Home Lapsus Beragam Cara Sudah Dilakukan, Mungkinkah Terjadi Covid-19 Gelombang Ke-3

Beragam Cara Sudah Dilakukan, Mungkinkah Terjadi Covid-19 Gelombang Ke-3

oleh Akbar Surya

Sebuah keluarga asal Gunungkidul yang memanfaatkan momen pembukaan kembali KBS.

FAKTUAL-INDONESIA: Lonjakan aktivitas pasca penurunan kasus Covid-19 mulai terasa hampir di berbagai daerah. Semua akses menuju obyek wisata mulai dijejali kendaraan. Kawasan industri di Surabaya dan Sidoarjo juga dipenuhi truk-truk tronton dan kontainer besar. Pemandangan yang jauh berbeda dibanding situasi saat pandemi Covid-19 menerjang habis-habisan, beberapa waktu lalu.

Seorang warga Keputih Surabaya, Hari Triyono (48) mengaku tak mungkin bisa melupakan situasi ketika hampir setiap hari wilayahnya dilintasi ambulan pengangkut jenazah menuju komplek makam khusus jenazah Covid-19 Keputih. “Bunyi ambulan pengangkut jenazah waktu itu, mengiang susul menyusul sepanjang hari,” ujarnya, Minggu (3/10/2021).

Tapi kini situasinya sudah jauh berbeda. Rasa khawatir bakal ikut tertular virus asal Wuhan itu, perlahan sudah semakin mengikis. Sales makanan ringan yang di masa sebelum pandemi kerap mengeluhkan kemacetan sepanjang jalan itu, kini justru senang melihat banyak truk sarat bermuatan hilir mudik di jalanan.

Perasaan lega melihat situasi yang berangsur normal itu merupakan gambaran suasana hati warga yang lain. Para pemangku kebijakan yang khawatir bakal terjadi pandemi gelombang ke-3, sudah melakukan beragam antisipasi untuk merespon euforia warganya. Salah satunya yang dilakukan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang memaksakan diri memantau langsung persiapan pembukaan kembali Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang sudah lama tanpa pengunjung.

KBS yang jadi ikon kota Surabaya ini memang menjadi ajang jujugan utama bagi warga Jatim yang haus berwisata. Eri Cahyadi memastikan, pembukaan kembali KBS mulai Minggu (3/10/2021) ini sudah melalui proses asesmen Satgas Covid-19 Surabaya bersama kementerian terkait dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). “Insyaallah ini semuanya sudah siap, tidak ada kesempatan untuk bersentuhan karena semuanya pakai aplikasi dan juga pakai PeduliLindungi,” ujarnya.

Untuk mencegah munculnya kasus baru, pengunjung KBS tetap dibatasi 25% dari total kapasitas 8.000 pengunjung. Eri sudah mewanti-wanti Satgas Covid-19 di KBS untuk selalu berkeliling dengan sepeda. Mereka wajib mengingatkan protokol kesehatan kepada para pengunjung yang melakukan pelanggaran, seperti melepas masker atau berkerumun.

Para pengunjung yang boleh masuk ke KBS juga harus sudah divaksin dan terdata di aplikasi PeduliLindungi. Bagi yang belum vaksin, pemkot sudah menyiapkan 1.000 dosis vaksin di KBS, baik untuk mereka yang ber-KTP Surabaya maupun luar Surabaya. “Semua satwa di KBS juga sudah dicek kesehatannya,” ujar Dirut Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS Chairul Anwar.

    Waspada Gelombang Ke-3

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, Dwi Cahyono, mengakui penerapan level dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), memberikan pengaruh cukup besar terhadap okupansi hotel. Pihaknya berharap kasus positif Covid-19 masih bisa terus melandai, dan tidak ada lonjakan seperti yang terjadi di negara-negara lain. “Ini menjadi fase recovery. Jadi sudah melandai, terus membaik, kita berharapnya seperti itu,” ujarnya.

Pihaknya berharap di Indonesia jangan sampai muncul Covid-19 gelombang ke-3 seperti yang terjadi di negara lain seperti Amerika. Dia sudah meminta seluruh pelaku usaha hotel dan restoran termasuk pemerintah, untuk benar-benar mengawasi protokol kesehatan secara ketat.

