Nasional
Kemenhut Umumkan Kelahiran Bayi Orangutan Sumatra di Cagar Alam Janth

Orangutan bernama Wenda lahirkan bayi orangutan. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Jelang peringatan HUT RI ke-81, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengumumkan kabar menggembirakan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Seekor bayi orangutan sumatra (Pongo abelii) lahir di kawasan Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut kelahiran bayi orangutan tersebut menjadi simbol harapan baru bagi upaya pelestarian satwa langka dan keberlanjutan ekosistem hutan Indonesia. Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa program rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan dapat memberikan hasil nyata.
“Pemerintah berkomitmen memperkuat konservasi satwa liar, menindak perdagangan ilegal, serta memastikan setiap orangutan yang dilepasliarkan memiliki kesempatan hidup, beradaptasi, dan berkembang biak di habitat alaminya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (1/8/2026).
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, menjelaskan bayi tersebut merupakan anak dari orangutan betina bernama Wenda. Induknya diketahui pernah menjalani proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke kawasan Cagar Alam Jantho pada 2014.
Keberadaan bayi orangutan itu dipastikan pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 16.30 WIB saat tim Post Release Monitoring (PRM) melakukan pemantauan rutin di kawasan konservasi. Dalam pengamatan tersebut, Wenda terlihat menggendong seekor bayi yang diperkirakan berusia kurang dari sepekan.
Hasil observasi menunjukkan bayi orangutan tersebut berjenis kelamin betina. Sebelumnya, tanda-tanda kehamilan Wenda telah terdeteksi sejak Januari 2026 melalui perubahan fisik yang diamati oleh tim pemantau.
Wenda sendiri tiba di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP Sibolangit pada 2009 ketika masih berusia sekitar satu tahun. Setelah menjalani rehabilitasi, ia dipindahkan ke Pusat Reintroduksi Jantho pada 2013 dan dilepasliarkan ke habitat alaminya setahun kemudian.
Menurut Ujang, bertambahnya populasi orangutan sumatra di Cagar Alam Jantho merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, lembaga mitra konservasi, serta masyarakat dalam menjaga kawasan hutan tetap lestari.
Ia menegaskan, pengawasan kawasan akan terus diperkuat, disertai peningkatan kerja sama dengan berbagai pihak dan pelibatan masyarakat untuk mencegah perusakan hutan maupun perdagangan satwa liar.
“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja bersama. Dengan sinergi semua pihak, kami optimistis masa depan orangutan sumatra beserta habitatnya dapat terus terjaga,” kata Ujang.
Ia juga menambahkan bahwa kelahiran bayi orangutan tersebut bukan sekadar kabar baik bagi dunia konservasi, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian hutan.
“Orangutan hanya dapat bertahan hidup apabila habitatnya tetap terpelihara. Karena itu, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan,” pungkasnya.***