Connect with us

Nasional

Gunung Semeru Erupsi Setiap Hari Saat Kampanye Pilpres 2024, Tanda-tanda Ada Peristiwa Besar

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Berdasarkan data informasi letusan gunung api di laman Kementerian ESDM tercatat Gunung Semeru mengalami erupsi setiap hari sejak Senin (22/1/2024) pada pukul 15.40 WIB

Berdasarkan data informasi letusan gunung api di laman Kementerian ESDM tercatat Gunung Semeru mengalami erupsi setiap hari sejak Senin (22/1/2024) pada pukul 15.40 WIB

FAKTUAL INDONESIA: Selama beberapa hari terakhir, di tengah-tengah makin panasnya persaingan pemilihan umum presiden (Pilpres) tahun 2024, Gunung Semeru, erupsi setiap hari.

Bahkan Kamis (25/1/2024) pagi, Gunung Semeru kembali erupsi dengan ketinggian letusan yang teramati sejauh 900 meter di atas puncak atau 4.576 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Petugas Pos Pengamatan Gunung api Semeru, Sigit Rian Alfian dalam keterangan tertulisnya di Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur, Kabupaten Lumajang, Kamis, menyatakan bahwa telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Kamis, 25 Januari 2024, pukul 05.06 WIB.

“Kolom abu vulkanik teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 96 detik,” katanya.

Tanda-tanda apa ini Gunung Semeru yang terletak di  perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur itu, terus erupsi, di saat kampanye Pilpres 2024?

Advertisement

Menarik untuk mengetahui tanda-tanda Gunung Semeru terus erupsi setiap hari berdasarkan mitos yang menyelimuti gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Dalam pantauan laporan media online, antaranews.com melansir, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang Yudi Cahyono mengatakan Gunung Semeru erupsi setiap hari selama beberapa hari terakhir berdasarkan informasi yang didapatkan dari Pos Pengamatan Gunung api Semeru di Gunung Sawur.

“Memang benar hampir setiap hari terjadi erupsi, namun skalanya kecil dan tidak berdampak pada warga yang berada di lereng Gunung Semeru,” katanya saat dihubungi di Lumajang, Kamis.

Berdasarkan data informasi letusan gunung api di laman Kementerian ESDM tercatat Gunung Semeru mengalami erupsi setiap hari sejak Senin (22/1/2024) pada pukul 15.40 WIB, namun visual letusan tidak teramati dan erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 101 detik.

Pada Selasa (23/1) terjadi erupsi sebanyak dua kali pada pukul 15.48 WIB dengan visual letusan tidak teramati dan erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 128 detik.

Advertisement

Erupsi kedua terjadi pada pukul 18.53 WIB dengan ketinggian abu vulkanik teramati sekitar 800 meter di atas puncak dan erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 123 detik.

Pada Rabu (24/1) terjadi erupsi sebanyak tiga kali yakni pada pukul pukul 07.25 WIB dengan ketinggian abu vulkanik teramati sekitar 700 meter di atas puncak, erupsi kedua terjadi pada pukul 08.55 WIB dan erupsi ketiga terjadi pada pukul 19.14 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 700 meter di atas puncak Jonggring Saloko.

Kemudian pada Kamis terjadi dua kali erupsi pada pukul 05.06 WIB dengan ketinggian abu vulkanik teramati sekitar 900 meter di atas puncak dan pukul 16.14 WIB dengan tinggi kolom abu vulkanik teramati sekitar 800 meter di atas puncak.

“Kami sudah melakukan pemantauan dan hasilnya tidak ada dampak akibat erupsi yang terjadi selama beberapa hari terakhir ini,” katanya.

Jumlah erupsi Gunung Semeru yang pernah tercatat sejak 1 Januari hingga 25 Januari pukul 19.00 WIB sebanyak 14 kali seiring dengan status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu siaga atau level III.

Advertisement

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

“Warga juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.

Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

Peristiwa Besar

Advertisement

Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang merupakan gunung berapi yang dipenuhi dengan mitos rakyat Jawa. Gunung api yang memiliki ketinggian mencapai 3.676 mdpl ini dianggap sebagai tempat tinggal para dewa.

Berikut 5 mitos terkenal tentang Gunung Semeru dan sosok penunggunya seperti dilansir  lumajang.inews.id:

  1. Gunung Semeru dibawa oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu

Gunung Semeru dipercaya sebagai bagian puncak dari Gunung Meru di India, dibawa oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu ke tanah Jawa. Konon Gunung Semeru ditancapkan sebagai paku bumi saat pulau Jawa masih terombang-ambing di lautan.

  1. Gunung Semeru tempat para Dewa

Puncak Gunung Semeru diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa Hindu dan menjadi penghubung antara Bumi dan Kahyangan. Umat Hindu melakukan upacara sesaji setiap 12 tahun di Mahameru untuk persembahan para Dewa.

  1. Erupsi Gunung Semeru petanda peristiwa besar

Terdapat mitos bahwa letusan Gunung Semeru menjadi pertanda bencana atau peristiwa besar yang membawa penderitaan bagi rakyat, hal ini juga terkait dengan ramalan Jayabaya tentang kemungkinan terbelahnya Pulau Jawa.

  1. Misteri Kawasan Kelik

Kawasan Kelik di Gunung Semeru menyimpan misteri, termasuk adanya banyak nisan untuk orang-orang yang meninggal saat mendaki. Konon, para pendaki pernah mengalami kesurupan roh manusia dan roh binatang di sana.

  1. Sosok penunggu Ranu Kumbolo

Misteri lainnya adalah penghuni Ranu Kumbolo, danau di ketinggian 2.389 mdpl yang dipercaya menjadi tempat bersemayam dewi berpakaian kebaya kuning. Pengunjung dilarang melakukan beberapa aktivitas di danau ini karena dewi tersebut diyakini menjelma menjadi ikan emas besar yang menjaga wilayah tersebut. ***

Lanjutkan Membaca