Nasional
Dari Semarang ke Istana: Abigail Amankila Adyomi, Anak Muda Semarang yang Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Musik

Semoga perjalanan anak Semarang, Abigail Amankila Adyomi masih panjang dan semakin banyak panggung besar yang akan menantinya. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
Bukan hanya karena tempat itu merupakan salah satu simbol penting negara, tetapi karena di sana setiap nada, setiap langkah dan setiap tugas memiliki makna. Pada hari ketika bangsa Indonesia memperingati kemerdekaannya, para pemuda yang terpilih untuk tampil dalam upacara kenegaraan membawa bukan hanya kemampuan, tetapi juga harapan dan kebanggaan dari daerah asal mereka.
Salah satunya adalah Abigail Amankila Adyomi, gadis berusia 20 tahun asal Semarang.
Pada 17 Agustus 2026, Abigail menjadi salah satu dari 64 anggota Orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) yang bertugas mengiringi Paduan Suara dalam rangkaian Upacara Kenegaraan Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, serta Upacara Penurunan Bendera di Istana Negara.
Bagi Abigail, yang akrab dipanggil Kila, kesempatan tersebut tentu bukan sekadar sebuah pertunjukan musik.
Ini adalah sebuah pengalaman yang sangat istimewa.
Kila menjadi satu-satunya peserta asal Semarang dalam jajaran anggota Orkestra Gita Bahana Nusantara tahun ini. Ia juga terpilih bersama seorang peserta dari Yogyakarta.
Di tengah megahnya Istana, di antara para musisi muda dari berbagai daerah di Indonesia, Kila berdiri dengan membawa French Horn.
Sebuah alat musik yang justru belum terlalu lama ditekuninya.
## Dari Saxophone ke French Horn
Ada cerita menarik di balik alat musik yang dimainkan Kila.
Selama lebih dari empat tahun, Kila sebenarnya lebih banyak menekuni saxophone. Namun sekitar dua tahun terakhir, ia mulai beralih dan mendalami French Horn*.
Peralihan instrumen tentu bukan sesuatu yang sederhana.
Setiap alat musik memiliki karakter, teknik permainan dan tingkat kesulitan tersendiri. French Horn memiliki warna suara yang khas dan membutuhkan penguasaan teknik serta kepekaan musikal yang tinggi.
Namun Kila menjalaninya dengan tekun.
Ia belajar, beradaptasi dan terus mengembangkan kemampuan pada instrumen yang relatif baru baginya.
Kerja keras itu akhirnya membawanya ke sebuah panggung yang mungkin akan selalu dikenang dalam perjalanan hidupnya:
Istana Negara pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari seorang pelajar yang selama bertahun-tahun akrab dengan saxophone, ia kini berdiri sebagai pemain French Horn dalam sebuah orkestra nasional yang beranggotakan talenta-talenta muda dari berbagai penjuru Indonesia.
## Anak Semarang di Panggung Nasional
Kehadiran Kila juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Semarang.
Tidak setiap anak muda mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah pertunjukan kenegaraan. Apalagi pada momentum yang sangat simbolis seperti peringatan Hari Kemerdekaan.
Ia membawa nama Semarang ke panggung nasional.
Namun kisah Kila juga menunjukkan bahwa kesempatan besar sering kali datang setelah seseorang berani keluar dari zona nyaman.
Berpindah dari saxophone ke French Horn adalah salah satu bentuk keberanian itu.
Ia harus kembali belajar, beradaptasi dan membangun kemampuan pada instrumen yang berbeda. Tetapi justru dari proses tersebut terbuka kesempatan yang lebih besar.
## Musik, Pendidikan dan Sejarah
Menariknya, dunia musik bukan satu-satunya bidang yang ditekuni Kila.
Ia saat ini merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS), semester lima.
Sebelumnya, Kila merupakan lulusan SMK Negeri 2 Bantul, yang lebih dikenal sebagai SMM Yogyakarta, dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2024.
Pilihan studinya di bidang sejarah membuat kisahnya menjadi semakin menarik.
Seorang mahasiswa ilmu sejarah yang selama ini mempelajari perjalanan bangsa, kini justru mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah peristiwa kenegaraan yang kelak juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sendiri.
Ia tidak hanya mempelajari sejarah.
Pada 17 Agustus 2026, ia ikut **menjadi bagian dari sebuah momentum sejarah.
## Dari Ruang Latihan ke Istana
Di balik penampilan beberapa menit di depan publik, selalu ada proses panjang yang tidak terlihat.
Ada latihan.
Ada disiplin.
Ada rasa lelah.
Ada tuntutan untuk bermain bersama dalam sebuah orkestra, di mana setiap pemain harus mampu menempatkan dirinya sebagai bagian dari sebuah kesatuan besar.
Tidak ada instrumen yang boleh berjalan sendiri.
Tidak ada pemain yang boleh hanya memikirkan dirinya sendiri.
Semua harus mendengarkan, mengikuti conductor, menjaga tempo, dinamika dan keseimbangan suara.
Mungkin di situlah salah satu pelajaran terbesar dari sebuah orkestra.
Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebat seseorang bermain, tetapi juga oleh seberapa baik ia mampu bekerja bersama orang lain.
Dan nilai itu sesungguhnya sangat relevan dengan kehidupan.
## Istana dan Sebuah Kebanggaan
Bagi sebagian orang, Istana mungkin hanya terlihat sebagai sebuah bangunan megah.
Tetapi bagi Kila dan para anggota Gita Bahana Nusantara, Istana pada 17 Agustus 2026 memiliki arti yang jauh lebih besar.
