Home LifestyleKesehatan Obat Covid-19 Satu demi Satu Bermunculan

Obat Covid-19 Satu demi Satu Bermunculan

oleh Darto Darto

Foto: Istimewa

FAKTUAL-INDONESIA: Obat Covid-19 satu demi satu bermunculan setelah semua negara memvaksinasi seluruh penduduknya.

Setelah Merck memproduksi tablet Molnupiravir, pil antivirus mililk Pfizer diklaim efektif untuk menekan angka kematian pasien Covid-19.

Hasil uji kinis menunjukkan bahwa pil dengan nama merk Paxlovid itu bisa mengurangi risiko gejala berat yang membuat seorang pasien menjadi sakit parah dan mengurangi rawat inap sampai kematian.

Dalam siaran pers yang diansir dari The Verge, risiko kematian bisa berkurang sampai 89 persen untuk orang dewasa yang berisiko tinggi dengan penyakit bawaan yang parah ketika diberikan dalam waktu tiga hari setelah gejala muncul.

Perusahaan mengatakan berencana untuk menyerahkan data hasil peneiltian tersebut ke Food and Drug Administration (FDA) untuk otorisasi penggunaan darurat sesegera mungkin.

Pil Pfizer ini merupakan pil anti-Covid-19 kedua yang diketahui mampu bekerja efektif. Sebelumnya, pil pertama dikembangkan oleh perusahaan farmasi Merck, molnupiravir yang disebut dapat mengurangi risiko rawat inap dan kematian sekitar setengahnya.

Badan kesehatan Inggris telah mengesahkan pil Merck dan komite penasihat FDA dijadwalkan untuk membahasnya pada 30 November mendatang.

Sementara itu, Pfizer menyebut telah menguji obatnya itu dalam sebuah penelitian yang melibatkan 1.219 orang dewasa yang dites positif Covid-19. Mereka adalah yang memiliki gejala ringan atau sedang dan yang memiliki setidaknya satu kondisi medis mendasar atau penyakit bawaan yang akan menempatkan mereka pada risiko kasus penyakit yang parah, seperti diabetes atau penyakit paru-paru.

Peserta secara acak ditugaskan untuk mengambil pil plasebo atau obat aktif. Tiga orang dalam kelompok obat aktif dirawat di rumah sakit dan tidak ada yang meninggal. Pada kelompok plasebo, 27 orang dirawat di rumah sakit dan tujuh meninggal.

Data hasil penelitian tersebut sudah diumumkan dalam siaran pers namun belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Dalam kinerjanya, pil Pfizer bekerja dengan menghentikan virus corona dam membuat salinan dirinya sendiri di dalam sel. Ini termasuk 30 pil yang diminum selama lima hari.
Merck, yang bekerja dengan cara yang sama disebut membutuhkan 40 pil yang diminum selama lima hari. Keduanya lebih murah dari pada perawatan seperti antibodi monoklonal, yang juga dapat mencegah orang menjadi sakit parah.

Secara logistik, pemberian obat berupa pil dianggap lebih mudah untuk digunakan karena dapat diminum dari rumah. Sedangkan perawatan antibodi diberikan melalui infus di pusat kesehatan atau rumah sakit.

Meski begitu, tantangan dengan perawatan antivirus seperti pil Pfizer adalah memastikan bahwa orang dapat mengaksesnya dalam waktu singkat dan cepat supaya bisa bereaksi efektif.

Hanya saja, yang perlu diingat, obat semacam pil yang diminum setelah seseorang sakit bukan pengganti vaksin, yang dapat mencegah orang sakit sejak awal. Tetapi pil antivirus adalah senjata untuk melawan Covid-19.

“Saya pikir mendapatkan pil oral yang dapat menghambat replikasi virus atau yang dapat menghambat virus akan menjadi pengubah permainan yang nyata,” mantan komisaris FDA Scott Gottlieb seperti dikutip dari cnnindonesia.com, Kamis (11/11/2021).

Robert Glatter, seorang dokter darurat di Lenox Hill Hospital di New York menyebut temuan ini cukup signifikan.

“Obat ini menawarkan mereka yang berisiko tinggi untuk mengurangi perkembangan penyakit bawaan, rawat inap atau kematian, terutama pada mereka dengan penyakit sistemik lanjut, pasca transplantasi atau kanker, yang mungkin tidak meningkatkan respons antibodi yang memadai pasca Covid-19 vaksinasi,” kata Glatter dikutip dari Healthline.

Glatter menjelaskan bahwa Paxlovid adalah kombinasi dari protease inhibitor baru dan obat pendamping yang disebut ritonavir (antivirus untuk mengobati HIV) yang digunakan untuk memperlambat penyerapan dan meningkatkan durasi kerja obat.

Namun protease inhibitor dapat memiliki efek samping, yang meliputi mual, muntah, dan diare.

“Data ini menunjukkan bahwa kandidat antivirus oral kami, jika disetujui atau disahkan oleh otoritas pengatur, berpotensi menyelamatkan nyawa pasien, mengurangi keparahan infeksi Covid-19, dan menghilangkan hingga sembilan dari sepuluh rawat inap,” ujar Albert Bourla, ketua dan CEO Pfizer, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Berita hari ini adalah pengubah permainan nyata dalam upaya global untuk menghentikan kehancuran pandemi ini,” ucapnya.***