Otomotif

Banyak Kecelakaan dari Penggunaan Motor Matik, Pahami Dulu Cara Mengerem!

Published

on

ilustrasi motor matik. (ist)

FAKTUAL-INDONESIA : Saat ini banyak pengguna sepeda motor di Indonesia memilih motor matik dibanding manual. Terutama kalangan wanita lebih memilih motor matik. Namun sayangnya, masih banyak yang belum paham bagaimana mengendarai motor matik di jalanan turunan, sehingga kadang banyak terjadi kecelakaan.

Pengendara motor matik dinilai oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih banyak yang belum paham dalam hal pengereman. Sehingga kadang mengalami rem blong di jalanan turutanan terutama.

Hasil investigasi KNKT menunjukkan, salah satu faktor utama penyebab kecelakaan motor matik di jalan turunan adalah penggunaan rem yang terus menerus secara berlebihan.

Penggunaan rem yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya fenomena vapor lock atau adanya uap air pada sistem pengereman, sehingga dapat mengalami kegagalan fungsi atau yang biasa dikenal dengan istilah rem blong.

Kendaraan yang melaju di jalanan menurun pada umumnya selain menggunakan rem juga akan memanfaatkan engine brake untuk mengurangi kecepatan kendaraan dengan menggunakan hambatan putaran mesin. Masalahnya, masyarakat belum banyak yang paham penggunaan metode engine brake terutama motor matik.

Advertisement

Dalam pemaparan yang dilakukan oleh PT Astra Honda Motor (AHM), diperoleh informasi yaitu fitur engine brakep ada motor matik akan berfungsi pada kecepatan kurang lebih 11 km/jam dengan menahan putaran gas rendah agar kopling tersambung. Itu membuat kecepatan roda belakang yang lebih tinggi bisa ditahan oleh putaran mesin yang rendah.

Hal itulah yang tidak banyak diketahui pengguna sepeda motor. KNKT mengimbau produsen motor matik dapat memberikan sosialisasi dan pendidikan kepada pengguna dengan memberikan buku panduan berkendara yang berkeselamatan dan salah satu isi materinya memuat tentang tata cara berkendara di jalanan menurun. Buku panduan tersebut diberikan bersama dengan buku manual pemeliharaan yang diperoleh pembeli ketika membeli motor baru.

“Selain itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian perhubungan diharapkan dapat memberikan informasi dan sosialisasi kepada seluruh masyarakat agar tidak terlalu memaksakan kendaraannya, menggunakan kendaraan sesuai dengan fungsi dan kemampuan yang dimiliki pada setiap masing-masing kendaraan,” sebut KNKT dalam keterangan tertulisnya.

Teknik mengerem di turunan

Founder dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC)Jusri Pulubuhu menjelaskan teknik ngerem di turunan. Menurut Jusri, ada teknik khusus saat melakukan proses pengereman motor di jalanan menurun.

Advertisement

“Untuk motor matik, diawali kecepatan yang tidak terlalu kencang saat menurun. Jangan baru mengerem saat sudah melewati turunan,” terang Jusri beberapa waktu lalu.

“Selanjutnya, gunakan teknik pengereman squish. Jadi rem sedikit, kemudian rem dilepas, begitu seterusnya. Dan rem tidak boleh dipanteng atau ditekan terus-menerus karena ini bisa membuat temperatur panas. Kalau sudah panas, walaupun rem dibejek, dia akan blong,” lanjut Jusri.

Selain dua hal tersebut, Jusri juga mewanti para pengendara motor matik agar jangan menutup gas saat melewati jalan menurun. Jika gas ditutup, motor akan meluncur deras karena tidak ada engine brake, sama seperti motor manual ditarik koplingnya.

“Motor harus tetap digas, jangan malah nutup gas. Karena kalau ditutup, motor akan meluncur bebas tanpa hambatan. Ini seperti ketika motor manual ditarik koplingnya,” tutup Jusri.

Bagi Anda yang menggunakan motor matik, mungkin sebaiknya melatih dulu saat mengerem terutama di jalan turunan. Sehingga Anda bisa berkendara dengan aman.***

Advertisement

Exit mobile version