Data secara nasional hingga 1 Oktober 2021 menyebut, jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bertambah 87 orang yang tersebar di 21 provinsi. Kasus meninggal akibat Covid-19 terbanyak terjadi di Jawa Tengah yang mencapai 15 orang, disusul Jawa Timur sebanyak 11 orang, Aceh 10 orang, Bali 6 orang dan 5 orang masing-masing di DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Barat.

Sementara di Papua, jumlah yang meninggal akibat Covid-19 sebanyak 4 orang, dan 3 orang masing-masing di Sumatera Barat, Lampung dan Kalimantan. Total penambahan kasus meninggal akibat Covid-19 di 10 provinsi tersebut berjumlah 65 orang atau 87% dari total yang dilaporkan pada hari tersebut.

Pemerintah juga melaporkan terdapat penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 1.624 orang. Sebanyak 151 orang terkonfirmasi virus corona di DKI Jakarta. Angka itu merupakan yang terbanyak dibandingkan daerah lainnya. Berikutnya kasus terkonfirmasi terbanyak adalah Jawa Timur sebanyak 124 orang dan Jawa Barat sebanyak 115 orang.

Mengutip data RS Online di Kemenkes per 30 September 2021, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut, ruang ICU Covid-19 pada 110 Rumah sakit rujukan di Jatim sudah berada pada angka 0 (nol) pasien. Artinya, sebanyak 67 persen RS Rujukan di Jatim memiliki nol pasien. “Alhamdulillah, ini patut kita syukuri bersama dan saya sampaikan terima kasih atas kerja keras dan sinergi dari berbagai elemen masyarakat di Jatim,” ujarnya.

Meski angkanya semakin membaik, Gubernur tetap meminta warganya untuk waspada. Kondisi ini harus diikuti dengan disiplin protokol kesehatan (prokes) dan percepatan vaksinasi. Karena hal yang tak terduga bisa saja terjadi di wilayah ini, dan kondisinya masih saja bisa berubah.

Data laman resmi, infocovid19.jatimprov.go.id. pada Sabtu (2/10/2021) bahkan menyebutkan di Kota Surabaya sudah ada tambahan lagi sebanyak 8 kasus Covid-19. Jumlah ini memang relatif menurun dari sebelumnya, hingga membuat Kota Suraya terus turun level. Hal ini membuat Kota Surabaya berubah zona menjadi kuning dan berstatus risiko rendah.

Gubernur Khofifah meminta tetap pakai masker, jaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, hindari kerumunan. Meski perekonomian berangsur membaik, obyek wisata mulai dibuka, tapi warga Jatim tetap tak boleh lengah, dan jangan kendor. Dia mengingatkan soal disiplin memerangi virus Corona. Karena kewaspadaan tetap menjadi kunci memutus mata rantai Covid-19.

Saat ini, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) di Jatim mengalami penurunan 0 pasien. Sebelumnya, BOR Isolasi pada periode 15 Juli – 27 September 2021 menurun dari 81% menjadi 6% atau terjadi penurunan sebesar 75%. BOR ICU menurun dari 78% menjadi 11% atau turunnya sebanyak 67%.

Sementara BOR RS Lapangan juga mengalami penurunan dari 74% menjadi 5% atau turun 69%. Sebanyak 67% RS Rujukan di Jatim memiliki nol pasien. Sementara untuk Isolasi Covid-19 yang sudah mencapai 0 pasien terdapat pada 52 RS Rujukan di Jatim. Termasuk di dalamnya RS Darurat Lapangan Indrapura Surabaya. Artinya ada sebanyak 31% RS Rujukan yang nol pasien.

Menurutnya, perkembangan yang sudah sangat baik ini wajib mendapat dukungan semua pihak. Percepatan vaksinasi menuju herd immunity tetap harus dilakukan. Saat ini, vaksinasi dosis pertama di Jatim baru mencapai 47,503% atau sebanyak 14.967.103 masyarakat Jatim yang sudah divaksin dosis pertama. Sementara untuk masyarakat yang telah mendapat vaksinasi dosis kedua sebanyak 23,69 % atau 7.539.490 warga.

