Connect with us

Lifestyle

Jepang Krisis Anak, Masyarakatnya Kurang Minat Seks?

Avatar

Diterbitkan

pada

Ilustrasi anak-anak Jepang yang lucu. Namun banyak kalangan muda yang enggan punya anak. (ist)

FAKTUAL-INDONESIA : Jepang saat ini menghadapi krisis anak. Jumlah penduduk Jepang kini makin sedikit. Angka kelahiran di Negeri Sakura semakin turun. Per 2022, diperkirakan hanya ada sekitar 800 ribu kelahiran.

Meskipun pemerintah kerap memberikan tunjangan pada warga Jepang, negara ini berdasarkan riset menjadi salah satu tempat termahal untuk membesarkan anak. Kishida, memastikan pemerintah bakal memberikan jaminan lebih besar bagi warganya.

Memiliki keluarga di Jepang masih dianggap sebagai hal yang memberatkan. Itu sebabnya, banyak anak muda enggan menikah.

Selain itu, yang lebih mengejutkan lagi adalah Asosiasi Keluarga Berencana Jepang beberapa waktu lalu melaporkan hasil survei yang membuktikan kurangnya minat berhubungan seks di kalangan orang Jepang.

Dari 1.134 orang yang berpartisipasi, sebanyak 49% peserta berusia antara 16 hingga 49 tahun mengaku tidak pernah berhubungan seks dalam sebulan.

Advertisement

Ketika ditanya tentang alasan kurangnya seks, penyebab utamanya adalah kelelahan bekerja, sedikit minat pada seks, atau sifat tindakan yang ‘mengganggu’, menurut beberapa wanita.

Laporan pusat populasi Jepang lainnya dari tahun 2011 menemukan 27% pria Jepang dan 23 persen wanita tidak tertarik untuk menjalin hubungan romantis. Selain itu, 61% pria dan 49%  wanita berusia antara 18 dan 34 tahun ditemukan masih lajang. Dalam kelompok usia yang sama, 36% pria dan 39% wanita mengaku perawan.

Kebanyakan dari mereka juga tidak ingin memiliki anak lantaran sudah merasa stres dengan pekerjaan, mengutamakan karier, hingga biaya mahal membesarkan anak.

Melihat kondisi tersebut, Perdana Menteri Fumio Kishida menetapkan bahwa anak-anak anak adalah ‘prioritas utama’ untuk pemerintahannya. Pihaknya juga telah menyiapkan strategi dan menjanjikan tunjangan agar warganya mau memiliki anak.

Dalam pidatonya pada 4 Januari 2023, Kishida berjanji untuk mengusulkan strategi tersebut pada bulan Juni, saat pemerintah menyusun pedoman kebijakan fiskal dan ekonomi. Itu berisi tentang bagaimana menggandakan anggaran untuk dukungan perawatan anak.

Advertisement

Kishida mengatakan pemerintah berencana untuk meningkatkan jumlah tunjangan anak untuk para orang tua. Saat ini, tunjangan pengasuhan anak sebesar ¥15.000 atau sekitar Rp1,7 juta per bulan hingga mereka mencapai usia 3 tahun.

Setelah itu, tunjangan sebesar ¥10.000 atau sekitar Rp 1,1 juta akan diberikan hingga anak tersebut lulus dari sekolah menengah pertama.

“Kebijakan tentang anak dan pengasuhan anak adalah investasi paling efektif untuk masa depan,” kata Kishida yang dikutip dari The Japan Times pada 24 Jan.

Dikutip dari The Guardian, beberapa ahli berpendapat subsidi yang diberikan pemerintah itu masih cenderung menyasar pada orang tua yang sudah memiliki anak.

Menurut mereka, itu tidak berpengaruh untuk menghilangkan kesulitan yang membuat kaum muda enggan berkeluarga. Rumit ya?***

Advertisement

Lanjutkan Membaca