Nasional

Gunung Semeru dan Merapi Level 3, Apa Jadinya Bila Bareng-bareng Meletus

Published

on

Gunung Merapi muntahkan awan panas guguran, Gunung Semeru (kanan) aktivitasnya masih tinggi

Gunung Merapi muntahkan awan panas guguran, Gunung Semeru (kanan) aktivitasnya masih tinggi

FAKTUAL-INDONESIA: Gunung Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah – DI Yogyakarta dan Semeru di Jawa Timur kini sama-sama berstatus level III alias siaga. Berarti perubahan aktivitas kedua gunung itu bisa diikuti letusan.

Bahkan kabarnya Gunung Slamet juga akan meletus.

Apa jadinya bila gunung itu bareng-bareng meletus?

Tentu bencana yang hebat. Namun tidak perlu khawatir dan panik.

Tetap ikuti petunjuk yang diberikan para petugas dan selalu berdoa kepada Tuhan Yang Esa agar dijauhkan dari mara bahaya dan bencana.

Advertisement

Selalu Mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Selain itu tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak bertanggungjawab mengenai aktivitas Gunung Api.

Gunung Merapi telah ditetapkan dalam status Siaga (Level III) sejak 5 November 2020 silam. Meski telah lebih dari setahun, namun Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan aktivitas Gunung Merapi cukup tinggi dan tetap berstatus Siaga.

Sedangkan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 16 Desember 2021 pukul 23.00.

Menurut laporan BPPTKG, Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran pada sore hari ini Sabtu (18/12/2021).

Advertisement

Dalam akun Twitternya @BPPTKG diinformasikan, awan panas guguran terjadi pada pukul 16.43 WIB meluncur ke arah barat daya, dengan jarak luncur 2.000 meter.

Awan panas guguran berlangsung selama 135 detik dengan tinggi kolom teramati 400 meter condong ke arah Barat.

“Awanpanas guguran #Merapi tanggal 18 Desember 2021 pukul 16.43 WIB tercatat di seismogram dengan amplitudo 35 mm dan durasi 135 detik. Teramati tinggi kolom 400 meter condong ke barat, jarak luncur 2.000 m ke arah barat daya,” tulis BPPTKG.

Sebelumnya, puncak Merapi juga sempat diguyur hujan sejak pukul 14.18 WIB siang tadi. Hujan terjadi dengan intensitas 22 mm/jam.

Untuk itu BPPTKG mengingatkan agar masyarakat yang beraktivitas di sungai yang berhulu Merapi agar mewaspadai lahar hujan.

Advertisement

Gunung Merapi telah ditetapkan dalam status Siaga (Level III) sejak 5 November 2020 silam. Meski telah lebih dari setahun, namun BPTKG masih menetapkan aktivitas Gunung Merapi cukup tinggi dan tetap berstatus Siaga.

Pada Jumat 17 Desember 2021 kemarin tercatat guguran lava terjadi sebanyak 17 kali dengan jarak luncur maksimal 1,8 kilometer kea rah barat daya.

Hingga hari ini, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Tenggara dan Barat Daya sejauh maksimal 3 km ke arah sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Dan Putih.

Sementara lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan status aktivitas Gunung Merapi masih Siaga (level III).

Dengan potensi bahaya tersebut, masyarakat direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan.

Advertisement

Semeru Naik Level

Terhitung mulai tanggal 16 Desember 2021 pukul 23.00, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

“Mengingat kegiatan Gunung Api Semeru masih tinggi dan telah terjadi peningkatan jarak luncur awan panas guguran serta aliran lava maka Badan Geologi menyatakan Tingkat Aktivitas Gunung Api Semeru dinaikan dari level WASPADA (Level II) menjadi SIAGA (Level III) terhitung mulai tanggal 16 Desember 2021 pukul 23:00 WIB,” ujar Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono, Kamis (16/12/2021) malam.

Maka dari itu, Badan Geologi mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer (km) dari puncak. Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

“Selain itu, masyarakat juga tidak boleh memasuki dan tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” tambah Eko.

Advertisement

Sebelumnya, pada Kamis (16/12), telah terjadi luncuran awan panas pada pukul 09.01 WIB sejauh 4,5 kilometer dari puncak. Kejadian awan panas ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 912 detik. Kemudian, terjadi luncuran awan panas pada pukul 09:30 WIB.

Kejadian awan panas ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 17 mm dan durasi 395 detik, namun secara visual tidak teramati karena Gunung Api Semeru tertutup kabut. Sore harinya, terjadi luncuran awan panas pada pukul 15:42 WIB sejauh 4,5 km dari puncak. Kejadian awan panas ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 20 mm dan durasi 400 detik.

“Selain itu, dari pengamatan kegempaan, teramati kegempaan didominasi oleh gempa Letusan, Hembusan, dan Guguran dengan jumlah gempa Guguran meningkat dalam tiga hari terakhir sebanyak 15-73 kejadian per hari dari rata-rata 8 kejadian per hari sejak tanggal 1 Desember 2021. Gempa Vulkanik Dalam dan Tremor Harmonik terjadi dalam jumlah yang tidak signifikan,” jelas Eko.

Aktivitas awan panas guguran masih berpotensi terjadi dikarenakan adanya endapan aliran lava (lidah lava) dengan panjang aliran +- 2 km dari pusat erupsi. Aliran lava tersebut masih belum stabil dan berpotensi longsor terutama di bagian ujung alirannya, sehingga bisa mengakibatkan awan panas guguran.

“Selain berpotensi terjadi awan panas, potensi terjadinya aliran lahar juga masih tinggi mengingat curah hujan yang cukup tinggi di Gunung Api Semeru. Didukung data dari BMKG diperkirakan musim hujan masih akan berlangsung selama 3 bulan kedepan. Secondary explosion juga berpotensi terjadi di sepanjang aliran sungai apabila luncuran awan panas yang terjadi masuk/kontak dengan air sungai,” tambah Eko. ***

Advertisement

Exit mobile version