Lifestyle
Sambut Ramadan, Sejumlah Tradisi Unik Hadir di Beberapa Daerah Indonesia

Dugderan salah satu tradisi unik di Cirebon untuk menyambut Ramadan.(ist)
FAKTUAL-INDONESIA : Indonesia terkenal dengan beragam budaya yang unik dan menarik. Salah satunya adalah tradisi menjelang Ramadan dilakukan di sejumlah daerah. Di antara tradisi itu, yang terkenal adalah tradisi Dugderan di Semarang, tradisi Meugang di Aceh, Malamang di Sumatera Barat, Pacu Jalur di Riau, Munggahan di Jawa Barat, Nyadran di Jawa Tengah dan Megibung di Bali.
Sejumlah tradisi tersebut dilakukan untuk berdoa, memberi semangat saat menjalani puasa selama sebulan penuh, juga untuk lebih mempererat persaudaraan dengan tetangga, kerabat dan sahabat.
Tahun ini, tradisi Dugderan akan hadir seperti sebelum pandemi Covid-19 melanda. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu memastikan tradisi Dugderan untuk menyambut bulan suci Ramadan akan hadir lebih meriah.
Hevearita mengatakan Dugderan berlangsung pada H-2 sebelum puasa yaitu pada 9 Maret 2024. Meski begitu, seperti biasa akan ada juga Pasar Dugderan yang dimulai sejak 27 Februari.
Pemerintah Kota Semarang juga sudah mengundang para pedagang yang akan memeriahkan Pasar Dugderan agar mereka tahu konsep yang telah dirumuskan.
Hevearita menjelaskan, Dugderan 2024 akan dimeriahkan dengan kirab budaya dimulai dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Kauman Semarang. Juga akan ada gunungan roti ganjel rel hingga beduk raksasa sebagai simbol kekayaan budaya Kota Semarang.
“Seremonial halaqah, saya minta lebih bagus, lebih tertib, karena ini kan memang tontonan tahunan. Apalagi penyerahan roti ganjel rel. Saya ingin di tengah lapangan, ada beduk yang gede. Ini menunjukkan kekayaan budaya Kota Semarang yang harus dilestarikan,” papar Hevearita, belum lama ini.
Kepala Dinas Budaya Pariwisata Kota Semarang, Wing Wiyarso juga telah menyiapkan lomba ‘berkudo’ dalam prosesi kirab budaya. Pihaknya juga akan melakukan pengaturan agar tak terjadi desak-desakan dalam kerumunan terutama pada saat prosesi pengambilan gunungan.
“Berkudo atau pasukan 40-an. Walaupun tahun ini baru 16 peserta, mereka akan ikut kirab dan dinilai. Didukung komunitas lain seperti Sam Poo Kong, Tay Kak Sie, Tosan Aji, dan lain-lain,” kata Wing.
Sementara itu, tradisi menyambut puasa lainnya yang dilakukan di Indonesia adalah Meugang di Aceh. Mengutip Indonesia.travel.id, kota yang berjuluk ‘Serambi Mekah’ itu juga memiliki beragam tradisi untuk menyambut Ramadan. Namun salah satu yang terkenal adalah Meugang atau disebut juga Makmeugang atau Haghi Mamagang.
Tradisi ini dilaksanakan saat menjelang bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha. Meugang sudah ada dari sejak zaman kerajaan Aceh Darussalam, yaitu sekitar abad ke-14. Pada pelaksanaannya, masyarakat akan membeli daging di pasar, namun ada juga yang menyembelihnya. Daging ini kemudian dihidangkan dengan hidangan terbaik dan disantap bersama keluarga, rekan kerja (Meugang Kantor), dan warga desa (Meugang di Gampong).
Selanjutnya tradisi Malamang dari Sumatera Barat juga tak kalah populer. Jelang Ramadan, warga Minang biasa melakukan tradisi Malamang atau membuat lemang (makanan tradisional dari beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu panjang), sehingga bulan sebelum puasa sering juga disebut bulan Lemang (lamang).
Di Riau, masyarakatnya menyambut Ramadan dengan menggelar perlombaan dayu perahu berukuran 40 meter dengan dikayuh 40-60 orang di Sungai Kuantan atau dikenal dengan tradiri Pacu Jalur. Menariknya lagi, perahu dihias dengan indah dan penuh warna.
Tradisi Munggahan di Jawa Barat tampaknya sudah menjadi tradisi umum yang dilakukan di hampir seluruh Indonesia menjelang Ramadan. Tradisi ini dilakukan sekitar satu atau dua hari sebelum bulan puasa dengan berziarah kubur, membagikan makanan kepada tetangga atau mereka yang kekurangan dan berdoa bersama.
Demikian pula Tradisi Nyadran di Jawa Tengah sangat terkenal. Tradisi ini merupakan ziarah kubur yang dilakukan secara berbondong-bondong oleh warga yang hendak mengunjungi makam keluarga mereka. Biasanya mereka menggelar tikar di pinggir jalan dekat pemakaman dan menyajikan makanan tradisional.
Di Bali, meski kebanyakan masyarakatnya beragama Hindu, ada juga tradisi Megibung yang dilakukan warga Muslim di sana. Yaitu merupakan acara memasak dan makan bersama dengan melingkar sambil duduk bersila. Warga akan memasak makanan tradisional, baik nasi maupun lauk pauknya. Nasi akan diletakkan di wadah beralaskan daun pisang yang disebut “gibungan”, sementara lauk pauknya pun disajikan di atas daun pisang dan disebut “karangan”.***