Internasional
5 Fakta Tentang Aneksasi Krimea oleh Rusia Pada Tahun 2014

Presiden Rusia, Vladimir Putin saat meneken UU (Foto: BBC)
FAKTUAL-INDONESIA: Presiden Rusia, Vladimir Putin mendeklarasikan operasi militer khusus terhadap Ukraina. Rusia diketahui sudah melakukan serangan yang menghujani kota-kota di Ukraina. Sebelum ini terjadi, ternyata Putin sudah pernah melancarkan melancarkan operasi militer serupa, yakni di Krimea pada 2014. Terkait pencaplokan tersebut, ada sejumlah fakta tentang aneksasi Krimea yang berada di Ukraina.
Aneksasi Krimea oleh Federasi Rusia adalah proses pengambilan dengan paksa wilayah keseluruhan semenanjung Krimea oleh Rusia yang terlaksana muali 21 Maert 2014. Banyak negara yang menentang aneksasi ini.
Tujuan penyerangan Rusia ke semenjung Krimea kemungkinan karena nilai strategis yang menjadi sengketa antara Rusia dan Ukraina. Peristiwa ini banyak mengundang kontroversi di banyak kalangan dunia internasional dan dikecam oleh banyak pemimpin dunia pula, tak terkecuali NATO, yang menganggap hal tersebut sebagai sebuah pencaplokan ilegal wilayah Ukraina.
Baca juga: Invasi Putin Rampok Ukraina: Pertarungan Sengit di Pinggiran Kiev, Rusia Mengepung
Aneksasi ini juga dianggap bertentangan dengan Memorandum Budapes 1994 mengenai kedaulatan dan keutuhan wilayah Ukraina yang telah ditandatangani Rusia. Dari penyerang tersebut, tentu ada beragam fakta tentang aneksasi Krimea.
Berikut beberapa fakta tentang aneksasi Krimea yang telah faktualid.com rangkum dari berbagai sumber.
Daftar isi
1. Rusia hadiahkan Krimea kepada Ukraina
Fakta tentang aneksasi Krimea yang pertama yaitu Krimea diberikan Rusia kepada Ukraina. Sebagai informasi, Krimea telah menjadi bagian dari Rusia selama 200 tahun hingga 1954, kala itu Krimea diberikan kepada Republik Soviet Ukraina oleh Perdana Menteri Rusia saat itu, Nikita Khrushchev.
Hadiah tersebut diberikan dalam rangka 300 tahun keputusan bersejarah oleh Ukraina untuk bersatu dengan Tsar Rusia. Pada saat itu, tidak mungkin untuk meramalkan bahwa Uni Soviet akan runtuh dan terpecah menjadi republik-republik yang terpisah.
Setelah Uni Soviet runtuh, perbatasan harus dirundingkan kembali dan Ukraina akan kembali menjadi negara merdeka.
2. Diawali dengan peristiwa Euromaidan di Ukraina tahun 2013
Sebelum aneksasi terjadi pada tahun 2014, krisis politik di Ukraina sejak November 2013 menjadi awalan terjadinya aneksasi. Krisis tersebut sudah berlangsung setelah mantan Presiden Viktor Yanukovych memutuskan untuk menolak integrasi politik dan ekonomi Ukraina dengan Uni Eropa.
Dilansir dari Vox, keputusan tersebut memicu aksi demonstrasi dari sejumlah masyarakat yang pro terhadap Eropa terjadi di lapangan Maidan Nezalezhnosti di Kota Kiev, yang disebut Euromaidan. Para aktivis terus melayangkan protes dan terus terjadi di ibu kota Ukraina itu hingga Desember 2013 dan menyerukan agar Yanukovych mundur dari jabatannya.
Aksi protes tersebut berlangsung ricuh dan memakan banyak korban dari pihak pendemo maupun aparat. Tidak sampai disitu, fakta tentang aneksasi Krimea ini berlanjut pada Januari 2014, kericuhan ini memakan korban jiwa sebanyak 2 orang pendemo tewas dan membuatnya makin meluas ke bagian timur Ukraina.
3. Mayoritas warga etnis Rusia di Krimea mendukung aneksasi
Fakta tentang Krimea berikutnya yaitu mayoritas etnis Rusia di Krimea mendukung aneksasi. Pada akhirnya, Rusia melancarkan serangan ke Krimea dengan mengirimkan pasukan khusus pada 20 Februari 2014. Tentara Ukraina diketahui tanpa melancarkan perlawanan sedikitpun pada pasukan Rusia.
Baca juga: Rusia Rebut Pembangkit Listrik Nuklir Chernobyl, Ancaman Paling Serius di Eropa Saat Ini
Dikutip dari Carnegie Europe, Warga etnis Rusia yang bermukim dan menjadi mayoritas di Krimea turut mendukung pengembalian wilayah semenanjung Krimea ke daerah teritori Rusia. Pada 16 Maret 2014, Krimea resmi menjadi wiliayah Rusia setelah adanya referendum yang ditolak oleh Amerika Serikat dan negara Barat lainnya.
4. Separatis pro-Rusia menyerang di daerah Donbas
Selain etnis Rusia mendukung aneksasi, fakta tentang aneksasi Krimea lainnya adalah warga pro-Rusia mulai beraksi di wilayah Donbas pada April 2014. Tak hanya di Donbas, wilayah Luhansk juga tak luput dari penyerangan.
Pemicu kemunculan separatis dipicu oleh adanya kecemburuan kepada Krimea yang mendapatkan hak untuk melangsungkan referendum. Selain itu, mayoritas warga Donbas didominasi etnis Rusia tak senang dengan lengsernya Viktor Yanukovych, mantan Presiden Ukrainan kala itu.
Setelah itu, ribuan pasukan militer Rusia dituding masuk ke wilayah konflik untuk melindungi warga etnis Rusia di Ukraina bagian Timur. Namun, Rusia menolak bahwa militernya melewati perbatasan dan berupaya menginvasi Ukraina.
5. Aneksasi Krimea dan konflik Donbas memakan lebih dari 9.900 lebih korban jiwa
Fakta tentang Aneksasi Krimea yang tak kalah menyejutkan adalah memakan hampir 10.000 korban tewas. Tepatnya sebanyak 9.940 orang telah terbunuh dan 23.455 orang terluka akibat aneksasi Krimea dan peperangan di Donbas, berdasarkan data dari PBB.
Jumlah korban termasuk 298 penumpang pesawat MH17 yang diduga tertembak misil yang ditembakkan kelompok pemberontak. Kejadian ini membaut Ukraina harus kehilangan sekitar 43.744 km persegi atau 7,2 persen teritorinya di tiga wilayah tersebut.
Hingga detik ini, Krimea masih berada di bawah administrasi Rusia, sedangkan status wilayah Donbas masih tidak jelas.
Itulah beberapa fakta tentang aneksasi Krimea oleh pihak Rusia. Konfilk kedua negara ini dipicu banyak hal yang membuat adanya gesekan dan hingga akhirnya Rusia benar-benar menginvasi Ukraina.***
Baca juga: Konflik dengan Rusia, Ini 6 Fakta Negara Ukraina yang Unik dan Menarik