Home LifestyleWisata Mimpi Fransiska Wujudkan  “Pariwisata Seni Budaya Minahasa” di Pantai Canada

Mimpi Fransiska Wujudkan  “Pariwisata Seni Budaya Minahasa” di Pantai Canada

oleh Dwipraya

Tari Maengket, tarian tradisional dari Sulawesi Utara. (Foto: Istimewa)

FAKTUALid – Fransiska Langelo punya harapan besar mengembangkan kawasan Pantai Canada di Bitung, Sulawesi Utara sebagai tempat dimana wisatawan bisa melihat dan  menikmati bagaimana “Seni Budaya Minahasa” sesungguhnya secara natural.

Di lingkungan Pantai Canada yang memiliki pasir putih seperti kristal itu nantinya diharapkan berkembang wisata seni  budaya seperti di Bali dan Yogyakarta. Wisatawan juga bisa menikmati kuliner Sulawesi Utara.

Namun harapan Fransiska,  salah satu pemilik puluhan hektare lahan di pinggir Pantai Canada itu baru sebatas impian, yang entah kapan bisa diwujudkan, terlebih setelah munculnya pandemi Covid-19.

“Untuk mewujudkan impian saya ini memerlukan dukungan investor. Tapi pandemi Covid-19 membuat saya harus bersabar mewujudkan impian saya, ” kata Fransiska saat wawancara dengan FAKTUALid.com.

Fransiska Langelo, salah satu pemilik puluhan hektare lahan di pinggir Pantai Canada di Kota Bitung, Sulawesi Utara. (Foto: Faktualid.com/Farhan)

Fransisca membayangkan, jika impiannya terwujud maka contoh yang sederhana adalah wisatawan nusantara atau asing yang datang bisa menikmati makan siang atau gala dinner seperti di Bali dan Yogyakarta. Mereka menikmati makan  sambil melihat tarian dan kesenian lain khas Bali.

“Hal seperti itu yang sampai sekarang belum ada di Kota Manado. Padahal Sulawesi Utara kaya dengan kesenian daerah. Ini yang saya ingin kembangkan di Bitung, di lingkungan Pantai Canada,” katanya.

Referensi dari Wikipedia menyebutkan, kesenian Minahasa merujuk kepada segala bentuk kegiatan seni yang berasal dari Minahasa, terdiri dari masambo, tarian, alat musik, kesusastraan, dan kerajinan.

Masambo merupakan bentuk kesenian etnis Minahasa pada masa lampau yang berhubungan dengan nilai-nilai religi dan ilmu pengetahuan masyarakat Minahasa.

Tari Kabasaran. (Foto: Istimewa)

Tarian Minahasa memiliki banyak jenis, di antaranya Tari Maengket, Tari Kabasaran, Tari Katrili, dan Tari Mesalai.

Alat musik tradisional Minahasa merupakan perpaduan dua kebudayaan atau lebih. Terdapat banyak alat musik tradisional, di antaranya kolintang, salude, oli, bansi, tetengkoren, sasesahang, dan arababu.

Musik Kolintang. (Foto: Istimewa)

Dalam bidang kerajinan, terdapat dua jenis tenun yang dihasilkan, yaitu kadu/wau dan benetenan.

Para perempuan Minahasa juga membuat tolo atau sejenis tutup kepala berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran, terbuat dari daun silar dengan berbagai warna yang mencolok.

Dekat Taman Nasional Tangkoko

Apalagi letak Pantai Canada sangat dekat dengan Taman Nasional Tangkoko di Bitung, yang merupakan salah satu objek wisata alam andalan di Sulawesi Utara.

Di Taman Nasional ini terdapat satu kampung bernama Batu Putih. Ribuan wisatawan yang ingin ke Taman Nasional Tangkoko tentu ke sana melalui Batu Putih.

“Kalau di Bali ada desa wisata. Maka di Sulut sebenarnya juga ada desa wisata yakni Desa Batu Putih itu. Cuma di Batu Putih pariwisata belum dikemas secara profesional seperti di Bali,” katanya.

Karena letaknya yang berdekatan, pengembangan Pantai Canada  tidak bisa dilepaskan dengan kehidupan masyarakat yang ada di sekitar lingkungan Taman Nasional Tangkoko.

Fransiska sendiri sudah pernah melakukan sosialisasi konsep pengembangan pariwisatanya kepada masyarakat di  Desa Batu Putih.

“Kepala Desa dan masyarakat di Batu Putih mendukung konsep pengembangan pariwisata budaya ini. Karena di samping akan melestarikan kesenian dan kebudayaan Minahasa, konsep itu akan meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Fransiska mengaku pengembangan  kesenian dan kebudayaan Minahasa memang harus mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat.

