Connect with us

Internasional

Junta Myanmar Eksekusi Mati 4 Aktivitis Demokrasi, Tuai Kecaman Internasional

Avatar

Diterbitkan

pada

Junta Myanmar Eksekusi Mati

Massa memprotes kudeta Myanmar (Foto Ilustrasi: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Junta Myanmar eksekusi mati empat aktivis demokrasi atas tuduhan membantu “aksi teror”. Vonis hukuman mati itu dijatuhkan pada pada Januari lalu dalam persidangan tertutup.

Keempat aktivits dituduh membantu milisi (kelompok Aung San Suu Kyi) memerangi tentara yang merebut kekuasaan dalam kudeta tahun lalu, dan melancarkan tindakan keras berdarah terhadap lawan-lawannya.

Eksekusi yang telah direncanakan itu menuai kecaman internasional. Dua pakar PBB menyebut tindakan itu sebuah “upaya keji untuk menebar ketakutan” di tengah masyarakat.

Menurut surat kabar Global New Light of Myanmar, dua dari keempat aktivis yang dieksekusi itu adalah tokoh demokrasi Kyaw Min Yu, yang lebih dikenal sebagai Jimmy, dan artis hip-hop Phyo Zeya Thaw.

Baca juga: Penguasa Militer Myanmar dan Pemerintah Bayangan Saling Tuduh soal Bom Mematikan

Phyo Zeya Thaw adalah orang dekat Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar yang digulingkan. Keduanya kalah di persidangan banding pada Juni 2022. Sementara dua orang lainnya adalah Hla Myo Aung dan Aung Thura Zaw.

Advertisement

Hukuman terhadap mereka telah dilaksanakan menurut prosedur penjara, kata harian itu tanpa menjelaskan lebih detail. Eksekusi di Myanmar sebelumnya dilakukan dengan hukuman gantung.

Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar (NUG), sebuah pemerintahan bayangan yang dilarang oleh junta militer yang berkuasa, mengutuk eksekusi mati terhadap empat aktivis tersebut.

“Sangat sedih…mengutuk kekejaman junta dengan istilah yang paling keras jika itu yang terjadi,” kata juru bicara kantor presiden NUG Kyaw Zaw kepada Reuters melalui pesan singkat, yang dikutip Senin (25/7/2022).

“Komunitas global harus menghukum kekejaman mereka.”

Menurut surat kabar pemerintah, keempatnya telah didakwa di bawah undang-undang kontra-terorisme dan hukum pidana dan eksekusi dilakukan sesuai dengan prosedur penjara.

Advertisement

Baca juga: Nah, Kepala Junta Militer Myanmar Sebut Oposisi sebagai Teroris dan Bersumbah Memusnahkannya

Sebuah kelompok aktivis, Assistance Association of Political Prisoners (AAPP), mengatakan eksekusi yudisial terakhir Myanmar terjadi pada akhir 1980-an. Seorang juru bicara militer tidak segera menanggapi panggilan telepon untuk dimintai komentar.

Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak kudeta tahun lalu. Konflik meluas di seluruh negara itu setelah tentara melakukan tindakan tegas terhadap aksi-aksi protes secara damai di kota-kota.

AAPP mengatakan lebih dari 2.100 orang telah dibunuh oleh aparat keamanan sejak kudeta. Tapi angka itu menurut junta dilebih-lebihkan.

Seberapa besar kekerasan di Myanmar sulit diperkirakan karena bentrokan telah meluas ke wilayah-wilayah terpencil. Kelompok-kelompok pemberontak dari suku minoritas di wilayah-wilayah itu juga terlibat konflik dengan militer.

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement