Home LifestyleKesehatan Kematian akibat Covid-19 Melonjak, IDI Minta Masyarakat di Rumah Saja

Kematian akibat Covid-19 Melonjak, IDI Minta Masyarakat di Rumah Saja

oleh Darto Darto

Foto: Istimewa

FAKTUALid – Kondisi Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Bali, sedang kurang baik. Angka kematian akibat kasus Covid-19 di Indonesia, saat ini terus melonjak sangat signifikan. Bahkan Indonesia dimasukan sebagai negara berisiko tinggi Covid-19 oleh Taiwan.

“Jumlah kasus meningkat luar biasa, pasien meninggal juga terus bertambah, jadi resiko penularan tinggi sekali, ini bisa terlihat dari postivity rate mingguan yang tinggi, rata-rata di atas 40 persen,” kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi seperti dikutip dari MNC Portal Indonesia, Minggu (4/7/2021).

Zubairi mendapat laporan bahwa seluruh rumah sakit, khususnya di Jakarta sudah penuh. Kondisi ini, ujarnya, membuat Jakarta dalam keadaan darurat. Sebab, banyak pasien yang tidak mendapati perawatan di rumah sakit hingga berdampak pada kematian.

“Sekarang semua rumah sakit di Jakarta dan di tempat lain, itu penuh, sesak, jadi kalaupun kita sakit sukar untuk mencari tempat tidur di RS rujukan Covid,” ucapnya. Oleh sebab itu, ujarnya, selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, masyarakat tetap beraktivitas di rumah

Sementara itu Taiwan, seperti halnya Hong Kong, memasukkan Indonesia sebagai negara berisiko tinggi Covid-19.

Pusat Komando Epidemi Taiwan (CECC), seperti dikutip dari antaranews.com, menyebutkan di kategori tersebut, Indonesia bersama dengan Brazil, India, Inggris, Peru, dan Israel.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut dari otoritas terkait mengenai ada atau tidaknya larangan masuk dari negara-negara yang termasuk kategori risiko tinggi itu.

CECC hanya mengeluarkan kebijakan setiap orang yang datang dari luar negeri wajib menjalani tes usap dua kali sebelum dan sesudah karantina yang berlaku mulai Jumat (2/7/2021).

Kebijakan itu diambil di tengah munculnya kasus Covid-19 varian Delta di kalangan warga lokal di Kabupaten Pingtung, demikian pernyataan Kepala CECC Chen Shih Chung.

Selain tes usap, CECC juga mewajibkan tes cepat pada hari ke-10 dan hari ke-12 karantina.

Otoritas kesehatan setempat juga menetapkan biaya karantina di tempat yang telah ditentukan sebesar 2.000 dolar Taiwan atau sekitar Rp1 juta per hari.

Sebelumnya Hong Kong juga telah menetapkan Indonesia sebagai negara berstatus A-1.

Dengan status tersebut, Hong Kong melarang penerbangan dari Indonesia.

Di Taiwan terdapat sedikitnya 290.000 pekerja migran Indonesia, sedangkan di Hong Kong sekitar 175.000 pekerja migran Indonesia.***

Tinggalkan Komentar