Data Satgas Covid-19 Jatim per 30 September 2021 menyebut, Kota Mojokerto menjadi wilayah dengan cakupan vaksinasi tertinggi. Vaksinasi dosis pertama di Mojokerto telah mencapai 126,98%. Sedangkan dosis kedua mencapai 81,20% dan dosis ketiga ada 67,71%. Wilayah yang menduduki peringkat dua berdasarkan capaian vaksinasi yakni Kota Surabaya. Capaian vaksinasi dosis pertama di Surabaya sebanyak 106,96%. Sedangkan dosis kedua 70,82% dan dosis ketiga 89,12%.

Sedangkan daerah yang capaian vaksinasinya terendah yakni Kabupaten Sumenep. Vaksinasi dosis pertamanya di wilayah itu, baru mencapai 17,18%, sedangkan vaksinasi dosis kedua 7,17%. Pemerintah sudah berusaha, salah satunya dengan menyediakan gerai vaksinasi. Tapi peminatnya masih saja minim.

Sementara di daerah lain, antisipasi lonjakan kasus baru dengan vaksinasi, masih terus saja digenjot. Para petinggi Kabupaten Sidoarjo misalnya, belakangan semakin fokus menggarap para pelajar, pedagang pasar tradisional hingga para penyandang disabilitas. 

Jajaran Polresta Sidoarjo misalnya, berupaya mempercepat pembentukan kekebalan komunal (herd immunity) di lingkungan sekolah, karena pembelajaran tatap muka telah berlangsung. “Harapannya herd immunity di lingkungan sekolah secepatnya terbentuk dan semua sehat baik guru maupun muridnya,” ujar Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro.

Bukah hanya memberikan vaksin, Kapolresta Sidoarjo juga memantau langsung penerapan protokol kesehatan di tengah Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Mulai dari pengecekan suhu tubuh pelajar dan guru saat hadir di sekolah, wajib memakai masker, tersedianya tempat cuci tangan dan hand sanitizer.

Lonjakan aktifitas di pasar tradisional di Sidoarjo belakangan ini, juga direspon dengan mendekatkan kegiatan vaksin di sejumlah pasar. Tim tenaga kesehatan (nakes) Polresta Sidoarjo membawa bus Gerai Vaksin Mobile ke Pasar Larangan, Kecamatan Candi, Sidoarjo.

Beruntung, pendekatan secara humanis dan edukasi yang dilakukan terkait vaksin Covid-19 aman dan halal, banyak berperan dalam peningkatan animo masyarakat untuk divaksin. Dalam sepekan terakhir, mereka sukses menggarap para pengunjung dan pedagang di pasar tradisional besar seperti Pasar Larangan, Pasar Porong dan Pasar Tulangan di Kabupaten Sidoarjo yang meningkatkan capaian vaksinasi dosis pertama di wilayah itu menjadi 57,9 persen.

Tak mau kecolongan, program vaksinasi covid-19 juga menyasar para Anak Berkebutuhan Khusus. Para anak-anak yang divaksin di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo itu juga diberikan paket sembako oleh TP-PKK Kabupaten Sidoarjo. Kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus itu semata-mata untuk memperhatikan kesehatannya dengan memberikan vaksinasi.

Antisipasi Covid-19 helombang ke-3 juga dilakukan dengan melakukan rapid tes antigen secara acak di sekolah-Sekolah Sidoarjo. Pada awal bulan ini, mereka menyasar 100 siswa dari SMA wilayah Kecamatan Krian dan Kecamatan Taman. Hasilnya, tidak ada siswa yang terpapar Covid-19.

Banyaknya siswa yang hasil swab antigennya negatif menandakan bahwa PTM berjalan sesuai dengan ketentuan. Protokol kesehatan dapat dijalankan para siswa. Hal itu perlu terus dijaga dan ditingkatkan. Sehingga ancaman hadirnya bencana pandemi Covid-19 gelombang ke-3, tidak akan terwujud.***

Tinggalkan Komentar