Kesehatan
Kenali Microsleep agar Selalu Waspada saat Berkendara

Foto: Istimewa
FAKTUAL-INDONESIA: Microsleep disinggung dokter sekaligus influencer Tirta Mandira Hudhi yang akrab disapa dr Tirta terkait tragedi jalan tol yang menewaskan Vanessa Angel dan suami.
Dia meminta masyarakat untuk mempelajari microsleep, terutama saat akan berkendara di perjalanan jauh.
“Buat lo yg mau nyetir, pelajari microsleep. Materi ini sudah dijelaskan berkali-kali sejak dulu, oleh senior gue, temen sejawat gue, dan bahkan gue juga ikut jelasin. Makanya dibuat rest area di jalan tol, biar ga kejadian microsleep,” kata dia, dalam akun Instagram pribadinya.
Microsleep sebenarnya sulit diidentifikasi karena seseorang mungkin tertidur saat mata mulai tertutup. Namun, ada beberapa gejala microsleep yang bisa menjadi peringatan.
Gejala microsleep
Orang yang mengalami microsleep mendadak tidak menanggapi sautan/informasi
– Tatapan kosong
– Menundukkan kepala
– Ada sentakan tubuh tiba-tiba
– Tak bisa mengingat kejadian satu atau dua menit terakhir
– Berkedip lambat.
Peringatan gejala microsleep
– Ketidakmampuan untuk menjaga mata tetap terbuka
– Menguap berlebihan
– Tubuh tersentak
– Terus berkedip untuk tetap terjaga.
Penyebab microsleep
Kurang tidur menjadi faktor risiko terjadinya microsleep. Hal ini bisa disebabkan insmonia, hingga tidak mendapatkan kualitas tidur yang cukup sebelumnya. Seseorang juga bisa mengalami microsleep jika memiliki gangguan tidur seperti berikut.
Sleep apnea obstruktif: penyumbatan di saluran napas bagian atas, mengganggu pernapasan saat tidur. Akibatnya, otak tidak menerima oksigen yang cukup selama tidur, yang dapat memicu rasa mengantuk di siang hari.
Narkolepsi: kondisi ini memicu rasa kantuk di siang hari yang ekstrem dan kemungkinan tertidur yang terputus-putus.
Gangguan gerakan tungkai periodik
Gangguan pola sirkadian
Penyebab pasti dari microsleep tidak sepenuhnya dipahami, tetapi diyakini terjadi ketika bagian otak tertidur sementara bagian otak lainnya tetap terjaga.
Dalam sebuah studi 2011, para peneliti membuat tikus lab tetap terjaga untuk waktu yang lama. Mereka memasukkan probe ke dalam neuron yang mempengaruhi korteks motorik mereka saat menggunakan electroencephalogram (EEG) untuk merekam aktivitas listrik otak mereka.
Meskipun hasil EEG menunjukkan bahwa tikus yang kurang tidur benar-benar terjaga, penyelidikan mengungkapkan area tidur lokal. Temuan ini telah membuat para peneliti percaya bahwa manusia mungkin mengalami episode singkat tidur lokal di otak saat tampak terjaga.***