Nasional
Rakor KKSK Triwulan IV: Menkes Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Agar Kebijakan Tidak Tumpang Tindih

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti perubahan struktur keluarga Indonesia yang semakin kecil, sehingga kebutuhan dukungan negara untuk perawatan lansia meningkat. (Kemenkes)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya kolaborasi antar lembaga agar kebijakan berjalan efektif dan tidak tumpang tindih.
“Banyak kebijakan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Misalnya koordinasi dengan BPOM terkait obat-obatan alam dan teknologi baru, serta penyelarasan dengan BPJS terkait home care dan sejumlah aturan teknis. Semua ini perlu disinkronkan agar tidak berjalan terpisah,” kata Menkes Budi Gunadi pada Rapat Koordinasi Triwulan IV Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) di Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/ BKKBN Jakarta, Senin (8/12).
Dalam Rakor itu empat lembaga kunci—Kementerian Kesehatan, Kemendukbangga/BKKBN, BPJS Kesehatan, dan BPOM—bertemu untuk menyelaraskan kebijakan kesehatan nasional lintas sektor.
Baca Juga : Kemenpar – Kemenkes Perkuat Sinergi Kembangkan Wisata Kesehatan, Menpar Widiyanti Targetkan Indonesia Masuk 10 Besar Dunia
Pertemuan fokus pada tiga isu besar: peningkatan layanan lansia, kesehatan jiwa anak dan remaja, serta sinkronisasi pemanfaatan alat kesehatan modern di daerah.
Budi Gunadi juga menyoroti perubahan struktur keluarga Indonesia yang semakin kecil, sehingga kebutuhan dukungan negara untuk perawatan lansia meningkat.
“Keluarga Indonesia semakin bergeser ke keluarga kecil sehingga kemampuan merawat lansia berkurang. Pemerintah perlu menyusun kebijakan bersama agar penanganan lansia dilakukan lebih baik. Mereka telah berkontribusi bagi negara dan kita harus memastikan dukungan negara hadir,” jelasnya.
Terkait kesehatan jiwa, Budi menyampaikan temuan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes yang menunjukkan peningkatan signifikan masalah mental pada anak.
Baca Juga : KLB Polio Indonesia Berakhir, Menkes Budi Gunadi: Tidak Boleh Berpuas Diri, Risiko Masih Ada
“Gangguan kesehatan jiwa pada anak lima kali lebih tinggi daripada dewasa. Penggunaan handphone dan gadget secara terus menerus mengubah pola interaksi dan berdampak pada kesehatan mental mereka,” ujarnya.
Di bidang teknologi kesehatan, Budi memastikan Kemenkes tengah memperluas penyediaan alat kesehatan modern ke fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.
“Kami sedang mengembangkan deployment alat-alat kesehatan modern ke rumah sakit di 514 kabupaten/kota. Namun BPJS memiliki anggaran yang harus dijaga agar tidak terlampaui. Karena itu tarif dan pemanfaatannya harus disinkronkan agar alat dapat digunakan optimal tanpa membebani pembiayaan,” tegasnya.
Baca Juga : World Diabetes Day: Menkes Budi Gunadi Menekankan Pentingnya Pemeriksaan Berkala, Termasuk pada Anak dan Remaja
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Dr. Wihaji menekankan pentingnya sinergi empat lembaga dalam menangani isu lansia dan kesehatan jiwa di tengah perubahan demografi.
“Aging population kita sudah mencapai 12%. Program seperti Lansia Berdaya, sekolah lansia, dan layanan kesehatan harus dirumuskan bersama agar negara tetap hadir,” ujarnya.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prof. Ali Ghufron Mukti menjelaskan bahwa layanan untuk lansia dan kesehatan jiwa menjadi beban pembiayaan yang terus meningkat.
“BPJS mengeluarkan sekitar Rp 42 triliun untuk layanan lansia setiap tahun, dan semua gangguan kesehatan jiwa dijamin, angka remaja yang terdeteksi bermasalah juga terus naik,” ungkapnya.
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menambahkan pentingnya pengawasan obat dan teknologi kesehatan modern yang berpengaruh pada anak dan keluarga.
“Perubahan perilaku digital berdampak pada kesehatan jiwa 72 juta anak. BPOM mendukung penuh sinkronisasi kebijakan, termasuk kesiapan obat dan perangkat kesehatan,” ujarnya. ***













