com. ***