Nasional
Mendagri, Wilayah Perbatasan Rentan Dikuasai Pihak Asing Sehingga Perlu Dibangun Infrastruktur

Mendagri Muhammad Tito Karnavian. (Ist).
FAKTUAL-INDONESIA: Wilayah perbatasan Indonesia, Singapura dan Malaysia di Karang Singa, gugusan karang Indonesia sangat rentan dikuasai pihak asing. Oleh sebab itu perlu dibangun infrastruktur di wilayah tersebut.
Hal ini disampaikan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tirto Karnavian dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR RI di Jakarta, Selasa (5/4/2022).
Mendagri menargetkan pembangunan infrastruktur di Karang Singa dapat dimulai paling lambat 2023. Karena menurutnya wilayah perbatasan itu merupakan area yang strategis dan rentan dikuasai pihak asing sehingga pemerintah perlu membangun infrastruktur demi memperkuat kedaulatan NKRI di tempat tersebut.
Untuk itu, Mendagri meminta dukungan dari Komisi II DPR RI terkait rencana pembangunan infrastruktur di Gugusan Karang Singa.
“Mohon dukungan Bapak, Ibu sekalian supaya ini terbangun tahun ini, paling lambat tahun depan, sebelum nanti ada yang ngerjain (mengusik, red.) kita,” kata Tito saat menyampaikan rencana kerja Kemendagri di Komisi II DPR RI.
Gugusan Karang Singa, yang berlokasi di 6,85 kilometer dari utara Pulau Bintan, merupakan titik strategis (choke point) di Selat Malaka.
Ia menegaskan pemerintah perlu memperkuat kedaulatan Indonesia di gugusan karang itu demi mengantisipasi ancaman pihak asing dan mencegah insiden Sipadan dan Ligitan kembali berulang.
“Saya sudah rapat dengan Wakil Menteri Pertahanan, Kepala Badan Keamanan Laut, dan Menteri Perhubungan agar dibangun paling tidak mercusuar. Jangan sampai nanti kasus Sipadan Ligitan (berulang), karena (gugusan karang) itu merupakan choke point paling utama (Selat Malaka) dari Aceh sampai bawah di Bintan,” tutur Mendagri.
Choke point merupakan istilah transportasi merujuk pada perairan sempit yang strategis dan menentukan lalu lintas transportasi dan perdagangan dunia.
Tito saat rapat menjelaskan ada enam choke point dunia, yaitu Terusan Panama, Terusan Suez, Selat Gibraltar, Selat Hormuz, Laut Merah, dan Selat Malaka.
“Selat Malaka itu jalur penting untuk Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Vietnam, Thailand. Jika kita lihat choke point Selat Malaka titik-nya di perbatasan antara karang Malaysia, karang Singapura, dan karang Indonesia,” papar Tito Karnavian.
Tito, yang telah datang langsung ke lokasi pada Januari 2022 bersama Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Aan Kurnia, Wakil Menteri Pertahanan Muhammad Herindra, dan Gubernur Kepri Ansar Ahmad, menyampaikan Malaysia dan Singapura telah membangun infrastruktur di gugusan karangnya masing-masing, sementara di gugusan karang Indonesia sejauh ini hanya ada buoy (pelampung).
“Karang Malaysia sudah dibangun infrastruktur berupa helipad, sementara di Singapura ada struktur yang masif,” sebut Tito. ***