Ibu Kota
Jakarta Kembali Gelar Modifikasi Cuaca Semai 3,2 Ton NaCl

Ilustrasi modifikasi cuaca kembali dilakukan di Jakarta. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Guna mengantisipasi banjir di Jabodetabek, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menyemai 3,2 ton natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) di langit sekitar Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026.
Hal itu dikatakan Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Isnawa Adji di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
“Pada hari ke-12, kami melaksanakan empat kali sorti penerbangan sebagai upaya menekan curah hujan tinggi,” kata dia.
Baca Juga : Pemprov DKI Jakarta Lakukan Modifikasi Cuaca 5-10 November, Tolak Hujan Lebat
Menurut dia, pada sorti pertama dilaksanakan pada pagi hari dengan penyemaian awan dilakukan di wilayah overhead perairan utara Jakarta pada ketinggian 8.000-12.000 kaki.
Pada sorti ini digunakan bahan semai berupa NaCl sebanyak 800 kilogram.
Baca Juga : Pemerintah Tambah Operasi Modifikasi Cuaca untuk Tangani Banjir Jabodetabek
Sementara, sorti kedua dilaksanakan pada hari yang sama dengan fokus penyemaian awan di wilayah overhead Jakarta Selatan. Proses penyemaian dilakukan pada ketinggian 6.000 kaki dengan target awan stratocumulus.
“Awan target memiliki base 3.000 kaki dan top 5.000 kaki, dengan arah angin dominan dari barat laut berkecepatan 12 knot,” ujarnya.
Pada sorti ini digunakan bahan semai CaO sebanyak 800 kilogram. “Sementara itu, sorti ketiga dilaksanakan pada siang hari dengan area semai di wilayah overhead Bekasi dan 800 kg CaO disemai,” ujarnya.
Baca Juga : Pemprov DKI Kembali Lakukan Modifikasi Cuaca Hingga 6 Februari 2025
Pada sore hari, sorti keempat kembali dilaksanakan dengan area penyemaian awan di wilayah overhead Kabupaten Bogor, penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000-7.000 kaki, dengan area semai pada radial 150-210 derajat dan menggunakan CaO sebanyak 800 kilogram.
Isnawa juga menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC hari ke-12 merupakan langkah antisipatif untuk mengendalikan potensi curah hujan tinggi yang dapat berdampak pada wilayah DKI Jakarta.
“Seluruh pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan pemantauan cuaca secara intensif, sehingga penyemaian awan dapat diarahkan ke wilayah yang lebih aman,” pungkasnya.***