Home Lapsus Penanganan Covid-19 di Indonesia Terus Membaik, Tapi Jangan Gegabah Lakukan PTM Terbatas

Penanganan Covid-19 di Indonesia Terus Membaik, Tapi Jangan Gegabah Lakukan PTM Terbatas

oleh Dwipraya

Sejumlah murid antre menjaga jarak memasuki ruang kelasnya saat mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di SDN Lenteng Agung 07, Jakarta, Senin (27/9/2021). (Antaranews.com)

FAKTUAL-INDONESIA: Indonesia telah berhasil menekan kasus penularan  Covid-19. Seiring dengan itu  masyarakat juga semakin leluasa melakukan aktivitasnya, tentu dengan mengikuti ketentuan yang ditetapkan pemerintah seperti aturan protokol kesehatan (prokes) agar tidak terjadi lagi lonjakan  kasus virus mematikan itu.

Salah satu aktivitas yang kini sudah mulai berjalan adalah Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas yang dilaksanakan diberbagai wilayah Tanah Air.

Harus diakui, kewaspadaan tinggi harus dilakukan berbagai pihak terkait PTM terbatas itu agar sekolah tidak menjadi cluster baru penularan Covid-19.

Di Kota Tangerang, Provinsi Banten misalnya, data pada minggu pertama bulan Oktober 2021, diketahui ada ada 69 ‘warga sekolah’ terkonfirmasi positif dari 35 sekolah. Di antaranya dua guru, satu petugas TU dan 66 siswa.

“Semua ditemukan dalam kondisi tidak bergejala, dengan rata-rata CT-valuenya di atas 35, artinya potensi penularannya sangat rendah,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr Dini Anggraeni  dalam keterangan di Tangerang, Kamis (7/10/2021).

Ia mengatakan Dinkes hingga tanggal 2 Oktober 2021 telah melakukan tes usap PCR kepada 53 sekolah tingkat SMP yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) dalam kelompok tahap satu dan dua.

Dari 2.683 sampel yang diperoleh, kata dia, ditemukan 42 kasus baru terkonfirmasi positif COVID-19 yang berasal dari 20 sekolah. Sebelumnya, Pemkot melakukan tes usap dan menemukan 27 kasus terkonfirmasi COVID-19 dari 15 sekolah.

Namun dirinya menegaskan jika temuan hasil ini bukan dikatakan dalam klaster PTM sebab siswa yang terkonfirmasi hanya satu orang dalam satu kelas maupun dalam satu sekolah.

“Bahkan, hasil ‘tracing’ kontak erat hingga 2 Oktober hanya ditemukan lima kasus. Tiga merupakan kontak erat keluarga dan dua kontak erat sekolah. Namun, itu semua dari alur tracing atau kontak erat yang berbeda-beda, tidak dalam satu jaringan kontak erat,” katanya.

Terkait hasil tracing siswa yang positif, kata dia, diketahui berasal dari paparan di luar sekolah seperti bepergian ke luar kota, ke pusat belanja hingga adanya interaksi sosial di luar sekolah.

“Maka, sekali lagi ini bukan klaster PTM terbatas. Dukungan orang tua sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan pelaksanaan PTM terbatas. Untuk menjaga prokes di rumah dan lingkungan sekitar,” kata Dini Anggraeni.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Jamaluddin mengatakan PTM untuk tingkat SMP telah dilaksanakan secara bertahap.

Untuk tahap pertama diterapkan kepada 40 sekolah SMP lalu dilanjutkan tahap kedua untuk 60 sekolah dan tahap ketiga yakni 48 SMP.

Masa-masa Relaksasi Dulu

Sikap hati-hati  mencegah terjadinya cluster PTM Terbatas membuat program ini tidak maksimal seperti diharapkan pemerintah, seperti terjadi di Provinsi Bali.

Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mendorong sekolah di Bali dapat melakukan PTM terbatas.

“Saya ingin sekali melihat adanya akselerasi bahwa tatap muka terbatas ini terjadi. Saya baru saja dari NTB dimana hampir 100 persen dari semua sekolahnya sudah melaksanakan tatap muka terbatas dan itu belum terjadi di Bali,” ujar Mendikbudristek Nadiem saat mengunjungi Politeknik Negeri Bali, Kabupaten Badung, Kamis (7/10/2021).

Ia mengatakan, pihaknya mendorong PTM terbatas dapat dilaksanakan di Bali salah satunya karena mengingat capaian vaksinasi COVID-19 di wilayah Bali tercatat sangat tinggi termasuk bagi para tenaga pendidik di sekolah

“Oleh karena itu kami sangat mengharapkan  pelaksanaan PTM terbatas ini terakselerasi di Bali karena kasihan sekali terutama anak-anak SD kita, anak-anak PAUD yang selama ini mengalami begitu banyak ketinggalan dalam pembelajaran, saya tidak menginginkan itu berdampak permanen. Saya ingin sekali hal itu menjadi urgensi dari semua instansi pemerintahan,” katanya.

Dalam kunjungan kerjanya ke Bali, Nadiem Makarim juga mengunjungi SMP Negeri 1 Kuta Selatan untuk memantau pelaksanaan PTM terbatas serta meninjau pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).

Ia menjelaskan, secara nasional, persentase sekolah di Indonesia yang telah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka baru mencapai sekitar 45-50 persen.

“Itu bukan angka yang baik, kita masih ada 50 persen lagi yang belum melaksanakan PTM terbatas dan itu adalah angka yang harus kita kejar bersama. Kita harus bisa berani menerapkan protokol kesehatan yang ketat karena hampir semua sudah di level 1 sampai level 3 artinya sekolah sudah boleh menggelar PTM,” ungkap Mendikbudristek.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali Boy Jayawibawa menjelaskan hingga saat ini sekolah di wilayah Provinsi Bali yang telah menyelenggarakan PTM terbatas tercatat sebesar 60 persen.

Dalam pelaksanaannya, pihaknya juga meminta sekolah untuk tidak gegabah dan tidak cepat-cepat menyelenggarakan PTM terbatas apabila memang belum siap khususnya dalam penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19 di sekolah.

“Kami juga terus melaksanakan monitoring dan semuanya berjalan sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. Artinya ini masa-masa relaksasi dulu seorang siswa di sekolah maksimal dua jam, kantin harus tutup dan setelah selesai juga langsung kembali lagi ke rumah masing-masing. Mudah-mudahan ini semua berjalan lancar sesuai harapan,” ujarnya.

Risiko Lonjakan Kasus Masih Ada

Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI)  Iwan Ariawan mengatakan penanganan COVID-19 di Indonesia terus membaik.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (10/10/2021), Iwan mengatakan tercatat ada 15 provinsi yang nihil kasus kematian per Sabtu 9 Oktober 2021. Provinsi itu adalah Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Selain itu, penambahan kasus positif COVID-19 beberapa waktu terakhir berkisar di angka seribu-an kasus. Per Sabtu 9 Oktober 2021 kasus positif COVID-19 di Indonesia bertambah 1.167.

Sedangkan per Jumat 8 Oktober 2021, kasus positif COVID-19 bertambah 1.384 pasien. Kondisi tersebut pun dinilai membuktikan penanganan COVID-19 di Indonesia sudah baik.

“Kematian nol berarti kasus baru COVID-19 di populasi sudah rendah dan penanganan kasus sudah baik. Saat ini secara umum dapat dikatakan wabah COVID-19 di Indonesia sudah terkendali,” tutur Iwan.

Namun menurut dia, kenaikan kasus COVID-19 di beberapa negara Asia dapat berdampak pada risiko kenaikan kasus di Tanah Air, jika Indonesia tidak menjaga ketat perbatasan internasional. Dia menilai Indonesia perlu melakukan itu, agar tidak ada kasus COVID-19 dari negara lain yang masuk ke Tanah Air.

“Meskipun wabah COVID-19 di Indonesia sudah terkendali, dimana kurang lebih satu bulan kasus dapat dipertahankan terus rendah, tetapi risiko lonjakan kasus masih ada jika kita tidak berhati-hati,” ucap dia.

Ia mengingatkan bahwa terkendalinya wabah COVID-19 saat ini, akibat pengendalian mobilitas dan aktivitas penduduk, penerapan protokol kesehatan, peningkatan pelacakan kasus dan kontak erat serta vaksinasi. (dari berbagai sumber) ***

You may also like

Tinggalkan Komentar