Home Lapsus Pandemi Belum Berhenti, Jateng Siagakan Banyak Plasma Konvalesen

Pandemi Belum Berhenti, Jateng Siagakan Banyak Plasma Konvalesen

oleh Ki Pujo Pandunung

 


Presiden Jokowi bersama Ganjar Pranowo tinjau vaksinasi pelajar di Cilacap. (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Pandemi Covid-19 belum berhenti. Ibarat Drama Korea (Drakor), pandemi yang satu ini masih akan terus berulang, sambung menyambung di setiap episodenya. Gelombang pertama sudah lewat, gelombang kedua juga sudah tamat. Kini, masyarakat mulai was-was dengan ancaman serupa di gelombang ketiga.

Kewaspadaan menghadapi kemungkinan munculnya gelombang ketiga pandemi Covid-19 yang diprediksi bisa jauh lebih parah, bukan hanya dilakukan Pemprov Jawa Tengah, namun juga provinsi-provinsi lain di seluruh tanah air.

Secara umum kondisi Jawa Tengah saat ini, dilihat dari kasus harian yang muncul di 35 Kabupaten/Kota, sudah mengalami penurunan signifikan. Bahkan boleh dibilang sangat landai. Itu sebabnya, pasar-pasar tradisional, mal, destinasi wisata, sampai warung-warung makan sudah mulai digelar. Perekonomian rakyat pun, perlahan tapi pasti telah menggeliat.

Memang dalam pekan-pekan terakhir ini, Jawa Tengah sempat digegerkan dengan munculnya klaster-klaster baru seiring dengan pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Di Kabupaten Blora, Kota Semarang, dan Kabupaten Purbalingga misalnya, dikabarkan puluhan siswa sekolah positif terpapar Covid-19 saat mengikuti PTM.

Namun dengan langkah taktis dan gerak cepat, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, langsung memerintahkan sekolah-sekolah bersangkutan untuk menutup kegiatan PTM-nya. Sementara para siswa yang positif terpapar, seketika di isolasi secara terpusat, untuk memangkas rantai penularan yang lebih luas. Langkah tersebut terbukti cukup ampuh.

Memang tidak dimungkiri. Sejak dilaksanakannya PTM yang disambut penuh suka cita oleh para murid dan guru, tingkat persebaran virus Covid-19 kepada anak-anak (Covid-19 Anak) di Jateng tercatat meninggi. Ini tentu menjadi keprihatinan dan butuh penanganan secara spesifik, karena menyangkut perilaku anak yang kadang cenderung sulit dikendalikan.

Sehubungan dengan tingginya kasus Covid-19 anak ini, untuk mengantisipasinya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, telah meminta Palang Merah Indonesia (PMI) Jateng, agar selalu bersiaga dalam menyiapkan stok Plasma Konvalesen.

Gus Yasin, sapaan akrab Wagub Jateng, menyebut hingga saat ini stok Plasma Konvalesen di Jateng memang masih mencukupi jika dibutuhkan. Sesuai catatan, stok Plasma Konvalesen di Jateng pada September 2021, mencapai 1.109 kantong. Namun, jika diperlukan, seluruh penyintas akan didorong secara sukarela bersedia mendonorkan plasma konvalesen sebagai tambahan.

“Kita patut berjaga-jaga. Jangan sampai kasusnya tinggi, kebutuhan Plasma Konvalesen meningkat, tapi kita kehabisan stok. Kita perlu pelajari gelombang kemarin (Juni) itu bagaimana, dan harus kita antisipasi. Kalau perlu ‘Gedor Lakon’ (Gerakan Donor Plasma Konvalesen) harus digencarkan lagi,” kata Gus Yasin.

Ia menambahkan, Gubernur Ganjar Pranowo, juga telah meminta kepada seluruh pihak untuk meningkatkan surveilans terhadap penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah. Hal ini menyusul adanya data, bahwa Jawa Tengah jadi salah satu provinsi di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi covid terbanyak.

Sebagai informasi, berdasarkan studi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terdapat 10 daerah di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi covid terbanyak. Diantaranya Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua.

Pihaknya sepakat dengan Gubernur Ganjar, bahwa apabila surveilans yang dilakukan tinggi dan lebih sering lagi, maka kondisi riil dapat diketahui lebih cepat.

“Kalau lebih cepat diketahui kondisi riilnya, maka datanya sudah didapat, sehingga penanganannya bisa lebih teliti. Plasma Konvalesen sebagai salah satu metode pemulihan pasien Covid-19, harus kita jaga stoknya, jangan sampai kurang,” jelas Gus Yasin.

Surveilans Tidak Boleh Berhenti

Gubernur Ganjar Pranowo sendiri mengimbau, seluruh pihak supaya terus melakukan pengamatan atas penyebaran Covid-19 terhadap  anak-anak di berbagai daerah. Semua Kepala Daerah agar selalu jujur dalam menyampaikan data.

Pemprov Jateng marasa perlu mengingatkan hal itu, untuk menanggapi data yang menyebut Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi covid terbanyak.

“Surveilans tidak boleh berhenti. Tidak usah takut ketahuan tertinggi atau terendah, yang penting surveilannya dilakukan dengan ketat,” ucap Ganjar.

Menurutnya, apabila surveilans tetap dilakukan dengan baik maka kondisi riilnya dapat diketahui lebih cepat. Itu akan berpengaruh pada ketepatan dan kecepatan upaya penanganan, serta antisipasi juga bisa segera diambil. Kalau itu bisa dilakukan, maka akan diketahui kondisi riil yang ada, dan itu menjadi warning agar kita tahu dan bisa memberikan treatment yang baik.

Soal data, juga harus diinformasikan kepada masyarakat secara jujur. Yang penting jangan sampai ada data yang disembunyikan, mau tertinggi atau terendah, datanya harus riil dan berintegritas. Hal ini juga sejalan dengan penerapan persyaratan yang harus dipenuhi sekolah di Jawa Tengah sebelum melaksanakan PTM. Sehingga, keamanan dan kesehatan siswa, guru maupun orang tua dapat terjamin.

Untuk mencegah meluasnya persebaran Covid-19 anak tadi, Pemprov Jawa Tengah juga telah meminta seluruh Bupati dan Wali Kota melakukan percepatan vaksinasi bagi remaja usia SMP/SMA/SMK/MA sederajat. Ini untuk merespon evaluasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di Jawa Tengah yang telah berjalan.

Seluruh Bupati/Wali Kota di Jateng bisa melakukan pantauan ketat terhadap pelaksanaan PTM terbatas pada jenjang SD, TK dan PAUD. Caranya, dengan melakukan penyempurnaan sistem tatap muka. Bilamana perlu, Bupat/Wali Kota menggandeng para ahli.

“Yang saya minta kepada mereka adalah, mengawasi sekolah yang sudah PTM terbatas. Satu minta bantuan Kabupaten/Kota untuk mengawasi SD, TK dan PAUD, karena mereka belum bisa divaksin. Yang kedua untuk level SMP/SMA/SMK/MA sederajat, kita minta untuk dilakukan percepatan vaksinasi,” ujar Ganjar.

Menurutnya, Jawa Tengah telah mendapatkan alokasi vaksin dari pemerintah pusat, sebanyak 2.600.000 dosis, yang diberikan dalam kurun waktu satu minggu. Karenanya, ia meminta pemerintah di daerah, bekerja dengan cepat dan tepat untuk menghabiskan dosis yang telah diberikan.

Vaksinator harus disiplin dalam melaporkan data vaksinasi melalui aplikasi yang telah tersedia. Hal itu, dimaksudkan untuk mengetahui jumlah stok yang terpakai dan percepatan penyuntikan vaksin yang telah dilakukan.

Pihaknya berharap semua Bupati dan Wali Kota, bisa menambah titik-titik vaksinasi. Biar akses rakyat lebih dekat. Vaksinatornya juga ditambah. Dukungan dari TNI/Polri, bisa dijoinkan untuk bersama-sama melakukan vaksinasi. Juga bisa melibatkan kelompok masyarakat untuk melakukan percepatan.

Di sisi lain, untuk mencegah agar tidak lagi muncul klaster Pembelajaran Tatap Muka (PTM), maka setiap sekolah di Jateng saat ini diwajibkan membentuk Satgas Covid-19. Satgas ini bertugas mengawasi penerapan prokes dalam penyelenggaraan PTM. Selain itu juga bertugas mengingatkan supaya tidak terjadi pelanggaran.

Apabila dalam kegiatan PTM didapati ada yang positif, PTM memang harus dihentikan sementara, lakukan pelacakan, dan tetap waspadai potensi penyebaran dari non-PTM di sektor pendidikan.

Dengan demikian, Satgas Covid di sekolah harus melakukan patroli setiap hari dan memastikan protokol kesehatan berjalan baik mulai anak-anak masuk ke sekolah, proses belajar mengajar sampai pulang. Kalau ada yang melanggar, langsung ditegur. Dicek nama, anaknya siapa. Kasih peringatan pertama. Kalau besok melanggar lagi, yang bersangkutan tidak boleh sekolah.

Testing secara berkala juga harus dilakukan. Karena itu, pihak sekolah diperintahkan bekerja sama dengan Dinkes atau Satgas Covid di daerahnya untuk melakukan random tes secara berkala.

Selain itu, Ganjar menginstruksikan, seluruh sekolah yang menyiapkan pembelajaran tatap muka (PTM) harus menyertakan testing. Semua dilakukan untuk mengantisipasi adanya siswa terpapar Covid-19 pada saat mengikuti PTM di sekolah. “Sekarang kita minta untuk yang persiapan PTM, harus disiapkan testingnya. Kalau perlu sekali-kali dirandom test,” katanya.

Ditegaskan, sekolah yang memang belum siap menyelenggarakan PTM harus jujur. Bila memang belum siap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap mendampingi sampai sekolah benar-benar siap. Jadi sekolah yang belum siap, tidak usah mengaku siap. Kalau belum siap Pemprov akan melakukan pendampingan sampai benar-benar siap.

Vaksinasi Masih Rendah

Terkait antisipasi kemungkinan bakal munculnya pemaparan virus gelombang ketiga, Pemprov Jawa Tengah saat ini khusus menyoroti sejumlah daerah yang cakupan vaksinasinya masih rendah. Daerah dengan vaksinasi rendah itu adalah Cilacap, Brebes, Magelang, Banjarnegara, dan Purbalingga.

“Brebes, Cilacap, Magelang, Banjarnegara dan Purbalingga, tolong vaksinnya dipercepat. Pokoknya begitu dapat besok langsung dihabiskan,” tegas Ganjar.

Sesuai data yang diterimanya, cakupan vaksinasi di beberapa daerah masih kurang. Misalnya di Cilacap, untuk vaksinasi dosis pertama baru 20,19% dan dosis keduanya hanya 11,50%. Kemudian Brebes, vaksin dosis pertamanya mencapai 20,50% namun vaksinasi dosis kedua baru mencapai 9,26% saja.

Ganjar juga mengingatkan, agar Pemda disiplin dalam menginput di aplikasi. “Tugas anda menghabiskan dosis vaksin, biar kita yang meminta ke Kemenkes juga percaya diri, dan ternyata memang kita bisa habiskan itu,” katanya.

Menurutnya, percepatan vaksin saat ini terus dilakukan. Bahkan, di Jawa Tengah sekarang sudah bisa memvaksin sebanyak 1,6 juta setiap pekan. Pihaknya kini terus memohon kepada pusat agar bisa diberi 2,5 juta setiap pekan, dan ternyata Pemkab/Pemkot relatif siap.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo, mengaku Pemprov Jateng masih terus melakukan percepatan vaksinasi. Saat ini, jumlah orang yang telah divaksin total mencapai 8,7 juta orang. Angka tesebut akan terus digenjot setiap pekannya. “Kalau jumlah orangnya 8,7 juta orang. Persentasenya 30 persen lebih,” tuturnya.

Dengan jumlah itu, menurut Yuli, pihaknya akan terus melakukan percepatan. Adapun jika dilihat dari pekan ke pekan, terjadi peningkatan vaksinasi yang cukup siginifikan. “Di pekan terakhir kemarin, dalam sepekan sudah bisa memvaksin sekitar 1,2 juta orang. Tentunya ini, faktornya antara lain kemampuan teman-teman di lapangan meningkat, tetapi juga ketersediaan vaksinnya meningkat,” tambahnya.

Dinkes berharap, ketersediaan vaksin di Jateng bisa sesuai dengan yang mereka minta yakni 2,5 juta per pekan. Meski demikian, pihaknya bersyukur sepekan ini persediaan vaksin sudah ada 1,2 juta. Jumlah itu meningkat cukup signifikan setiap pekan.

“Harapan kita memang inilah percepatan. Percepatan itu tidak hanya kemampuan menyuntikkan tapi juga ketersediaan vaksin yang ada,” imbuhnya.

Pihaknya juga telah melakukan peluncuran mobil pelayanan vaksinasi keliling atau bus vaksin. Tujuannya adalah untuk meningkatkan akses kelompok rentan yang saat ini terbatas, untuk bisa divaksin. Kelompok rentan itu didahulukan. Seperti, lansia, pra lansia, berpenyakit hipertensi, diabetes, ibu hamil, dan disabilitas.

Yulianto Prabowo menambahkan, dari 2,6 juta dosis vaksin yang diberikan pusat, sekitar dua juta vaksin telah tersuntik, dalam sepekan. Karena itu, pihaknya meminta agar percepatan bisa dilakukan, agar bisa mencapai target suntikan sekitar 2,5 juta dosis vaksin per pekan.

“Khususnya di wilayah yang capaiannya rendah harus ada upaya lebih banyak lagi. Paling rendah Cilacap. Lalu juga daerah aglomerasi Solo Raya (Surakarta, Klaten, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, Wonogiri, Sragen) dan Semarang Raya (Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Demak, Kendal) jumlahnya 11 daerah,” paparnya.

Yulianto menyebut, untuk daerah aglomerasi tersebut target vaksinasi harus sampai 70 persen, dalam bulan ini. Adapun, untuk capaian vaksinasi di seluruh Jawa Tengah, jumlahnya kini sekitar 40 persen. Khusus Kota Semarang dan Kota Surakarta tingkat vaksinasi kini telah mencapai hampir 100 persen.

“Percepatan tidak bisa andalkan sentra vaksinasi saja. Perlu ada tim vaksinator yang bergerak di desa untuk mempercepat. Kalau ada tim vaksinator desa kan bisa bergerak bersama untuk mempercepat sasaran,” pungkas Yulianto.

Sementara itu Pj Sekda Jateng Prasetyo Aribowo, menegaskan Pemprov Jawa Tengah sama sekali tidak akan menurunkan target tracing dan testing, meskipun angka kasus di provinsi ini terus mengalami penurunan. Rasio testing dan tracing di Jateng justru harus semakin digenjot. Sampai pekan ke-36, rasio testing di Jateng mencapai 217,58 persen.

“Jumlah ini meningkat dari pekan ke-35 yang hanya 147,77 persen. Kalau dilihat dari testing harian, testing kita mencapai 258,90 persen dalam sehari,” katanya.

Beberapa daerah di Jateng, lanjut Prasestyo, sudah mencapai rasio testing lebih dari 100 persen. Hanya tujuh Kabupaten/Kota yang rasio testingnya masih diantara 50-100 persen. “Tapi tidak ada daerah yang rasio testingnya di bawah 50 persen,” jelasnya.

Untuk tracing, 6 Kabupaten/Kota yakni Kudus, Jepara, Batang, Rembang, Klaten dan Temanggung sudah memenuhi rasio tracing, yakni 15 orang per satu kasus positif. Sedang sisanya, masih belum mencapai rasio. “Untuk itu kami minta tracing ditingkatkan agar sesuai rasio yang ditentukan,” jelasnya.

Disinggung soal kondisi Covid-19 di Jateng, Prasetyo menjelaskan bahwa angka penambahan kasus sejak 12 September 2021 hanya 168 kasus. Hal ini sejalan dengan tren positivity rate di Jateng yang juga terus menurun, dari 9,65 persen di pekan ke-35 menjadi 6,01 persen di pekan ke-36.***

 

Tinggalkan Komentar