Tari Katrili oleh anak-anak. (Foto: Istimewa)

Oleh karena itu, salah satu langkah awal mengembangkan konsep pariwisatanya adalah membina karang taruna dan anak sekolah yang ada di Desa Batu Putih. Sehingga mereka suatu saat siap untuk tampil di depan wisatawan. Mereka juga diarahkan  seminggu sekali atau pada  Sabtu dan Minggu bisa memakai baju daerah, sehingga suasana Minahasa akan terasa.

Untuk itu ia akan bekerja sama dengan sanggar kesenian dan LSM Adat setempat yang jumlahnya sekitar 15.

“Kita kerjasama dengan mereka untuk mengangkat tradisi Minahasa jaman dulu. Kalau Bali sukses mengangkat ritual dari kepercayaan mereka, maka saya yakin Minahasa itu juga bisa kita angkat. Lingkungan desa juga  dibuat senatural mungkin jadi terlihat seperti desa jaman dulu.

Sudah tentu Pemda setempat harus berperan dalam pelestarian dan pengembangan kesenian dan kebudayaan Minahasa ini.

Jika semua itu sudah siap, maka bisa dirintis pembuatan paket wisata ke Desa Batu Putih.
“Kita kerjasama dengan travel-travel. Kita buat paket dan jual paket seperti di Bali. Di Bali kan paket wisata ada jam-jamnya. Misalnya jam sekian ada pertunjukkan Tari Kecak. Lalu jam sekian pertunjukkan Tari Pendet.”

“Jadi turis membayar paket. Seperti di Bali untuk  paket suami  istri  menyaksikan pertunjukkan kesenian itu dikenakan paket 150 dolar,” katanya.

Tidak hanya kesenian dan kebudayaan, aktifitas kehidupan warga sehari-hari di sekitar Pantai Canada juga bisa dijual.

“Disitu ada ribuan pohon kelapa. Memang bekas perkebunan. Sulut kan produsen kopra. Penghasilan Sulut dari kopra. Ini bisa dijadikan paket wisata. Turis diajak melihat bagaimana kelapa itu mulai dari dipetik lalu diproses sampai menjadi kopra. Jadi saya tidak merubah sesuatu yang sudah ada. Karena sudah bagus,” katanya.

Jadi juga banyak pohon sagu dan pohon aren. Dari pohon-pohon itu bisa menghasilkan makanan dan minuman.

“Wisatawan bisa melihat dari pohon aren itu muncul pengolahan gula aren. Minuman khas Minahasa juga berasal dari olahan aren itu. Wisatawan tentu senang dengan hal seperti ini. Jadi saya mengharapkan apa yang sudah ada dipertahankan. Karena sudah mempunyai nilai jual tinggi,” katanya.

Masih banyak lagi kesenian dan kebudayaan Minahasa yang belum dikenal wisatawan seperti Waruga.

Apa itu Waruga ? Suku Minahasa memiliki tradisi pemakaman yang unik. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Waruga. Kata Waruga berasal dari ‘waru’ yang artinya ‘rumah’ dan juga dari kata ‘ruga’ yang berarti ‘badan’. Jadi secara harfiah, Waruga berarti ‘rumah tempat badan yang akan kembali ke surga’.

Melansir laman Indonesia.go.id tradisi Waruga merupakan penguburan jenazah dalam sebuah kotak batu berongga kemudian ditutup dengan batu berbentuk segitiga. Posisi jenazah di dalam batu berbentuk seperti bayi dalam rahim, di mana tumit  bersentuhan dengan bokong, dan mulut seolah mencium lutut.

Sebagian Mmsyarakat Minahasa percaya bahwa manusia meninggal dengan posisi yang sama ketika saat lahir ke dunia. Selain berposisi seperti bayi dalam rahim, jenazah juga ditempatkan dalam posisi menghadap ke arah utara yang menandakan nenek moyang suku Minahasa yang berasal dari utara.

Harapan dari Pemerintah Daerah

Jangan salah sangka dulu kalau berpikir  Fransiska akan menyulap seluruh lingkungan di Pantai Canada menjadi lokasi hotel atau bangunan sarana penunjang pariwisata.

Ia justru mengharapkan Pemerintah Kota menyiapkan tata ruang di kawasan Pantai Canada.

“Harapan saya, karena Pantai Canada ini sangat bagus, maka paling tidak pantainya jangan banyak disentuh atau jangan dibangun-bangun,” katanya.

Bukan berarti di Pantai Canada tidak bisa dibangun hotel atau restoran. Itu harus ditata dengan baik.

“Konsep saya, saya ingin buat semacam atraksi budaya atau studio alam terbuka di pantainya. Sehingga kalau ada resort, penginapan, ataupun apapun bentuknya, maka bangunan itu akan saya taruh di atas jalan atau di lokasi yang lebih tinggi, berjarak sekitar 300 meter dari pantai.

Antara  pantai dan areal yang ideal untuk hotel dan restaurant itu kini sudah dibuatkan jalan raya, sehingga mobil bisa parkir di pinggir pantai.

Meski berdekatan, Pantai Canada bukan bagian dari Taman Nasional Tangkoko. Sehingga pengembangan Pantai Canada tidak akan mengganggu kelestarian taman nasional itu.

Justru dalam pengembangan pariwisata di Pantai Canada, salah satu program Fransiska adalah mengajak turis untuk menanam pohon. Bukan sekadar menanam pohon, tapi turis itu akan diberi sertifikat tentang pohon yang ditanamnya.

“Pohon itu akan dirawat, sehingga turis dari mancanegara akan tertarik melihat sudah seberapa besar pohon yang ditanamnya. Mungkin suatu saat anak cucu mereka yang akan melihat pohon yang ditanam leluhurnya,” katanya.

Fransiska sendiri memiliki lahan seluas 22 hektare, dari  luas itu sekitar 17 hektar telah memiliki sertifikat hak milik (SHM).

“Saya mengharapkan apa yang sudah ada dipertahankan. Karena sudah mempunyai nilai jual tinggi. Kalau ada hotel, mungkin konsepnya urban ya. Jadi nuansanya green living. Harus tetap natural. Di tanah yang saya miliki  banyak kayu kayu besar yang harus dilindungi,” katanya berharap.

Ia berharap kalau ada investor yang datang ke Pantai Canada, juga punya pandangan sama dengan dirinya yakni untuk mengembangkan pariwisata budaya. Saya siap menerangkan konsep pariwisata budaya itu kepada investor, ” katanya.

Namun Fransiska memaklumi, kalau ada investor yang datang, tentu mereka sudah punya konsep yang belum tentu sama dengan dirinya.

Ia memberi pandangan yang mungkin diminati investor bahwa Pantai Canada punya potensi untuk wisata :

Pertama,  Wisata Cagar Alam, dimana wisatawan diajak mengunjungi Taman Nasional  Tangkoko.

Kedua, Wisata alam Pemandangan Pegunungan dan Lembah serta Pemukiman Kampung.

“Jenis wisata yang dilakukan dengan obyek wisata berupa keindahan alam sekitar. Mata kita akan dimanjakan dengan keadaan alam yang menakjubkan dan sangat indah. Wisata alam yang dapat kita lakukan antara lain mendaki, berkemah, ” katanya.

Ketiga adalah  Wisata Maritim atau Bahari/ Water Sport.

Wisata bahari dikenal juga dengan sebutan wisata maritim atau wisata tirta. Wisata ini pun berhubungan dengan olahraga yang dilakukan di air, seperti di pantai, danau, teluk.

“Kegiatan yang biasa dilakukan saat melakukan wisata bahari adalah memancing dan berselancar, berlayar, melakukan lomba balap mendayung, snorkeling, menyelam dan melakukan pemotretan di bawah air, ” kata Fransiska.

Selain untuk  Vila & Resort,  investor juga bisa menggarap dan mengembangkan  lahan di lingkungan Pantai Canada menjadi destinasi-destinasi potensial:

1. Wisata Pertanian (Agrowisata/ Ekowisata  )
2. Wisata Edukasi/ Pendidikan
3. Wisata outbound
4. Water Boom.

Oh ya, mengapa pantai ini bisa dikenal dengan nama Pantai Canada ? Fransiska menjelaskan, lokasi pantai tersebut akrab disebut demikian, karena penduduk setempat mengetahui bahwa lokasi itu adalah milik seorang perempuan lokal yang menikah dengan seorang pria (bule) berkebangsaan Canada.

“Tapi pasangan Canada dengan Bitung ini sudah  berpisah. Namun pantainya masih disebut Pantai Canada,” katanya sambil tersenyum.

Pantai Canada dengan pasir putih seperti kristal yang masih perawan  ini bisa ditempuh dengan mobil dari Bandara Sam Ratulangi di Manado, hanya makan waktu sekitar satu jam saja.

Seperti apa sih yang namanya pasir putih kristal  yang ada di pantai Canada? Fransiska menjelaskan bahwa kalau kita datang ke Pantai Canada memakai kaus putih, lalu tidur-tiduran di atas pasir putih kristal itu, maka saat kita bangun kaus putih kita tidak kotor.

“Pasir putih kristalnya juga tidak menempel di baju atau tubuh kita, tapi langsung berjatuhan,” katanya.

Lalu mengapa Pantai Canada disebut masih perawan ? karena hingga saat ini boleh dikatakan  belum tersentuh oleh investor yang  bisa mengembangkan potensi wisata alam, seni dan budaya di  sekitar Pantai Canada. ****

Tinggalkan Komentar