Di tempat itulah mereka membawa hasil latihan, pendidikan dan kecintaan mereka terhadap musik.
Di tempat itulah seorang anak muda dari Semarang berdiri bersama anak-anak muda lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.
Mereka datang dengan latar belakang berbeda.
Berbeda kota.
Berbeda sekolah.
Berbeda instrumen.
Tetapi pada hari itu mereka memainkan musik untuk satu bangsa yang sama:
Indonesia.
Dan di antara suara-suara musik yang mengiringi upacara kenegaraan tersebut, terdengar pula suara French Horn yang dimainkan oleh seorang gadis muda asal Semarang bernama Abigail Amankila Adyomi.
## Kebanggaan Seorang Kakek
Ada satu hal lain yang membuat kisah Abigail ini terasa semakin istimewa.
Di balik kebahagiaan Abigail, ada seorang kakek yang tentu memiliki kebanggaan tersendiri.
Namanya Hararyo Kusumo.
Bagi saya, Haryayo bukan sekadar seorang kakek dari Abigail. Ia adalah sahabat saya dan juga dikenal sebagai salah seorang pembina bridge di Jawa Tengah.
Selama ini dunia Hararyo adalah bridge.
Dunia Abigail adalah musik.
Dua bidang yang berbeda, tetapi sesungguhnya memiliki banyak kesamaan.
Bridge membutuhkan konsentrasi, ketelitian, disiplin, kemampuan mengambil keputusan dan kemauan untuk terus belajar.
Musik juga demikian.
Seorang pemain orkestra harus mampu membaca notasi, menjaga tempo, berkonsentrasi, mendengarkan pemain lain dan bekerja sebagai bagian dari sebuah tim.
Mungkin karena itu, saya melihat ada sebuah benang merah yang indah dalam keluarga ini.
Seorang kakek yang selama bertahun-tahun memberikan perhatian kepada dunia pembinaan olahraga, khususnya bridge, kini dapat melihat cucunya menapaki jalannya sendiri dan mencapai panggung nasional melalui musik.
## Selamat untuk Haryayo Kusumo
Maka, melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan selamat dan apresiasi khusus kepada sahabat saya, Haryayo Kusumo.
Selamat, Pak Haryayo!
Sebagai seorang kakek, tentu tidak mudah menggambarkan perasaan ketika melihat cucu berdiri di Istana Negara pada tanggal 17 Agustus, memainkan alat musik bersama Orkestra Gita Bahana Nusantara dalam sebuah upacara kenegaraan.
Ada rasa bangga.
Ada rasa haru.
Dan mungkin juga ada rasa syukur bahwa perjalanan panjang seorang cucu akhirnya membawa dirinya sampai ke panggung yang begitu istimewa.
Sebagai seorang pembina, Haryayo tentu memahami bahwa prestasi tidak pernah lahir dalam semalam.
Di balik sebuah pencapaian selalu ada proses.
Ada latihan.
Ada kegagalan.
Ada kesabaran.
Ada dukungan keluarga.
Dan yang tidak kalah penting, ada orang-orang yang terus memberikan kepercayaan kepada generasi muda.
Karena itu, keberhasilan Abigail bukan hanya kabar baik bagi keluarganya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya di Jawa Tengah.
## Generasi Muda Harus Diberi Kesempatan
Kisah Abigail mengingatkan kita pada satu hal yang sering kali terlupakan:
Generasi muda membutuhkan kesempatan.
Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba.
Mereka membutuhkan orang yang percaya kepada mereka.
Dan mereka membutuhkan lingkungan yang mendorong mereka untuk terus berkembang.
Kila mungkin memulai perjalanannya dengan saxophone.
Kemudian ia berani mencoba French Horn.
Ia terus belajar.
Dan akhirnya, alat musik yang baru ditekuninya sekitar dua tahun itu membawanya ke Istana Negara.
Itulah kekuatan dari ketekunan.
Kita tidak pernah tahu ke mana sebuah langkah kecil akan membawa kita.
Yang penting adalah berani memulai dan terus berjalan.
## Dari Semarang ke Istana
Perjalanan Kila mungkin baru dimulai.
Tetapi satu hal sudah berhasil ia buktikan:
Anak muda dari daerah pun bisa berdiri di panggung nasional, bahkan di Istana Negara, apabila memiliki kesempatan, kemauan belajar dan keberanian untuk terus berkembang.
Hari itu Kila tidak hanya membawa French Horn.
Ia membawa nama Semarang, almamaternya, keluarganya, dan semangat anak muda Indonesia ke Istana.
Dan bagi sang kakek, Haro Kusumo, tanggal 17 Agustus 2026 tentu akan menjadi sebuah kenangan yang sangat istimewa.
Karena pada hari itu, cucunya tidak hanya menyaksikan sejarah dari kejauhan.
Ia ikut menjadi bagian di dalamnya.
Selamat untuk Abigail Amankila Adyomi.
Selamat untuk keluarga besar Abigail.
Dan khusus untuk sahabat saya Hararyo Kusumo, selamat menikmati kebanggaan sebagai seorang kakek.
Semoga perjalanan Abigail masih panjang dan semakin banyak panggung besar yang akan menantinya.
Semoga pula semakin banyak anak muda dari Semarang dan Jawa Tengah yang berani bermimpi, berani belajar dan berani tampil membawa nama daerahnya ke tingkat nasional bahkan internasional.
Dari Semarang ke Istana.
Dari sebuah keluarga, untuk Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. ***