Connect with us

Lifestyle

17 Kali Ganti Resep, Hanif Bangun Food Truck ‘Mie Aceh Kring-Kring’

Avatar

Diterbitkan

pada

Kedai Food Truck ‘Mie Aceh Kring-Kring’. (Farhanzuhdi)

FAKTUALid – Hanif merupakan salah satu pelaku bisnis kuliner Mie Aceh yang berada di Jakarta. Bisnis dijalankan berada di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Dalam membangun kedai Food Truck Mie Aceh tersebut tidaklah mudah, untuk mendapatkan cita rasa yang pas dirinya perlu mengganti resep bahkan sampai 17 kali.

Kuliner Indonesia terkenal dengan beragamnya aneka makanan di nusantara mulai dari Sabang sampai Merauke, dimana tiap-tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing yang berbeda. Kota Aceh jadi salah satu kekayaan kuliner Indonesia.

Mendengar kota Aceh langsung teringat dengan kulinernya yang terkenal dengan rempah yang kuat. Kota yang kerap dijuluki ‘Kota Serambi Mekkah’ ini mempunyai beragam sajian kuliner yang familiar, salah satunya Mie Aceh.

Kedai makanan Mie Aceh di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, yaitu Mie Aceh Kring-Kring yang menempati kawasan Balai Sudirman ini biasa kita jumpai saat sore menjelang malam hari.

Advertisement

Jik biasanya menjumpai kuliner Mie Aceh berada di rumah, ruko, atau bahkan kios, tetapi beda halnya dengan Mie Aceh Kring-Kring. Kedai makanan Mie Aceh yang satu ini mengusung konsep outdoor. Uniknya dapur memakai bus yang kerap dikenal dengan istilah food truck.

“Saya buat konsep food truck supaya beda dengan yang lain,” kata Hanif. “Rumah makan ini saya buat di outdoor dengan dapurnya di atas mobil,” lanjut Hanif yang merupakan owner dari tempat tersebut.

Hanif menuturkan dalam memilih konsep food truck bukan hanya berbeda dari yang lain. Ia menggunakan konsep food truck tersebut untuk mencari peluang karena sangat jarang kedai makanan Mie Aceh yang dibuat dengan konsep tersebut.

Kedai yang memakai bus sebagai dapurnya tersebut mulai berdiri 3 tahun lalu, tepatnya di tahun 2018. Hanif mulai memberanikan dirinya membuka bisnisnya tersebut dengan modal tabungan yang sudah dikumpulkan sebelumnya.

Dengan tekad yang bulat dirinya perlahan memulai bisnis kuliner tersebut. Dalam menjalani bisnisnya, Hanif mengaku tidak mudah. Untuk membuat makanannya dapat diterima di semua kalangan dirinya fokus memikirkan resep agar memiliki cita rasa yang sempurna.

Advertisement

“Semua itu proses, kalau satu tahun tidak bisa dapet pelanggan banyak percuma saja,” terang Hanif. “Walaupun tempat bagus tapi cita rasa makanannya nggak enak orang nggak akan balik lagi. Gimana caranya kita bikin sesuai dengan mulut mereka,” tambah pria 43 tahun tersebut.

Pelanggan menikmati Food Truck ‘Mie Aceh Kring-Kring’. (Farhanzuhdi)

Tidaklah mudah mendapatkan cita rasa yang sempurna, membuat bumbu khas aceh tetap ada serta dapat diterima kalangan itu sangatlah sulit. Untuk mendapatkan perpaduan kedua cita rasa tersebut Hanif menungkapkan dirinya harus merubah 17 kali resep Mie Aceh miliknya.

“Bumbu udah 17 kali perbaikan, kalo langsung bawa rasa dari sana kata orang Aceh udah pas,” kata Hanif. “Tapi orang yang di luar Aceh belum tentu suka ya mungkin karena rempahnya terlalu kuat. Kita tuh pengen buat rasanya di mulut orang Aceh bisa diterima, mulut orang di luar orang Aceh pun bisa menikmati,” imbuh Hanif.

Dalam perbaikan resep sebanyak 17 kali, dirinya butuh waktu sekitar 8 bulan untuk mendapatkan cita rasa yang khas seperti sekarang. “Semua itu proses, kita buat pelanggan suka masakan kita dan bisa kembali lagi. Kita buat gimana orang luar Aceh makan ‘oh Mie Aceh ini enak’ padalah menurut orang Aceh biasa aja,” lanjut Hanif.

Hanif mengaku bisnis kulinernya mengalami penurunan omset semenjak pandemi Covid-19. “Kondisi pandemi memang sulit penjualan turun drastis, omset turun 80 persen saat awal pandemi,” terang Hanif. “Biasanya sehari bisa 100 porsi, sejak pandemi turun hanya 20 porsi atau paling banyak 30 porsi lah,” ucap Hanif.

Kebijakan pemerintah yang melonggarkan dibukanya batasan jam untuk tempat-tempat seperti rumah makan, jadi keuntungan tersendiri untuk Hanif. Dengan adanya kelonggaran tersebut terbukti dirinya mampu menjual 70 porsi dalam sehari yang dahulu hanya menjual 20 porsi saat awal pandemi.

Advertisement

“Saya tetap bertahan karena mengingat ada delapan karyawan yang harus saya pekerjaan saat kondisi sulit seperti kemarin. Alhamdulillah sekarang udah membaik, udah bisa menjual 70 porsi sehari, mendekati siatuasi normal sebelum pandemi. Semoga pandemi segera berakhir dan bisa hidup normal lagi,” tutup Hanif. (Farhanzuhdi)

Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *