Connect with us

Lapsus

Pariwisata Indonesia, Memang Situasinya Membaik, Tetapi Belum Normal Seperti Sedia Kala

Avatar

Diterbitkan

pada

Pulau Bali masih jadi unggulan pariwisata Indonesia. (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Pulau Bali merupakan andalan pariwisata Indonesia untuk menjaring wisatawan mancanegara. Namun adanya pandemi Covid-19 membuat pariwisata Bali jadi terpukul.

Meski pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengangkat pariwisata Bali,  namun masih perlu waktu panjang nampaknya buat Bali kembali seperti dulu, sebelum pandemi merebak.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Made Mangku Pastika mengajak tokoh dan pelaku pariwisata di Bali untuk tetap optimistis menghadapi pandemi Covid-19 dan sekaligus terus berupaya mencari solusi untuk bisa segera bangkit kembali.

“Kita tidak boleh bermimpi terus dan jangan lagi menyalahkan kesana kemari, percuma itu,” kata Pastika saat berbincang dengan tokoh pariwisata Bali, di Denpasar, Rabu (29/12/2021) lalu.

Menurut dia, masyarakat Bali yang sudah telanjur menggantungkan pada pariwisata, tidak akan mudah pula jika diminta beralih ke sektor lain.

Advertisement

“Jika tetap pada pariwisata, arah besarnya pariwisata seperti apa yang disepakati, sehingga kita bisa segera menyiapkan,” ucap mantan Gubernur Bali dua periode itu..

Pastika mengatakan, dengan ataupun tanpa bantuan pemerintah, pelaku pariwisata di Bali harus berupaya mencari cara yang harus dilakukan dalam jangka pendek maupun jangka menengah dalam mengatasi berbagai persoalan kepariwisataan yang ada.

Pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan anjloknya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali, tak saja berdampak menimbulkan kerusakan berbagai akomodasi pariwisata karena kendala biaya perawatan, juga mengakibatkan SDM pariwisata yang andal kehilangan mata pencaharian.

Anggota Komite 2 DPD itu pun memberikan masukan agar pelaku pariwisata di Bali juga bisa mencari peluang tak hanya di daerah sendiri, tetapi juga melirik peluang dari luar Bali.

“Pemerintah pusat pun sangat berkepentingan agar pariwisata Bali bisa bangkit dengan berbagai kebijakan dan program yang berpihak pada Bali,” ujar Pastika.

Advertisement

Sementara itu, sejumlah tokoh pariwisata Bali yang hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan usulan, saran, maupun sejumlah persoalan di tengah upaya untuk membangkitkan pariwisata Bali.

Seperti yang disampaikan I Nyoman Kertya, sesepuh Himpunan Pramuwisata Indonesia Bali. Meskipun “open border” telah dibuka, namun wisatawan mancanegara masih kesulitan untuk berkunjung ke Bali karena ruwetnya untuk mendapatkan visa dan terbatasnya akses penerbangan langsung.

“Demikian pula ketika bicara arah pariwisata Bali yang berkualitas, bagaimana pula dengan akomodasi wisata yang sudah sedemikian banyaknya dibangun di Bali?” ucapnya pada acara yang dihadiri oleh lebih dari 20 tokoh pariwisata Bali itu

Agus Maha Usadha, Ketua Nawa Cita Pariwisata Indonesia Bali mengatakan sudah saatnya kita harus berani mengkaji pariwisata ke depan sesuai dengan potensi yang dimiliki Bali dan dicari solusi jangka pendek maupun menengahnya.

“Persoalan berat yang dihadapi pelaku pariwisata saat ini terkait beban operasional dan tanggung jawab terhadap nasib para karyawan,” ucapnya.

Advertisement

Akademisi dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Dr Nyoman Sunarta mengatakan Bali seharusnya bisa menangkap peluang dari pelaksanaan Presidensi G20 pada 2022 dan jangan sampai justru yang ditampilkan Bali kontraproduktif dengan agenda yang dibahas.

Berbagai masukan dan usulan juga disampaikan oleh tokoh lainnya diantaranya Jro Gede Witama (CEO Aman Group), Eddy Sunyoto (tokoh senior pariwisata), Anak Agung Yuniartha (mantan Kadispar Bali) dan Putu Suasta (pengamat sosial).

Wisatawan Domestik

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad memperkirakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada tahun 2022 masih rendah karena dunia masih menghadapi situasi pandemi.

Menurutnya, sektor pariwisata di Indonesia masih didominasi oleh wisatawan domestik dibandingkan dengan wisatawan internasional secara umum.

Advertisement

“Untuk turis internasional di 2022 tampaknya belum bisa berharap banyak karena situasi pandemi masih terjadi dan banyak lembaga sudah memperkirakan bahwa memang situasinya membaik, tetapi belum normal seperti sedia kala,” ujar Tauhid dalam webinar nasional, Jumat. (10/12/2021).

Kekhawatiran terjadinya gelombang ketiga ditambah dengan adanya varian Omicron COVID-19, kata Tauhid, menjadi variabel yang perlu diperhitungkan dalam membaca perkiraan pertumbuhan industri pariwisata pada 2022. Ia juga menekankan agar Indonesia perlu mewaspadai dan mengantisipasi kondisi terburuk tersebut dengan tetap menjaga pintu masuk utama dari arus internasional.

“Untuk 2022 ke depan, saya kira perlu ada antisipasi gelombang ketiga. Pintu utama masuk ini jangan sampai jebol. Setelah kita belajar dua kali menghadapi gelombang COVID-19, itu biasanya lag-nya sebulan,” tuturnya.

Apabila tidak ada pandemi, Tauhid memperkirakan pertumbuhan normal jumlah wisatawan mancanegara berada di kisaran angka 14 hingga 15 juta orang per bulan. Namun karena dunia masih menghadapi pandemi, jumlah tersebut akan jauh lebih rendah.

“Kalau kami lihat perkiraannya, ada situasi Omicron dan gelombang keempat mulai terjadi di banyak negara, maka memang jumlah wisatawan internasional tidak akan bergeser. Masih sekitar 140 hingga 150 ribu per bulan,” katanya.

Advertisement

Sementara apabila situasi pandemi mulai membaik dan sebagian negara terdekat mulai membuka pintu keluar-masuk, seperti China, Malaysia, dan Singapura, maka Indonesia memiliki peluang pertumbuhan pariwisata pada level moderat.

Tapi memang agak berat untuk optimis kalau misalnya memang varian Omicron tidak ada dan hambatan untuk katakanlah restriksi itu dari sisi penerbangan itu tidak terjadi dan dari sisi ini

“Saya melihat memang di 2022 sekalipun ada skenario optimis dengan berbagai variabel, itu sangat sulit terjadi jika kita berada  pada level normal jumlah wisatawan mancanegara meskipun situasi sudah mulai pulih, itu belum akan terjadi sampai 2022 melihat beberapa variabel yang saya kira cukup kritis,” kata Tauhid.

Sementara untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2022, Indef memperkirakan kenaikan dalam level moderat sekitar 5 persen dengan mempertimbangkan sisi fiskal maupun kondisi faktor pendorong lainnya.

Menurutnya, pada tahun depan beberapa sektor di industri pariwisata akan tetap berdampak dengan mempertimbangkan peluang gelombang ketiga, seperti sektor transportasi dan pergudangan serta sektor akomodasi makan dan minum.

Advertisement

Pada skenario biasa, sektor transportasi dan pergudangan diprediksi tumbuh sekitar 5,5 persen. Sedangkan apabila situasi pandemi dapat diatasi dengan baik dan mulai kembali normal, maka diperkirakan dapat tumbuh di atas 6,2 hingga 6,6 persen.

Sementara sektor akomodasi makan dan minum diproyeksi tumbuh sekitar 4,9 persen pada skenario biasa dan 5,6 hingga 5,9 persen pada skenario moderat hingga optimis. (dari berbagai sumber) ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement