Connect with us

Nusantara

Banjir di Mamuju Sebabkan Ratusan Orang Mengungsi, Sebagian Terpaksa Tidur di Kursi Terminal

Avatar

Diterbitkan

pada

Petugas medis memeriksa kesehatan dan membagikan susu kepada anak yang ikut mengungsi di Terminal Simbuang Kabupaten Mamuju, Senin (13/6/2022). (Antaranews.com)

FAKTUAL-INDONESIA: Jumlah pengungsi banjir yang didata pemerintah di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mencapai 137 kepala keluarga (KK) atau 522 jiwa.

“Berdasarkan data badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju, jumlah pengungsi banjir yang terdata di Kabupaten Mamuju mencapai 137 KK atau 522 jiwa,” kata Bupati Kabupaten Mamuju, Sutinah Suhardi di Mamuju, Selasa (14/6/2022).

Ia mengatakan, pengungsi banjir yang terdata tersebut, diantaranya berada di lingkungan sebanyak 16 KK atau 49 jiwa, di Terminal Simbuang Kota Mamuju 99 KK atau 372 jiwa.

Kemudian terdapat di Masjid pertamina Simbuang kota Mamuju 22 KK atau 101 jiwa.

Menurut dia, untuk korban terdampak banjir karena pemukimannya terendam di sejumlah wilayah di kota Mamuju diantaranya di Kelurahan Simboro sebanyak 51 KK atau 222 jiwa di Kelurahan rangas 251 KK atau 989 jiwa

Advertisement

Kemudian di Desa bambu 160 KK atau 850 jiwa di Desa tadui 140 KK atau 1.500 jiwa.

Selain itu di lingkungan Ampallas selatan dan Ampallas Utara Kelurahan Bebanga Kampung Baru dan Lengke Kanangkanang Kelurahan Bebanga sebanyak 87 KK atau 358 jiwa.

Ia mengatakan, banjir di Mamuju mengakibatkan satu jembatan, satu Mesjid dan sekolah di lingkungan Sese Kelurahan Simboro, mengalami kerusakan dan sebanyak 602 unit rumah terendam.

Bupati Mamuju mengatakan, musibah banjir di Mamuju tidak dapat dihindari, sehingga pemerintah berupaya membantu masyarakat dipengunsian.

“Pemerintah di Mamuju telah menyalurkan kebutuhan pokok, untuk disalurkan pemerintah desa dan kelurahan di Mamuju, untuk korban banjir dipengungsian, dan pemerintah akan tetap bersama masyarakat yang dilanda bencana,” katanya.

Advertisement

Warga korban banjir Sahari, berterimakasih atas kepedulian pemerintah Kabupaten Mamuju dalam menangani korban banjir dengan memberikan bantuan.

Pengungsi di Terminal

Informasi lain hari Senin (13/6/2022), puluhan warga terdampak banjir bercampur lumpur di Kabupaten Mamuju masih mengungsi atau bertahan di Terminal Simbuang,

Dari pantauan di Terminal Simbuang, Senin Sore, warga terlihat membuat tenda-tenda darurat di ruang tunggu dan sebagian memanfaatkan tempat duduk terminal sebagai tempat tidur.

“Kami tidur seadanya di tempat duduk ruang tunggu terminal karena tidak ada tenda yang disiapkan,” kata salah seorang pengunsi, Firman.

Advertisement

Ia mengatakan, sebagian besar warga yang mengungsi di Terminal Simbuang, merupakan warga di sekitar bantaran Sungai Karema yang rumahnya sangat terdampak saat terjadi banjir pada Minggu sore (12/6).

Walaupun saat ini air sudah surut dan banyak warga mulai membersihkan rumah mereka, namun Firman mengaku masih akan bertahan di pengungsian karena rumahnya rusak dan dipenuhi lumpur.

“Siapa yang mau tinggal seperti ini. Kami bersama lebih 100 warga lainnya masih bertahan karena rumah kami rusak dan dipenuhi lumpur,” tuturnya.

“Kami berharap, ada perhatian dari pemerintah sebab tidak mungkin kami memperbaiki rumah kami dalam kondisi seperti ini,” ujar Firman.

Apalagi tambahnya, trauma banjir bandang yang melanda Kabupaten Mamuju empat tahun silam ditambah gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo pada Januari 2021 dan gempa berkekuatan 5,8 magnitudo pada Rabu (8/6) masih membayangi warga di kawasan tempat tinggalnya.

Advertisement

“Saat gempa pekan lalu, kami juga mengungsi di sini (Terminal Simbuang) dan berselang sehari setelah kembali ke rumah, kami kembali mengungsi di Terminal Simbuang,” kata Firman.

Warga lainnya, Sisilia mengaku juga masih tetap bertahan di tempat pengungsian di Terminal Simbuang karena rumahnya rusak diterjang banjir bercampur lumpur.

“Hanya sekitar setengah jam air tiba-tiba naik sehingga kami langsung mengungsi ke sini. Hanya sedikit baju yang bisa kami bawa sementara sebagian pakaian anak-anak saya dan suami terbawa air,” tutur Sisilia yang mengungsi bersama dua anaknya yang baru berusia dua tahun dan tiga tahun.

Saat ini kata dia, yang paling dibutuhkan para pengungsi adalah tenda, pakaian anak-anak dan pakaian bekas untuk orang dewasa.

“Selain rumah rusak, banyak perabotan rumah juga hanyut. Kalau bantuan makanan lumayan, begitupun dengan obat-obatan dan susu untuk anak-anak, tadi sudah ada yang memberikan bantuan,” tutur Sisilia. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement