Nasional
Peresmian Fakultas Saintek Universitas Hindu Negeri I GB Sugriwa Bali, Menag Nasaruddin: Ilmu dan Agama Harus Beriringan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat Pembinaan Pegawai dan Peresmian Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Hindu Negeri UHN I Gusti Bagus Sugriwa, di Auditorium Giri Prasta, kampus pusat Bangli, Bali, Senin (23/3/2026). (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: “Ilmu tanpa agama kehilangan arah, sementara agama tanpa ilmu kehilangan relevansi. Keduanya harus berjalan beriringan.”
Kata-kata mutiara bijak itu diungkapkan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menghadiri Pembinaan Pegawai dan Peresmian Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Hindu Negeri UHN I Gusti Bagus Sugriwa, di Auditorium Giri Prasta, kampus pusat Bangli, Bali, Senin (23/3/2026).
Menag Nasaruddin menyoroti urgensi penguatan pendidikan berbasis sains dan teknologi yang selaras dengan nilai keagamaan. Ia berharap perguruan tinggi mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.
Baca Juga : Ucapkan Selamat Idulfitri, Menag Nasaruddin: Momentum Menyemai Kebaikan dan Meraih Keberkahan
“Ilmu tanpa agama kehilangan arah, sementara agama tanpa ilmu kehilangan relevansi. Keduanya harus berjalan beriringan,” ungkapnya.
Seperti dilansir laman Kemenag, Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan perkembangan sains dan teknologi dalam dunia pendidikan tinggi. Dia mengemukakan, kemajuan teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah. Ia mengingatkan bahwa penguatan dimensi spiritual harus menjadi fondasi agar perkembangan ilmu pengetahuan tetap membawa manfaat bagi kemanusiaan.
“Jangan sampai kita maju secara teknologi, tetapi kehilangan arah secara spiritual. Teknologi harus dipandu oleh nilai-nilai agama agar tetap memanusiakan manusia,” ujarnya.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Membaur dan Menyapa Para Musafir di Masjid Ramah Pemudik, Doakan Selamat sampai Tujuan
Tidak Dibangun di Atas Ekstremitas
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menekankan bahwa penguatan kerukunan umat beragama tidak cukup dilakukan melalui forum seremonial semata. Dialog lintas agama, menurutnya, harus menjadi ruang produktif yang melahirkan pemahaman dan kebijaksanaan.
“Kita harus menghadirkan dialog yang berdampak, bukan sekadar pertemuan formal. Dialog harus melahirkan hikmah yang berakar pada nilai lokal dan berwawasan global,” tegasnya.
Baca Juga : Menag Nasaruddin: Pertemuan Nyepi, Ramadan dan Idulfitri Bukan Kebetulan, Vasudhaiva Kutumbakam
Ia menambahkan bahwa moderasi beragama menjadi kunci dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman. Moderasi, lanjutnya, bukan berarti mengurangi ajaran agama, melainkan mengelola cara beragama agar tetap berada di jalan tengah.
“Agama itu sudah sempurna. Yang perlu dimoderasi adalah cara kita beragama. Moderasi adalah upaya menjaga keseimbangan, menghargai perbedaan tanpa memaksakan keseragaman,” jelasnya.
Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya menghindari dua kutub ekstrem dalam kehidupan beragama. Pemaksaan keseragaman dapat memicu radikalisme, sementara kebebasan tanpa batas berpotensi melahirkan sikap liberal yang berlebihan.
“Indonesia tidak dibangun di atas ekstremitas. Kita menjaga keseimbangan melalui nilai toleransi, komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap tradisi,” ujarnya.
Baca Juga : Jelang Idulfitri 1447 Hijriah, Kemenag Ingatkan ASN Jaga Integritas, Tolak Segala Bentuk Gratifikasi
Peresmian Fakultas Sains dan Teknologi di UHN I Gusti Bagus Sugriwa ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Menag, didampingi pimpinan kampus serta tokoh yang hadir. Fakultas ini diharapkan menjadi pusat pengembangan inovasi yang tetap berakar pada nilai budaya dan spiritualitas.
Menutup arahannya, Nasaruddin berpesan kepada mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas diri sekaligus menjaga integritas dan nilai moral.
“Kalian adalah pemimpin masa depan. Kuasai ilmu pengetahuan, berinovasilah, tetapi tetap pegang teguh nilai-nilai spiritual,” pesannya.
Melalui momentum ini, Kementerian Agama berharap terbangun sinergi antara penguatan kerukunan umat beragama dan kemajuan ilmu pengetahuan, guna mendorong pembangunan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan. ***












