Connect with us

Nasional

Korban Tragedi Kanjuruhan, KPAI Sebutkan Penggunaan Gas Air Mata Bahayakan Keselamatan Anak-anak

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Tragedi sepakbola di Stadion Kanjuruhan, Malang, juga mengakibatkan korban anak-anak

Tragedi sepakbola di Stadion Kanjuruhan, Malang, juga mengakibatkan korban anak-anak

FAKTUAL-INDONESIA: Penggunaan gas air mata dalam upaya untuk mengatasi kerusuhan di stadion, sebagaimana yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, membahayakan keselamatan anak-anak.

Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPAA), ada 17 anak kecil tak berdosa tewas dalam kejadian tersebut.

Nahar, Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengungkapkan bahwa sebanyak 7 anak luka-luka dan 17 anak meninggal dunia dengan rentang usia antara 12 tahun hingga 17 tahun. Data ini diduga masih akan bertambah.

Seperti dilansir suarajatim.com, pihaknya juga menyatakan akan terus berupaya menjangkau anak-anak yang menjadi korban dalam tragedi tersebut.

“Kami bersama Dinas PPPA Provinsi dan Kota Malang sedang melacak data anak-anak yang menjadi korban,” kata Nahar pada, Minggu (2/9/2022)

Advertisement

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyatakan, itulah mengapa penggunaan gas air mata tersebut dilarang oleh FIFA.

“FIFA dalam Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19 menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion,” kata Retno Listyarti.

KPAI meminta pemerintah membantu pemulihan kondisi psikis anak-anak yang menjadi korban dalam kerusuhan yang terjadi seusai pertandingan sepakbola di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu malam (1/10).

Retno Listyarti mengatakan bahwa selain memberikan santunan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus mendukung penuh pemulihan kondisi psikis anak-anak yang terluka atau kehilangan orang tua akibat tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.

“Begitu pun bagi anak-anak yang orang tuanya meninggal saat tragedi. Ini butuh dukungan negara, karena mereka mendadak jadi yatim atau bahkan yatim piatu, tulang punggung keluarganya ikut menjadi korban tewas dalam peristiwa ini,” kata Retno dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin.

Advertisement

Selain itu, dia mendesak pemerintah membentuk tim independen untuk menyelidiki peristiwa kerusuhan yang menyebabkan setidaknya 130 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 orang terluka tersebut.

Retno mengingatkan bahwa mengajak anak-anak untuk menghadiri acara dengan massa besar pada malam hari bisa membahayakan keselamatan anak.

“Membawa anak-anak dalam kerumunan massa sangat berisiko, apalagi di malam hari, karena ada kerentanan bagi anak-anak saat berada dalam kerumunan, karena kita tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dalam kerumunan tersebut,” katanya. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca