Home Lapsus Mensos: Korban Bencana Jangan Sampai Kelaparan

Mensos: Korban Bencana Jangan Sampai Kelaparan

oleh Bambang

Menteri Sosial Tri Rismaharini. (ist)

FAKTUAL-INDONESIA: Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mewanti-wanti jajarannya untuk siap kerja keras di ‘musim’ bencana yang tengah melanda Indonesia belakangan karena dirinya ingin korban bencana tidak boleh kelaparan.

Risma juga menegaskan jika penyaluran bantuan di masa bencana tidak ada keharusan diserahkan kepada pihak tertentu, misalnya kepada kepala daerah. Sebab ia lebih memilih untuk menyerahkan bantuan bencana kepada masyarakat melalui pihak yang paling memungkinkan dan siap menerima bantuan, demi tujuan agar korban bencana tidak kelaparan.

“Bantuan bencana bisa lewat siapa saja,” kata Risma. “Bisa Kapolres, bisa Dandim, bisa dapur umum. Siapa saja. Yang penting tanda terimanya jelas. Di Subang, aku kasih Kapolsek karena dia bikin dapur umum,” ucap Risma dalam satu kesempatan ketika menyerahkan bantuan.

Ditegaskan Risma, kecepatan distribusi bantuan logistik bencana sampai kepada penyintas bencana penting sebagai prioritasnya. Ini karena kondisi bencana membuat para penyintas mengalami segala keterbatasan, khususnya kebutuhan terhadap bantuan logistik, dan itu seminimal mungkin harus bisa diringankan oleh jajarannya.

Mensos Risma akui tidak akan pilih-pilih siapa yang harus menerima bantuan bencana dari Kemensos. Hal ini didasari pertimbangan agar masyarakat penyintas bencana segera dapat tercukupi kebutuhan dasarnya. “Bagi aku nggak masalah. Yang penting warga ngga kelaparan,” tegas Risma.

Risma memperlihatkan tekadnya itu di beberapa bencana yang terjadi. Ia menyalurkan bantuan kepada pengungsi di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Kabupaten Alor. Dalam beberapa kesempatan, dirinya menjelaskan untuk bisa menjangkau daerah bencana di Alor yang terdampak parah karena Siklon Seroja, butuh perjuangan keras. Ia sangat memahami kebutuhan masyarakat Alor terhadap bantuan logistik dari pemerintah. Ia dan jajarannya kerja keras memastikan bantuan untuk korban bencana diterima masyarakat di Alor selekas mungkin.

Risma menyatakan, kedatangannya di Alor yang belum tiga hari pascabencana, sudah disambut reaksi emosional masyarakat.
“Nah ini di Alor kan sudah lebih dari tiga hari. Tapi memang kapal saya tidak bisa merapat,” cerita Risma. “Karena kalau dari Jakarta akan lebih lama,” jelasnya.

Dengan pertimbangan tersebut, kala itu Risma memutuskan menerbangkan bantuan dari Surabaya. Ia mengatakan, tiba di lokasi bencana, persoalan tidak semudah yang dibayangkan karena dampak Siklon Seroja belum sepenuhnya pulih sehingga otoritas syahbandar belum mengizinkan adanya aktivitas pelayaran.

Berdasarkan kronologi tersebut, Risma kemudian menyambut positif bantuan dari perwakilan DPRD Kabupaten Alor yang membantu mendistribusikan bantuan kepada penyintas bencana di daerah tersebut.

Akui Kadang Terlambat

Walau bertekad untuk datangkan bantuan lebih cepat kepada penyintas bencana alam, Risma akui, penyaluran bantuan itu tak jarang terlambat akibat cuaca yang tak bersahabat kala bantuan didatangkan.

“Saya tuh terhambat karena cuaca, jadi kemarin kan kita bawa barang turunnya di Maumere. Di sana jalan darat ke Larantuka
kemudian menyeberang ke Adonara. Nah ini sempat kita nggak bisa nyeberang karena memang cuaca tidak bagus,”sebut Risma.

Menurut Risma, bantuan datang terlambat dikarenakan beberapa faktor, di antaranya karena cuaca. Tapi ia dan jajaran selalu bertekad untuk menyampaikan bantuan tepat waktu atau bahkan lebih cepat.

“Kalau penyediaan barang sangat mudah sekali sebetulnya, cuma tarnsport-nya sulit. Kita kesulitan membawa barang ke sana,” aku Risma.

Risma mencontohkan ketika bencana terjadi di Adonara. Di sana tak ada landasan yang bisa dipakai untuk bongkar bantuan di pesawat. Untuk itu pihaknya terpaksa mengangkut barang dengan jalur darat.

“Saya jelaskan (ke pengungsi) kami bukan tidak mau, tapi nggak bisa kami ke sini,” ucap Risma kala itu. “Sebetulnya saya dari Bima langsung ke Adonara tapi nggak boleh terbang karena cuacanya memang tidak bagus,” imbuhnya.

Risma secara perlahan menjelaskan ke warga korban tentang kesulitan yang sering dihadapi. Sampai para penyintas bencana dapat mengerti dan paham jika bantuan yang dibawanya kadang tidak cepat datang untuk mengingankan kesulitan yang sedang dihadapi.**