Home NasionalNusantara Warga Jawa Timur Diminta Tunda Tradisi Toron

Warga Jawa Timur Diminta Tunda Tradisi Toron

oleh Akbar Surya

Jembatan Suramadu yang biasanya ramai setiap menjelang Iedul Adha. (Foto: istimewa)

FAKTUALid – Masyarakat Jawa Timur diminta untuk menunda tradisi toron (mudik bagi orang Madura) saat Hari Raya Iedul Adha yang jatuh pada hari Selasa (20/7/2021). Himbauan itu dilakukan untuk menekan jumlah kasus Covid-19 yang masih melambung dan mencegah timbulnya klaster baru Iedul Adha.

Menurut Direktur Lalu Lintas Polda Jatim, Kombes Pol Latif Usman, pihaknya sudah memperketat pembatasan mobilitas sejak 17 Juli dan akan dilakukan hingga 25 Juli mendatang. “Tentunya yang mudik untuk sementara ditangguhkan dulu. Karena memang tidak sangat urgen,” ujarnya, Minggu (18/7/2021) malam.

Titik penyekatan mobilitas masih sama dengan pelaksanaan PPKM Darurat. Untuk skala provinsi misalnya ada tujuh titik, antar-rayon ada 20 titik, dan antarkabupaten ada 74 titik. Sementara di dalam kota/kabupaten di Jatim, secara keseluruhan ada 196 titik penyekatan yang diistilahkan sebagai pengendalian mobilitas.

Termasuk diantaranya pengelolaan 18 gerbang keluar tol di Jatim secara keseluruhan. Bahkan jalan-jalan tikus akan ditempatkan personel, dan melakukan patroli/hunting untuk mengetahui potensi aktivitas masyarakat. Polda Jatim, kata dia, hanya akan mengizinkan mobilitas orang yang bekerja di sektor esensial dan kritikal sebagaimana Instruksi Mendagri soal PPKM Darurat.

Dia menyatakan bahwa pembatasan mobilitas dan kegiatan ini bukan hanya di Madura saja, tapi secara umum di semua kabupaten/kota saat perayaan Idul Adha. Pihaknya meminta dukungan seluruh masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, juga tokoh pemuda untuk mengajak keluarganya untuk menahan diri menunda mudik Idul Adha.

Pihaknya memaklumi bahwa tradisi toron ini sudah menjadi budaya terutama bagi warga Madura. Tapi dalam situasi seperti sekarang, semua masyarakat diminta untuk menahan diri.

Sebelumnya, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa juag pernah menghimbau masyarakat agar menunda tradisi toron tersebut. “Mohon untuk bisa kembali menunda keinginan tradisi toron itu, suasana ini tidak cukup untuk silaturahim dilakukan dengan kerumunan. Yang kita harapkan semuanya dalam keadaan sehat, dan Covid-19 ini bisa dikendalikan dengan baik,” ujarnya saat di Bangkalan, beberapa waktu lalu.

Penundaan tradisi toron ini diharapkan bisa menurunkan angka Covid-19 dan mencegah timbulnya klaster baru. Berbagai jajaran juga berupaya melibatkan organisasi paguyuban orang Madura seperti Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Wadah IKAMA untuk membantu memberikan pencerahan kepada anggotanya.***

Tinggalkan Komentar